18 - Smooth Like Butter~

18 4 0
                                        

Jihyun berjalan agak tergesa menuju parkiran. Siapa lagi kalau bukan Park Jimin yang memaksanya agar pulang cepat dan nekat menjemputnya langsung ke kantor. Padahal, tinggal satu jam lagi sebelum kepulangannya tiba. Ia jadi tak enak meninggalkan Namjoon dengan setumpuk pekerjaan yang seharusnya ia bantu.

"Cepat, Park Jihyun!" Jimin nyaris berteriak dari dalam mobil.

Jihyun menghampiri Jimin yang menyembulkan kepala dari jendela mobil. "Aku pakai heels, Bodoh! Aku takut jatuh kalau berlari!" Sebuah jitakan mendarat kasar di kepala Jimin.

Jimin mengepalkan tangan menahan emosi. "Orang tuamu sudah ada di rumah. Dengan Taehyung, dan orang tuanya juga. Kau masih memikirkan pekerjaan di saat-saat genting seperti ini?"

"Maksudmu?" Jihyun terbelalak kaget. Pasalnya, Jimin tidak memberitahu soal ini di telepon. Pokoknya ia akan menjemput Jihyun karena ada urusan penting. Itu saja yang disampaikan Jimin beberapa menit yang lalu.

"Masuk dulu, cepat!" titah Jimin sudah bersiap melajukan mobil bak seorang pembalap yang tinggal menunggu aba-aba.

Jihyun mendaratkan tubuh di samping Jimin. "Kau ... ish! Kenapa mereka berkumpul? Apa Taehyung ... kau, ya!"

"Apa maksudmu? Kau menyalahkanku?!" Jimin marah-marah sambil menyetir, ia tidak bisa melirik Jihyun barang sedetik pun sebab ia tengah mengebut.

"Awas saja kalau mereka datang untuk menentukan tanggal pernikahan! Aku akan membencimu seumur hidup!" tekad Jihyun tak gentar.

"Apa Namjoon benar-benar sudah memalingkanmu dari sahabatku, Taehyung?" Pertanyaan Jimin tak disahuti apa pun oleh Jihyun. Gadis itu terdiam sembari memijat pelipis. Ia sangat kesal sekarang.

"Jihyun." Namjoon menatap Jihyun lekat. "Kau mau ... berkeluarga denganku?"

Jihyun terbahak seketika. "Bukankah kau sudah menganggapku seperti adikmu? Ya, anggap saja aku keluargamu sekarang. Kau tau, kan? Aku juga seorang anak tunggal. Kau juga kuanggap seperti kakak laki-laki yang ... hm ... meski aku punya sepupu laki-laki yang lebih tua dariku, dia sedikit menyebalkan."

"Apa aku menyebalkan kalau aku ingin lebih dari sekadar kakak dan adik?" Pertanyaan Namjoon sukses membuat Jihyun tertegun. Apa maksudnya?

"Aah, ayolah, Jihyun. Kau selalu peka dengan klien kita yang menunjukkan gelagat aneh saat mengajak bekerja sama. Kau selalu berhasil mengungkap niat jahat mereka. Tapi, apa kau tidak bisa mengungkap niat baikku?" Namjoon tampak geram sebab Jihyun malah terlihat polos dan sama sekali tak mengerti maksud Namjoon.

Pertanyaan Namjoon sungguh berbelit, Jihyun bahkan berpikir konyol. Apa Namjoon ingin mengadopsinya sebagai anak? Ya, dengan begitu, Jihyun akan tinggal di rumahnya dan memasak banyak makanan untuknya.

"Pertanyaanmu seperti teka-teki." Jihyun kelewat jujur. Ia tidak mengerti maksud lebih dari sekadar kakak dan adik. Lalu apa? Anak dan ayah? Lagi-lagi, Jihyun malah membayangkan kalau ia akan diadopsi sebagai anaknya Namjoon.

"Aku melakukannya karena aku ingin. Tapi ...." Namjoon menggantungkan kalimatnya.

"Kau ingin apa?" Jihyun menyela dengan cepat.

"Aku tidak tau masalah pribadimu, sungguh. Kau terlalu sibuk mengurusi semua pekerjaanku bahkan hingga keperluan pribadiku selalu ada di tasmu yang selalu kau bawa ke mana-mana. Pakaianku ... berapa kali kau membawakannya untukku meski kau juga menyuruh bibi yang menyiapkannya. Kau juga membuatkanku sup favoritku, yang selama ini hanya bisa kudapat dari ibu. Kau menyelami hidupku terlalu dalam, Jihyun-ah."

Jihyun tertunduk dalam. "Mianhae, aku hanya ingin membantumu. Anggap saja sebagai teman, bukan sebagai sekretaris kalau membuatmu merasa kurang nyaman."

So Far Away [KTH] ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang