17 - KELUARGA

12 4 0
                                        

Mengapa satu menit rasanya lama sekali? Jihyun terus memerhatikan arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Bola matanya mengikuti detakan jarum paling panjang yang menunjukkan detik. Satu putaran lagi untuk menunjukkan pukul dua belas tepat yang berarti waktu makan siang telah tiba.

Jihyun mendecak. "Kenapa kau lama sekali?" gerutunya seperti orang gila sebab memaki arloji yang terasa sangat lambat untuk menggenapkan satu menit lagi menuju jam makan siang.

"Tiga ... dua ...," Jihyun langsung berdiri dan bersiap membuka pintu ruangan Namjoon. Akan tetapi, pandangannya tak lepas dari arloji. "satu."

Gadis itu menghela napas lega sembari mendorong pintu ke dalam.

"Yak, Kim Namjoon!" Jihyun agak terkejut melihat Namjoon yang tepat berada beberapa senti di depan wajahnya. Gadis itu memegangi dadanya yang berdebar sebab terkejut. "Ah, mianhae  Namjoon-ssi."

Jihyun langsung membungkukkan badan, ia sangat lancang karena sudah meneriakkan nama Namjoon. Sungguh, nada bicaranya terkesan membentak.

Namjoon tergelak. "Kau ini kenapa?" Pria itu mengambil satu langkah besar untuk mundur sebab menyadari jaraknya dengan Jihyun terlampau dekat.

Jihyun masih menunduk. "Mianhae, aku seperti membentakmu, ya? Aku hanya terkejut barusan."

"Gwaenchana, kalau sedang terkejut, terkadang kita tak bisa mengontrol ucapan refleks. Ayo makan." Namjoon duduk di sofa sembari membongkar kotak bekal yang dibawakan Jihyun untuknya tadi lagi.

Jihyun hanya bisa menonton aktivitas Namjoon saat ini. Bila ia membantu, bukan tidak mungkin akan ada kontak fisik nantinya.

"Mengapa kau hanya membawakan satu sumpit, huh?" Namjoon mendesah berat kala hanya mendapati sepasang sumpit di sana.

"Aku membawa bekalku sendiri." Jihyun memang datang dengan kotak bekalnya yang lain kala memasuki ruangan Namjoon. Ia sudah bisa menebak kalau Namjoon pasti akan membagi bekal yang ia buat seperti tempo hari.

"Ah, baiklah. Selamat makan, Jihyun." Namjoon mengakhiri ucapan dengan senyuman.

Jihyun mengangguk kikuk. Bagaimana bisa ia terjebak makan siang dengan Namjoon di ruangan ini. Setidaknya, kalau mereka makan bersama di luar, ada banyak orang. Akan tetapi di sini, mereka hanya berdua.

Namjoon makan dengan sangat tenang, nyaris tak bersuara. Cara makannya tidak mengecap dan tampak beretika, tidak seperti orang rakus yang kelaparan. Membuat Jihyun sedikit terkesan dan bertanya-tanya bagaimana cara Hyuna membesarkan Namjoon. Bukan hal aneh bila Jihyun ingin memiliki seorang anak dengan kepribadian seperti Namjoon, ia juga seorang perempuan yang ingin memiliki buah hati yang cerdas dan beretika.

"Aku ... boleh bertanya sesuatu?" Jihyun bertanya di tengah-tengah makan.

Namjoon melirik Jihyun. "Nanti saja. Kau tau, kan? Kalau kau menanyakan hal yang mengejutkan, aku bisa saja tersedak. Aku tidak ingin melakoni adegan seperti dalam kebanyakan drama."

Jihyun tergelak. "Aku tidak akan menanyakan hal yang mengejutkan, aku hanya ingin memastikan sesuatu. Apa ... kau tersinggung karena aku membahas tentang keluarga tadi?" Makin ke sini, suaranya makin memelan sebab takut Namjoon akan sedingin tadi. Itu hanya akan membuat rasa bersalahnya semakin membesar.

"Oh ...," Namjoon melahap makanannya lagi. Tentu saja ia berhenti makan kala mendengar Jihyun malah melanjutkan pertanyaannya. "bukan tersinggung. Hanya saja ...."

Ucapannya terhenti sebab mulutnya penuh dengan makanan. "Sudah kubilang ... jangan mengajakku bicara ... aku sedang ... makan." Tentu saja terputus-putus sebab Namjoon berbicara sambil mengunyah.

Jihyun tersenyum malu. "Ah, mianhae, aku terlalu penasaran karena kau mendadak bersikap dingin tadi."

Namjoon mengangguk-ngangguk sembari menelan makanan yang sudah ia kunyah. "Aku tidak enak bila tidak membalas ucapanmu. Kumohon, berhenti bicara sebentar lagi saja. Makananmu terlalu lezat dan menggoda untuk kuhabiskan dengan cepat," papar Namjoon yang dibalas anggukan saja oleh Jihyun.

Jihyun tahu betul bila Namjoon makan hanya demi mengisi perut dan tidak menikmatinya, pria itu akan makan sedikit lama dan banyak mengobrol. Lain halnya dengan sekarang, untuk makan saja, pria itu terlihat sangat fokus dan tak ingin diganggu. Ada-ada saja atasannya ini. Namun, Jihyun sedikit lega Namjoon tidak bersikap sedingin tadi meski ia belum tahu sepenuhnya alasan Namjoon bersikap demikian.

"Aku akan menemanimu berbelanja," tutur Namjoon sebelum meneguk sebotol air mineral.

"Berbelanja ... apa? Kau akan menghadiri acara kolegamu dan mau berbelanja baju baru?" terka Jihyun agak bingung sebab ia tidak pernah mendengar Namjoon akan menghadiri acara apa pun. Tentu, Namjoon harus melaporkan kegiatan apa pun pada Jihyun untuk menyesuaikan dengan jadwalnya.

Namjoon menggeleng. "Aku harus makan yang bergizi mulai sekarang. Aku akan membantumu berbelanja untuk membuatkanku makan siang seenak ini setiap harinya. Kau ... tidak keberatan, kan? Tenang saja, aku yang membayar belanjaan, termasuk biaya operasionalnya. Gajimu juga akan kunaikkan. Anggap saja kau menjadi restoran pribadiku," kekehnya sembari membereskan kotak bekal yang sudah ludes tanpa sisa. Porsi yang dibuatkan Jihyun sangat pas sehingga Namjoon mampu menghabiskannya dengan cepat.

Jihyun menggeleng. "Tak perlu ... aku memang selalu memasak. Mungkin ... hanya tinggal menambah porsinya saja."

Namjoon mendecak. "Ah, baiklah, kalau begitu gajimu akan kunaikkan lima puluh persen. Apa itu cukup? Ah, tidak, tidak, atau dua kali lipat?"

"Tak usah, gajiku masih tersisa cukup banyak untuk sekadar berbelanja bahan makanan. Lagi pula, aku hanya membuatkanmu makan siang," cegah Jihyun merasa tak pantas menerima kenaikan gaji hanya karena hal sesepele membuatkan makan siang.

"Ah iya, soal keluarga." Berhubung makannya sudah selesai, Namjoon memang berniat membahas ini dengan Jihyun. Ia bisa melihat bagaimana binar penasaran itu menyorotnya sedari tadi.

Jihyun langsung memusatkan atensinya pada Namjoon. Pria itu terlihat sangat serius sekarang.

"Seperti yang kau tau, aku memang anak tunggal. Kematian ibu ... juga," Namjoon menjeda sebentar sembari memegangi dadanya yang terasa sesak tiba-tiba. Baru satu minggu ibunya pergi, tentu ia masih merasakan pedih di dalam sana. "di hari kerja. Jadi, sanak saudara tidak bisa datang karena mereka tidak ada yang tinggal di Seoul. Perjalanan mereka akan memakan waktu dan itu akan sangat terlambat. Bibi bilang, banyak yang menghubungi, tapi aku tidak sempat bicara dengan mereka karena benar-benar kalut. Baru seminggu setelahnya, aku mulai menghubungi mereka satu per satu."

Jihyun hanya mengangguk-ngangguk. Ia mengerti bagaimana kacaunya kondisi Namjoon saat itu hingga pria itu terbaring sakit selama satu minggu. Dan ya, ini adalah hari pertamanya kembali bekerja. Jihyun merasa bersalah sudah membahas ini.

"Aku ...," Namjoon memandang ke sembarang arah. "benar-benar merasa sendiri sekarang. Benar-benar tidak punya keluarga."

Jihyun mengerti perasaan sepi yang Namjoon rasakan saat ini. Bagaimana bisa pria itu memaksakan diri untuk bekerja di tengah-tengah kepedihan yang menyelimutinya saat ini. Seharusnya Jihyun tidak mengatakan bahwa ia kelelahan karena harus bolak-balik ke rumah Namjoon demi kelangsungan perusahaan.

"Jihyun." Namjoon menatap Jihyun lekat. "Kau mau ... berkeluarga denganku?"

🐨🐨🐨

So Far Away [KTH] ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang