"Lega sekarang?" Jimin bersidekap kesal menatap Jihyun.
Pasalnya, mereka baru selesai mengantarkan keluarga Taehyung sampai ke depan rumah, dan kini Jimin bersiap menghakimi Jihyun.
Jihyun mengangguk. "Akhirnya ...."
Jimin mendelik. "Mengapa kau sangat keras kepala? Dia tidak bisa hidup tanpamu, Bodoh!"
"Apa maksudmu? Kau pikir aku ini oksigen, hah?!" Jihyun berlalu begitu saja. "Dia tidak akan mati tanpaku!"
"Yak! Park Jihyun!" Jimin masih terlampau kesal pada sepupunya itu.
"Jimin-ah," panggil Jiyoung lembut.
"I-ibu? Ada apa?" Jimin terkejut dengan panggilan Jiyoung.
"Biarkan Jihyun bahagia," paparnya terkesan memohon. "Jangan memaksanya untuk melakukan hal yang tidak dia inginkan."
Jimin tertunduk dalam. "Tapi, Taehyung ...."
"Sudahlah, jangan ikut campur urusan mereka. Meski kau dekat dengan Taehyung dan Jihyun, bukan berarti kau tau semuanya. Kita tidak tau apa yang mereka rasakan, apa yang hati mereka bisikkan. Kita tak tau debaran mereka masih ada atau tidak kala bersama." Jiyoung membelai keponakannya dengan lembut. Ia tidak marah pada Jimin, hanya menegur agar tidak keterlaluan.
***
"Ya, mobilku masih di kantor karena tadi aku dijemput sepupuku. Mianhae, mungkin aku tak bisa membuatkanmu makan siang besok, aku sedang berada di rumah orang tuaku," ujar Jihyun sembari menatap layar laptop yang menampilkan panggilan video dengan Namjoon.
"Gwaenchana, kita bisa makan di luar bersama kalau begitu," sahut Namjoon di seberang sana.
Jihyun menggeleng. "Pekerjaanmu banyak dan—"
"Jangan lupa untuk memikirkan itu."
Jihyun tersenyum, lantas mengangguk. "Aku akan memikirkannya dan mengatakannya padamu kalau sudah benar-benar yakin."
"Kau juga harus membagi ceritamu kalau sudah tidak mampu memendamnya sendiri. Aku bisa menjadi pendengar yang baik."
Jihyun terdiam sejenak, ia jadi teringat kejadian hari ini. Pertemuan keluarga yang memutuskan bahwa rencana pernikahan Jihyun dan Taehyung batal. Apa boleh ia bercerita ini pada Namjoon?
"Mianhae, aku terlalu lancang karena melamarmu tiba-tiba." Namjoon tidak cukup pandai menerka apa yang tengah dipikirkan Jihyun saat ini.
Perlahan, Jihyun tersenyum. "Gomawo, Namjoon-ssi."
Selama beberapa detik, mereka hanya saling memandang sembari melempar senyum. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Gomawo, sudah memberiku kesempatan Jihyun-ah."
Senyum Jihyun makin mengembang, tetapi matanya berkaca-kaca. "Namjoon-ssi, kalau kau bosan menungguku, tinggalkan saja. Masih banyak wanita di luaran sana yang lebih baik dariku."
"Aku ingin menuruti permintaan terakhir ibu. Menikahimu."
Air mata yang semula tergenang di pelupuk, kini lolos begitu saja. Apa Namjoon ingin menikahinya hanya karena itu keinginan sang ibu? Atau, dia memang menaruh perasaan pada Jihyun?
Keraguan Jihyun segera terjawab kala Namjoon mulai berbicara dengan serius
"Kau adalah perempuan pertama dan satu-satunya yang kukenalkan pada ibuku. Bukan karena aku kekurangan teman perempuan, tapi ... kau ... istimewa. Aku hanya ingin mencintai seseorang sekali seumur hidup, satu untuk selamanya. Jangan mengewakanku dengan keputusanmu nanti. Namun, jangan tertekan dengan hal ini. Pikirkanlah matang-matang, sebab kau akan hidup satu atap denganku untuk waktu yang sangat lama, bukan sebatas jam kerja di kantor."
KAMU SEDANG MEMBACA
So Far Away [KTH] ✅
Fiksi PenggemarTrilogy of Maknae Line EPISODE I Perjodohan terjadi sebab kedua orang tua mereka bersahabat sejak lama. Tak disangka, mereka berhasil menjalin hubungan hingga bertahun lamanya. Namun, di tahun ketiga, semuanya kandas. Membuat mereka memutuskan untuk...
![So Far Away [KTH] ✅](https://img.wattpad.com/cover/325192236-64-k565392.jpg)