"Eomma, Taetae akan saaangat merindukanmu." Taehyung memeluk Jihyun dengan erat. Rasanya semakin berat ditinggalkan olehnya.
Jihyun terkekeh pelan. "Iya, Eomma juga akan sangat merindukan Taetae." Ia melepas pelukan, menatap Taehyung yang menunjukkan wajah cemberut.
"Have a safe flight, Jihyun-ah," ujar Seokjin seraya menyerahkan sebuah paper bag. "Vitamin terakhirmu."
Jihyun tersenyum lebar. "Gomawo, Oppa."
"Kau tidak mau memelukku?" Jimin merentangkan tangannya lebar-lebar di depan Taehyung.
Taehyung mendecih. "Kau kan akan kembali lagi. Kau pergi hanya untuk mengantarnya, kan, Ahjussi?"
Jimin mendecak. "Ayolah, kalau kau sedang galau, siapa yang selalu meneleponku bahkan saat pagi buta? Yang mengatakan Jimin-ah! Aku sedang patah hati! Siapa itu, kutanya?" cibirnya kesal.
Taehyung tersenyum dan akhirnya memeluk Jimin. "Jaga Jihyun baik-baik, ya? Jangan biarkan dia tergores sedikit pun," bisiknya di sela-sela pelukan.
Setelah melepas pelukan, Jimin mengacungkan jempol seraya mengulum senyum.
"Kapan kau akan kembali?" tanya Taehyung kembali beralih pada Jihyun.
Jihyun mengangkat bahu. "Aku tidak tau, tapi ... kapan pun itu, aku akan pulang ke tanah kelahiranku."
Taehyung mengangguk lesu. "Kau akan sangat merindukan cokelat buatanku," keluhnya.
Jihyun tergelak sembari mencubit pipi Taehyung dengan gemas. "Sudahlah, jangan terus-terusan membujukku agar tidak pergi."
Taehyung meraih tangan Jihyun, menggenggamnya erat. Ia tatap wajah Jihyun selama yang ia bisa. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Setahun, dua tahun, atau mungkin sepuluh tahun. Taehyung tidak bisa menerka kapan gadis ini akan pulang.
Tangannya menyingkap surai yang menutupi wajah, lantas mendaratkan kecupan singkat di kening. "Aku akan sangat merindukanmu, Hyunie." Ini bukan Taetae anak angkatnya Jihyun, tapi Kim Taehyung, pria yang masih mencintai Jihyun sepenuh hati.
Jihyun tersenyum tipis. "Kau ingat perkataanku? Jangan menungguku. Bila suatu saat ada seseorang yang mencintaimu dengan tulus, jangan ragu memberikan hatimu yang besar penuh dengan cinta itu padanya," Telunjuknya mengarah ke dada bidang milik Taehyung. "cintailah dia tanpa beban dan tanpa rasa bersalah pada siapa pun."
Taehyung mengangguk yakin. "Kau juga ingat aku menjawab apa? Aku akan melakukannya ketika benar-benar menemukan orang yang tepat. Tapi kalau tidak ..., maaf, aku tidak berjanji akan melakukannya."
Taehyung menarik Jihyun ke pelukannya lagi. "Jaga dirimu baik-baik. Tetap hubungi aku dan jangan sungkan untuk membagi ceritamu."
"Itu juga berlaku untukmu." Jihyun mendekap erat tubuh yang akan sangat ia rindukan ini. Entah mengapa, rasanya pelukan ini semakin nyaman dan tak ingin ia lepas.
Taehyung mengecup puncak kepala Jihyun. Rasanya lebih menyakitkan ketimbang hubungannya berakhir dulu. Meski sudah putus, setidaknya Taehyung masih bisa melihatnya. Jihyun masih sempat mengunjungi kafe. Namun sekarang, Jihyun akan hilang dari hari-harinya. Meski nanti ia akan berusaha untuk bertukar kabar sesering mungkin, tetap saja semua itu virtual. Tidak nyata. Tidak bisa dipeluk.
Taehyung melepas pelukan setelah mereka saling mendekap cukup lama, bahkan membuat Seokjin dan Jimin terduduk bosan di kursi tunggu. Ketika mereka kembali saling menatap, mereka tertawa kala melihat air mata membingkai mata mereka masing-masing. Tidak ada sesuatu yang lucu. Pokoknya ingin ketawa saja.
"Jalani hidup dengan baik, dengan bahagia," pesan Taehyung untuk terakhir kalinya.
"Tentu, aku harap, kau juga akan bahagia, meski tanpa kehadiranku," balas Jihyun dengan senyum yang makin memudar. Ia semakin berat meninggalkan Taehyung.
KAMU SEDANG MEMBACA
So Far Away [KTH] ✅
FanfictionTrilogy of Maknae Line EPISODE I Perjodohan terjadi sebab kedua orang tua mereka bersahabat sejak lama. Tak disangka, mereka berhasil menjalin hubungan hingga bertahun lamanya. Namun, di tahun ketiga, semuanya kandas. Membuat mereka memutuskan untuk...
![So Far Away [KTH] ✅](https://img.wattpad.com/cover/325192236-64-k565392.jpg)