بسم اللّه الرحمن الرحيم
Vote dan komennya, tie!
-Semoga suka dan bermanfaat-
***
Besok harinya Aila memutuskan untuk kembali pergi ke kampus setelah sehari absen. Ia berangkat dari Apartemen Daffa. Aila benar-benar belum menginjakkan kakinya di rumah. Ia ingin istirahat sejenak sebelum nantinya sang Ayah akan bertindak.
Aila berangkat bersama Daffa. Dan kini keduanya berjalan berdampingan di sepanjang koridor kampus. Dengan sesekali Aila tertawa karena candaan yang dilontarkan oleh Daffa.
"Receh juga humor lo, La."
Aila mengurangi suara tawanya. Ia mengusap matanya yang sedikit berair. "Aduh, capek banget gue. Lo nya yang prik, Dapa!"
Daffa terkekeh. Entah sadar atau tidak laki-laki itu mengangkat tangannya mengacak gemas puncak rambut Aila. "Gak papa prik, yang penting lo ketawa."
***
Di sisi lain. Sembari memainkan pulpen yang ada di tangannya, pandangan Kahfi mengarah pada dua sejoli yang terlihat tengah tertawa di koridor kampus.
Sebelah alis Kahfi terangkat. Ia panik dan khawatir mencari tau kondisinya, sedangkan yang dikhawatirkan malah asik tertawa dengan sosok laki-laki di sampingnya.
Kahfi menghela napas panjang. Biarlah, intinya sekarang kondisi Aila baik-baik saja.
Kahfi hendak berlalu, tapi panggilan dari gadis yang barusan ia pikirkan terdengar, membuat Kahfi sontak kembali menatap ke arahnya.
Aila terlihat berlari menghampirinya dengan sosok laki-laki tadi yang mengikuti dari belakang. Kahfi mengubah raut wajahnya menjadi malas saat Aila tiba di dekatnya.
"Halo, Kapi!"
"Assalamualaikum." Kahfi menegur tanpa menatap Aila yang berada di sampingnya.
"Lupa, lupa. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Kahfi memutar bola matanya malas. Pandangan laki-laki itu tanpa sengaja bertemu dengan netra sosok laki-laki yang bersama dengan Aila. Kahfi menaikkan sebelah alisnya, sedangkan Daffa terkekeh.
"Gue Daffa, temennya Aila." Daffa mengangkat kepalan tangannya sebagai tanda perkenalan.
Kahfi diam sejenak setelah itu membalas. "Gue Kahfi."
"Kapi! Gue baru sadar. Lo ke gue baku amat, ke orang lain gue-lo. Curang." Kahfi menoleh pada Aila yang barusan menyeletuk. Ia mengedikan bahunya acuh tak acuh lalu kembali menatap ke depan.
"Gue duluan. Assalamualaikum." Tanpa menunggu jawaban, Kahfi langsung melangkahkan kakinya pergi dari sana. Meninggalkan Aila yang mendengus, dan Daffa yang kembali terkekeh.
Mendengar itu, Aila menoleh. "Lo daritadi ketawa-ketawa mulu!"
Daffa menatap Aila lalu menaikan kedua alisnya. "Kahfi temen lo?" bukannya menyahuti, ia malah melayangkan pertanyaan.
"Maunya sih calon, ya," balas Aila percaya diri.
"Lo suka sama dia—"
KAMU SEDANG MEMBACA
Love in sincerity (TERBIT)
Romansa- PART LENGKAP love in sincerity versi novel bisa dipesan melalui shopee @hestheticofficial "Kebahagiaan", satu kata yang banyak sekali orang mengharapkan kehadirannya. Bahagia itu relatif, siapapun bisa menciptakannya. Termasuk, diri sendiri. Janga...
