37 - EOMMA

12 4 0
                                        

Namjoon mondar-mandir di ruangannya sembari terus-menerus menelepon nomor Jihyun. Selepas teleponnya disambut bentakan Taehyung, Namjoon tidak berhenti menghubungi Jihyun lagi. Nomornya masih aktif, tapi tidak dijawab, padahal ini sudah memasuki panggilan kedua puluh. Ditambah Jihyun tak kunjung kembali, Namjoon makin panik tak keruan.

"Jihyun, kumohon, angkat teleponnya," lirih Namjoon sudah sangat putus asa. Hanya mendengar suara Jihyun dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja, itu sudah lebih dari cukup untuk menenangkan hatinya saat ini.

Sebab merasa diam saja tak ada gunanya, Namjoon menyambar jasnya dan bersiap pergi untuk menyusul Jihyun. Sudah sepatutnya ia bergegas untuk menemui Jihyun sendiri, perasaannya makin kacau kalau ia tidak bertindak apa-apa.

Akan tetapi, saat ia memegang gagang pintu, ia teringat sesuatu. Dia mau menyusul Jihyun ke mana? Ia masih belum sepenuhnya mengerti dengan pria yang menjawab panggilannya untuk Jihyun tadi.

"Jadi kau yang membuat Jihyun harus mengalami ini?!"

"Mulai detik ini, jangan pernah menemui Jihyun lagi, Kim Namjoon!"

Memangnya kenapa Namjoon tidak boleh menemui Jihyun lagi? Apa yang sebenarnya terjadi pada Jihyun? Namjoon sudah membuat Jihyun mengalami apa? Semuanya begitu membingungkan.

Pada akhirnya, Namjoon mengempaskan tubuhnya ke sofa dan melempar jasnya di lengan sofa. Ia mengusap wajahnya kasar. "Sebenarnya kau kenapa, Jihyun?" Ia mendongakkan kepala dengan menyandarkan tubuhnya pada sofa. Ingin sekali ia marah, tapi entah pada siapa dan karena apa.

"Jangan membuatku seperti orang bodoh, Jihyun, kumohon."

Namjoon merogoh ponsel di saku celana, melihat nomor Jihyun yang menggoda untuk dihubungi lagi meski tidak pernah ada jawaban. Apa ia harus mencoba menghubungi Jihyun lagi?

Akhirnya, Namjoon menekan juga nomor Jihyun. "Jihyun, kumohon, kali ini saja," mohonnya dengan sisa harapan yang ada. Namjoon menghubungi Jihyun sekali lagi. Ia mendekatkan telepon ke telinga dan menunggu suara lembut Jihyun menjawabnya.

"Yeoboseyo?"

Namjoon langsung menegakkan posisi, terkejut ada sahutan di seberang sana. Akhirnya ada jawaban juga, tapi ini suara laki-laki.

"Kau siapa?" tanya Namjoon heran. Suara ini berbeda dengan suara yang menjawab panggilan sebelumnya.

"Aku ... tidak penting siapa aku. Kenapa kau menghubungi Jihyun terus?"

"Siapa pun kau, bisakah kau memberitahuku bagaimana keadaan Jihyun sekarang? Aku sudah seperti orang bodoh yang tidak tau apa-apa." Namjoon sudah sangat frustrasi memikirkan keadaan Jihyun sekarang. Ia benar-benar tidak memiliki petunjuk tentang keberadaan Jihyun saat ini.

"Tak perlu mencemaskan Jihyun. Kau hanya perlu mencemaskan dirimu saja."

"M-maksudmu?"

Apa Jihyun tengah disekap oleh seseorang? Mengapa yang berbicara dengannya saat ini seolah sangat tahu bagaimana keadaan Jihyun saat ini dan juga tidak menginginkan kehadiran Namjoon?

Tidak ada jawaban. Sambungan telepon langsung dimatikan secara sepihak. Namjoon melempar ponselnya ke meja. "Sebenarnya apa yang terjadi?!" Pria itu berteriak keras dengan amarah yang tidak terbendung. Ia tidak mengerti kenapa tidak ada yang memberitahunya apa pun yang terjadi pada Jihyun?

-o0o-

"Sudah?" tanya Taehyung pada Jungkook yang baru selesai menjawab panggilan dari Namjoon. Ia sudah muak mendengar dering telepon di ponsel Jihyun yang berada di kantong celananya. Sebenarnya, ia sudah mengaktifkan mode silent, tapi tetap saja ia merasa harus menjawabnya. Tentunya sambil memberi Namjoon sedikit pelajaran.

So Far Away [KTH] ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang