44 - KISAH KITA

14 3 0
                                        

Tangannya terulur pada gadis yang dikenalkan orang tuanya. "Aku ... Taetae," Pria itu mendecak sebal. Mengapa ia menyebut nama kesayangan orang tuanya? Rasanya sedikit memalukan. "maksudku Kim Taehyung," tegasnya.

Gadis itu juga mengulurkan tangan dan menjabat tangan Taehyung. "Park Jihyun."

Taehyung tersenyum lebar. "Kau sudah besar, ya? Kalau tidak salah, pertemuan terakhir kita saat ... kau berusia lima tahun?"

Jihyun menggeleng. "Aku tidak begitu mengingatnya. Ingatan masa kecilku payah."

"Baiklah, kalau begitu, mari berkenalan sebagai teman baru saja." Taehyung agak canggung melakukan ini di usia dua puluh tiga tahun. Rasanya terlalu kekanakan.

Jihyun mengangguk setuju.

Kedua orang tua mereka sudah bersahabat sejak lama, bahkan sejak mereka masih di bangku sekolah menengah. Setelah belasan tahun menetap di Busan, Jihyun memutuskan untuk melanjutkan studinya di Seoul. Dan hari ini, ia dikenalkan dengan anak dari sahabat orang tuanya, Kim Taehyung. Mereka berdua memutuskan untuk menepi dari kebisingan para orang tua yang tengah bernostalgia tentang masa muda mereka. Sebagai pemilik rumah, Taehyung mengajak Jihyun berbincang di balkon sembari menikmati pemandangan langit malam Seoul.

"Ah iya, aku hampir lupa. Mau kubuatkan minum?" tawar Taehyung. "Agaknya, malam yang dingin ini lebih cocok kalau aku membuatkanmu minuman hangat. Kau suka kopi?"

"Suka, tapi tidak sampai tergila-gila," sahut Jihyun seraya tersenyum.

"Mau aku buatkan?" Taehyung mengajak Jihyun untuk mengikutinya ke dapur. "Aku tidak begitu pandai membuatnya, tapi ... setidaknya masih bisa diminum."

Tangannya bergerak lihai seperti seorang barista profesional yang tengah meracik kopi. Jihyun pikir, Taehyung hanya akan menyeduhkan kopi instan atau menawari minuman kopi dalam kemasan. Ternyata memang benar-benar mengolahnya dari biji kopi.

"Kau ingin memiliki coffe shop?" tanya Jihyun yang sibuk memerhatikan Taehyung meracik kopi untuknya.

Taehyung mengangguk ragu. "Mungkin akan sedikit sulit. Percayalah, aku hanya suka aromanya, tapi tidak ingin mencobanya." Secangkir kopi panas buatan Kim Taehyung tersaji di meja.

"Sebaiknya, minum selagi hangat. Tapi, sekarang masih panas," sarannya sembari membawa secangkir cokelat panas.

Mereka tengah duduk berdua di meja makan sembari menikmati minuman masing-masing.

"Itu ... cokelat?" tanya Jihyun pada minuman berwarna cokelat pekat dengan aroma manis menguar dari cangkir yang Taehyung pegang.

Pria itu mengangguk dan sedikit menyodorkannya pada Jihyun. "Mau coba juga? Mumpung belum kuminum."

Jihyun menggeleng. "Aku kan sudah ada kopi."

"Gwaenchana, aku bisa membuat lagi untukku. Coba saja minuman cokelat buatanku. Ibu bilang, ini adalah minuman manis yang bisa membuatnya bahagia," kelakarnya seraya menggeser cangkir cokelatnya lebih dekat pada Jihyun.

"Baiklah." Jihyun sudah menyesap kopinya dan rasanya tidak kalah dengan kopi yang ia beli dari coffe shop. Kini giliran cokelatnya. Ia menyesap pelan minuman cokelat itu, dalam hitungan detik, senyumnya mengembang.

Taehyung memerhatikan ekspresi Jihyun nyaris tanpa berkedip. Selama ini, ia hanya membuatkan minuman itu untuk keluarganya. Pujian mereka hanya terdengar agar Taehyung bahagia, ia sedikit ragu kalau pujian mereka benar-benar nyata. Makanya ia ingin melihat reaksi dari orang lain.

"Bagaimana?" tanya Taehyung belum mengerti betul dengan senyuman Jihyun.

Jihyun tersenyum makin lebar. "Aku suka, manisnya pas dan ... membuatku bahagia," sahutnya.

So Far Away [KTH] ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang