35 - PERGI?

15 4 0
                                        

"Jangan bergerak! Angkat tangan!"

Mobil polisi mengepung tempat ini dengan cepat. Preman yang memukuli Taehyung langsung diamankan oleh polisi, membuat Taehyung menjulurkan lidahnya dengan jahil.

"Memukulku sekali saja sudah langsung ditangkap polisi," ejek Taehyung puas.

"Hyung!" Jungkook memekik keras.

Sontak, Taehyung langsung memeriksa penyebab Jungkook berteriak. Salah satu preman berhasil kabur setelah menusukkan belati pada perut Jihyun.

"Park Jihyun!" Taehyung berlari menghampiri Jihyun memegangi perutnya yang sudah berlumuran darah. Dirinya terlalu sibuk mengejek preman sampai ia lupa kalau ada seseorang yang harus ia lindungi.

"Hyunie, bertahanlah," ucap Taehyung lirih. Jihyun sudah berada di pangkuannya sekarang.

Jihyun menatap Taehyung dengan lekat, memegangi pipi yang sebelumnya terkena pukulan. "Apa Taetae kesakitan? Kucubit keras sedikit saja kau selalu kesakitan, apa pukulan tadi sakit?"

Taehyung menggeleng dengan air mata yang sudah tidak terbendung lagi. Ia takut kehilangan Jihyun. Sangat takut."Kau harus bertahan, Hyunie, kumohon."

"Kalau aku pergi sekarang," Jihyun terbatuk-batuk, air matanya berlinang, menetes pada lengan Taehyung yang menopang kepalanya. "apa tidak apa-apa?" Kedua binar itu menutup sempurna setelah mengucap kata terakhirnya.

"Jihyun, jangan tinggalkan aku. Park Jihyun, bangun," Taehyung menepuk-nepuk pelan pipi Jihyun. "jangan pergi atau duniaku hancur, Hyunie."

Taehyung bergegas membawa Jihyun ke mobil dengan bantuan Jungkook. Gadis itu berada di pangkuan Jungkook di kursi belakang, sementara Taehyung mengemudi di depan sendiri. Ia memegang setir dengan gemetar. Sangat takut kalau Jihyun akan pergi meninggalkannya untuk selamanya.

"Hyung, cepat, Hyung." Jungkook pun menangis saat ini. Entahlah, setelah ia berkelahi dengan dua preman, rasanya lebih menyakitkan melihat Jihyun seperti ini. "Darahnya sangat banyak, Hyung, cepatlah."

Taehyung mengebut dengan kecepatan maksimal. Sebenarnya tangannya masih ngilu dipakai menyetir, tetapi ia tak peduli, yang penting Jihyun selamat sekarang. Pikirannya sudah tak keruan memikirkan kemungkinan terburuk, tetapi ia juga enggan hal buruk itu terjadi. Ia ingin Jihyun selamat dan kembali sehat seperti sediakala.

Sedang panik-paniknya seperti itu, ponsel Jihyun yang tersimpan di kursi penumpang sebelah Taehyung berdering keras, mengganggu konsentrasi Taehyung yang sedang mengemudi setelah sebelumnya memang sudah dikacaukan dengan memikirkan kondisi Jihyun.

"Ish, siapa yang menelepon pula." Taehyung melempar ponsel Jihyun yang berdering ke kursi belakang. Meminta agar Jungkook yang menjawabnya.

"Kim Namjoon, Hyung," ujar Jungkook setelah melihat siapa yang menelepon.

"Angkat dan aktifkan speakernya," titah Taehyung cepat.

"Bukankah ini bukan waktunya mengangkat telepon, Hyung?" tanya Jungkook heran.

"Turuti saja, Bodoh!" bentak Taehyung nyaris meluapkan emosinya pada Jungkook. Tentu, setelah mengetahui yang menelepon adalah Kim Namjoon, Taehyung sedikit tak terima.

Jungkook pun akhirnya menurut. Begitu telepon diangkat, suara Kim Namjoon bergema di mobil.

"Jihyun? Kau masih di mana? Kau tau? Meeting kita ditunda sampai lusa, mianhae aku sampai membuatmu harus pulang untuk-"

"Jadi kau yang membuat Jihyun harus mengalami ini?!" Taehyung berteriak di depan ponsel saat Jungkok mendekatkannya pada mulut Taehyung. Dugaannya benar, tak meleset. Karena ini masih jam kerja, pasti ada hubungannya dengan Namjoon, kan?

"K-kau siapa? Memangnya, Jihyun kenapa? Jawab aku!" Terdengar suara penuh amarah di seberang sana. Tidak tahu saja kalau amarah Taehyung pun sudah naik ke ubun-ubun. Ingin sekali Taehyung melakukan hal serupa pada Namjoon, apa yang dilakukan preman tadi pada Jihyun.

"Mulai detik ini, jangan pernah menemui Jihyun lagi, Kim Namjoon!" Taehyung sangat puas memaki orang di seberang sana, yang menjadi penyebab utama Jihyun harus mengalami hal ini.

"Matikan," suruh Taehyung pada Jungkook.

Jungkook menurut begitu saja, ia langsung memutus sambungan telepon. "Dia siapa, Hyung?"

"Dia bosnya, penyebab utama Jihyun harus mengalami semua ini," sahut Taehyung yang masih fokus berkendara seperti orang yang kerasukan.

***

Jungkook sedang beristirahat sejenak setelah kelelahan melatih murid-muridnya. Ia mengelap keringat dan menenggak sebotol air dengan cepat. Kala melihat ponselnya berdering singkat, Jungkook memeriksanya sejenak.

Itu adalah pesan dari Jihyun. Rasanya sudah lama Jihyun tidak mengiriminya pesan, memangnya ada apa? Tumben sekali.

Jihyun mengirimi dua pesan. Pesan pertama berisi tentang lokasi yang dibagikan Jihyun, yang kedua adalah: S.O.S.

Jungkook terbelalak kaget. Apa maksudnya ini? Dulu sekali, saat mereka masih sekolah menengah, belum zamannya ponsel canggih, Jihyun pernah mengirimi secarik kertas pada Jungkook melalui temannya. Isinya adalah lokasi tempat Jihyun berada dan kalimat yang sama-S.O.S.

Saat Jungkook mendatanginya, ternyata Jihyun tengah diganggu oleh kakak kelas mereka. Dia nyaris menjadi korban perundungan andai Jungkook tidak datang tepat waktu. Kakak kelas perempuannya nyaris menanggalkan rok seragam Jihyun yang sudah menangis histeris, rambutnya dijambak dan tangannya diikat ke belakang tak berdaya.

Beruntung Jungkook datang dan segera menyelamatkan Jihyun saat itu. Sejak saat itu, mereka berteman cukup dekat dan Jungkook bertekad untuk menjadi pelindung Jihyun. Itu pun menjadi salah satu alasannya mengikuti ekstrakurikuler taekwondo. Sebab ia pikir, agar dapat melindungi Jihyun, ia harus bisa bela diri.

Melihat pesan dari Jihyun, Jungkook langsung teringat kejadian dulu. Apa Jihyun sedang berada dalam bahaya sekarang? Ia tak ambil pusing, ia langsung menuju ke lokasi yang Jihyun kirimkan setelah sebelumnya memberi pesan itu pada Taehyung.

Pokoknya datang saja.
Jihyun mengirimiku ini,
aku hanya takut dia sedang berada dalam bahaya, Hyung.

***

So Far Away [KTH] ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang