42 - RAGU

16 3 0
                                        

"Cobalah." Taehyung menyajikan secangkir cokelat hangat kesukaan Jihyun. Pasalnya, selepas berkeliaran di florist Jimin, mereka berakhir di kafe Taehyung.

Jihyun menyesap minuman cokelatnya pelan-pelan. "Aah, aku akan sangat merindukan yang satu ini," keluhnya makin goyah.

Taehyung tersenyum lebar. "Mianhae, aku tidak bermaksud mempengaruhimu agar mengubah keputusanmu."

"Gwaenchana, aku hanya ...." Kalimatnya tidak terselesaikan sebab matanya menangkap seseorang yang tidak ia duga.

"Hanya?" Taehyung menunggu kalimat berikutnya.

Jihyun segera mengalihkan pandangan dan mengembuskan napas berat. "Hanya ingin melakukannya untuk terakhir kali, sebelum aku benar-benar pergi."

Taehyung mengangguk-ngangguk. "Ya, kau bisa menikmati cokelat kesukaanmu sepuasnya hari ini."

Jihyun mengangguk sembari tersenyum, tetapi matanya masih tertuju pada seseorang yang tidak sengaja ia lihat di kafe. Mata mereka sempat bertemu dan saling bertatapan selama beberapa detik. Itu adalah Kim Namjoon. Baru sehari Jihyun tidak bekerja, rasanya ingin sekali menanyakan kabar Namjoon. Apa pria itu baik-baik saja sekarang? Apa selepas kepergian Jihyun, dia kerepotan mengerjakan pekerjaannya sendiri?

Kini, Namjoon sudah meninggalkan kafe, Jihyun jadi tak tega membiarkannya kesusahan sendiri.

Taehyung masih anteng memandangi Jihyun sepuasnya. Sedang memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya sebelum nantinya Jihyun akan pergi meninggalkannya. "Ah iya, Jihyun. Kau sudah resign dari perusahaan Kim Namjoon?"

Jihyun mengangguk. "Ya, makanya hari ini aku tidak—"

"Jeosonghamnida, Park Jihyun-ssi. Ini tertinggal di mobil." Sebuah syal berwarna merah muda terulur di depan Jihyun.

Sontak, pandangan Taehyung dan Jihyun beralih pada si pemilik tangan. Taehyung membungkukkan badannya sedikit sebagai bentuk penghormatan—lebih tepatnya ia bingung bagaimana harus bersikap sebab ini pertama kalinya mereka kembali bertemu. Sementara Jihyun, ia tidak bisa berkata apa-apa kala Namjoon berada tepat di hadapannya.

Sebab syal tidak segera berpindah tangan, Namjoon meletakkannya di atas meja. "Mianhae, sepertinya aku mengganggu kalian berdua," tuturnya dingin.

Jihyun menggeleng segera. "Sama sekali tidak mengganggu," sahutnya cepat, seakan menyanggah sesuatu.

"Kalau begitu, aku permisi." Namjoon membungkukkan badan dan segera pergi.

Pandangan Jihyun tak lepas darinya hingga ia tetap memerhatikan Namjoon dari balik jendela. Hari ini Namjoon menggunakan mobil yang biasanya selalu Jihyun pakai untuk bekerja. Pantas saja pria itu menemukan syal miliknya.

Taehyung mengambil syal itu, memerhatikannya dengan saksama. "Bukankah ini syal pemberianku saat musim dingin tahun lalu?" tanyanya memastikan.

Jihyun mengangguk lemah.

"Kenapa ada di dia?" Taehyung merasa kecewa barang pemberiannya ada di sembarang orang.

"Aku lupa membawanya dari mobil yang kugunakan sebagai fasilitas dari Namjoon," papar Jihyun seadanya.

Taehyung memerhatikan raut wajah Jihyun yang tampak sedikit lebih tegang dari sebelumnya. "Gwaenchana, Hyunie?"

Jihyun mengangguk. "I'm okay."

"Apa kau ingin pulang sekarang? Aku akan mengantarmu." Taehyung tak bisa melihat Jihyun tampak kacau seperti ini.

Jihyun menggeleng lagi. "Apa keputusanku sudah benar?" tanyanya entah pada siapa. Pandangannya tetap mengarah pada mobil yang dinaiki Namjoon yang belum juga beranjak dari parkiran.

So Far Away [KTH] ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang