28 - BEGIN

21 4 0
                                        

Kim Namjoon, pria berusia dua puluh delapan tahun dengan karier yang melejit selama setahun terakhir, tepatnya selepas Jihyun menjadi sekretarisnya. Banyak orang yang mengatakan, di balik pria sukses, ada wanita hebat di belakangnya. Tentu, Namjoon mengakuinya. Wanita hebat itu adalah ibunya sendiri, Hyuna sangat hebat membesarkan Namjoon selama ini.

Selain itu, Namjoon menambahkan pepatah. Di balik pria sukses, ada wanita hebat di belakangnya, dan wanita tangguh yang mendampinginya. Namjoon anggap wanita tangguh itu adalah Park Jihyun, sekretaris yang mendampinginya selama setahun ini.

Namjoon tak pernah terpikirkan akan jatuh cinta pada sekretarisnya sendiri, itu hanya terjadi dalam drama. Bahkan, ia menganggap, itu hanya akan mengganggu pekerjaan mereka. Selama ini, Jihyun sangat dapat diandalkan. Namjoon tak ingin merasakan situasi aneh bila sewaktu-waktu ia memiliki perasaan lebih pada Jihyun. Makanya, ia selalu menghindarinya, hingga suatu hari ibunya mengatakan kalau ingin Namjoon menikahi Jihyun. Sejak saat itulah Namjoon mulai memperhatikan Jihyun, dan tak disangka, ia mulai jatuh cinta padanya.

Pria itu tersenyum kecut memandangi cincin permata yang gagal tersemat di jari manis Jihyun. Apa ia terlalu gegabah melamar Jihyun seenaknya? Bahkan, Namjoon terlalu gegabah untuk memastikan bahwa Jihyun terikat dengan pria lain dalam perjodohan.

Peristiwa yang ia lihat di rumah sakit, kembali menyerang pikiran. Saat Namjoon melihat Jihyun dengan kecemasan luar biasa yang ditunjukkan pada pria lain hingga menangisinya. Saat air matanya diseka oleh pria lain, dan Jihyun menggenggamnya, merasakan sentuhan itu hingga matanya terpejam. Cukup. Itu teramat menyakitkan untuk diingat kembali.

Namjoon menutup kotak beludru itu dan memasukkannya ke dalam laci. Bukankah sudah jelas kalau Jihyun menolaknya? Mengapa Namjoon terus memikirkan seseorang yang bahkan tidak menerima tawaran berharganya untuk membina sebuah keluarga?

Namjoon bangkit dari meja kerjanya dan melangkah menuju ranjang. Mengempaskan tubuhnya yang entah mengapa terasa sangat lemas. Ia belum mengisi perutnya sama sekali sejak semalam. Padahal, ini sudah hampir tengah hari. Malas sekali untuk memasukkan sesuap makanan ke dalam mulutnya. Ia tak berselera.

Bila sedang tak berselera seperti ini, biasanya ibunya selalu membuatkan sup kesukaan Namjoon. Jihyun adalah satu-satunya orang yang bisa meniru sup buatan ibunya sama persis. Aah, mengapa Jihyun lagi? Namanya begitu memenuhi kepala Namjoon.

Namjoon meraih ponsel, menatap nomor Jihyun yang sudah tertera di layar. Tinggal menekan tombol bersimbol telepon, tak perlu menunggu waktu lama, suara gadis itu akan terdengar. Jihyun tak pernah sekalipun mengabaikan panggilan Namjoon, kecuali dua hari lalu. Bahkan, Jihyun menganggap panggilan dari Namjoon seperti sebuah gangguan, dia sampai memohon agar Namjoon tidak meneleponnya lagi.

Apa hari ini ia harus coba menghubungi Jihyun? Untuk apa, ya? Namjoon mencari-cari alasan agar ia bisa mendengar suara Jihyun. Entah mengapa, ia jadi ingin bekerja seharian sampai tengah malam sekarang. Dengan begitu, ia jadi memiliki waktu lebih banyak bersama Jihyun. Gadis itu tidak akan pernah pulang lebih dulu selama Namjoon masih berada di kantor, bukan?

Apa Namjoon harus mencoba cara lain untuk memiliki Jihyun? Setelah mendapat penolakan karena melamar tiba-tiba, apakah ia harus mencoba mendekatinya pelan-pelan dan membuatnya jatuh cinta? Ide bagus!

Namjoon makin mantap menelepon Jihyun, ia segera menghubungi Jihyun dengan senyum mengembang.

"Yeoboseyo?"

Namjoon tersenyum senang. Tentu saja, sebab Jihyun menerima panggilannya dengan cepat, seperti biasa.

"Maaf mengganggu waktumu, aku tau ini bukan hari kerja. Apa kau sibuk?" tanya Namjoon berbasa-basi.

So Far Away [KTH] ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang