21 - KECELAKAAN

23 4 0
                                        

Jihyun menyerahkan sebuah paper bag. "Ini ... ibuku yang memasaknya."

Namjoon menerimanya dengan senang hati. "Rasanya terasa lebih dekat sekarang."

Jihyun mengerutkan kening. "Maksudmu?"

Namjoon tersenyum menatap Jihyun. "Kita."

Jihyun mencerna kata-kata Namjoon. Perlahan, senyumnya mengembang kala ia menangkap maksud Namjoon. "Namjoon-ssi, mianhae, tapi ... aku sungguh tidak terbiasa dengan ini."

Namjoon mengangguk seraya tertawa kecil, lesung pipinya tercetak begitu jelas. "Iya, aku tau, tapi kau harus terbiasa nantinya."

Jihyun hanya mengangguk ragu, ia tak tahu harus membalas apa lagi.

***

"Aku hanya ingin bertanya sesuatu, Namjoon-ssi."

Seakan menjadi rutinitas baru, jam makan siang kali ini selalu Jihyun habiskan di ruangan Namjoon dengan bekal yang ia bawa.

"Tanyakan saja." Namjoon berhenti melahap makannya sejenak. Jangan lupakan kalau ia tidak ingin tiba-tiba tersedak setelah mendengar pertanyaan Jihyun. Itu terlalu dramatis.

"Kau ingin menikahiku karena ... ibumu?" Jihyun sangat ingin menanyakan hal ini sejak semalam sebagai bahan pertimbangan menerima lamaran Namjoon nantinya.

Namjoon menaruh sumpitnya. Menatap Jihyun intens. "Memangnya kenapa?"

Jihyun menjadi sangat gugup sekarang. "A-aku hanya ... hanya tak ingin k-kau melakukan sesuatu yang tidak ... kau inginkan."

Namjoon mendecak. "Kau pikir aku main-main?"

"T-tapi ...." Jihyun tak tahu bagaimana cara menanyakannya agar Namjoon tidak tersinggung. "Selama ini kita hanya sebatas hubungan kerja. Kau tau? Ini terlalu tiba-tiba bagiku. Aku belum mempunyai perasaan apa pun jadi—"

"Aku mengerti, tapi untuk apa mengulur waktu lebih lama untuk menunda pernikahan?" Namjoon terdengar jauh lebih santai daripada Jihyun.

"Ya, Namjoon-ssi, tapi ... apa alasanmu ingin menikahiku? Apa hanya ingin agar aku menjadi sekretarismu terus?"

Namjoon menggebrak meja, membuat Jihyun terkejut bukan main. Pria itu mengembuskan napas agak keras. "Kau sepertinya mengikutiku dengan cukup baik," ujarnya tetap tenang setelah gebrakan barusan. "Bukankah aku mengintimidasimu semacam itu saat interview setahun lalu?"

Jihyun tersenyum kecut. "Ya, mungkin."

Namjoon tertawa hambar. "Ah, sudahlah, aku akan melanjutkan makan siangku sebelum nafsu makanku hilang." Pria itu kembali mengambil sumpit dan melahap makan siang yang sempat terjeda.

Jihyun pun melanjutkan makannya. Suasana menjadi terasa lebih canggung. Ia malah merutuki ucapannya sendiri sekarang, merasa menjadi orang paling bodoh dengan pertanyaannya tadi.

"Ah iya, karena nanti kita akan makan malam, kau bisa pulang cepat hari ini," papar Namjoon seraya tersenyum singkat.

Jihyun hanya mengangguk. Dengan Namjoon menghadiri acara makan malam nanti, apakah nanti malam Namjoon akan melamarnya secara langsung di hadapan orang tua Jihyun? Yang pasti, Jihyun tak akan mempermalukannya dengan memberi penolakan. Padahal, saat ini Jihyun belum yakin menerimanya.

***

Sesuai permintaan Namjoon, Jihyun pulang satu jam lebih awal dari biasanya. Gadis itu memang harus membantu ibunya memasak dan berdandan lebih rapi untuk makan malam spesial hari ini. Kala sedang fokus mengemudikan mobil, ponselnya berdering berkali-kali. Jihyun sengaja tidak langsung mengangkatnya karena itu bukan dering dari nomor Namjoon. Akan tetapi, mendengarnya berdering berkali-kali, membuat Jihyun sedikit khawatir kalau itu telepon penting.

So Far Away [KTH] ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang