43 - Empat puluh tiga

10K 1.4K 410
                                        

بسم اللّه الرحمن الرحيم

Vote dan komennya, tie!
-Semoga suka dan bermanfaat-

***

"Aila?"

Lamunan Aila buyar saat suara itu terdengar. Ia memutar kepalanya, terlihat sosok Kahfi yang baru saja masuk ke dalam kamar hotel dengan sebuah nampan dan sepiring makanan juga segelas minum di atasnya. Aila tersenyum melihat itu.

Mereka baru saja selesai melaksanakan runtutan ibadah umrah. Dan rencananya, nanti sore mereka akan berkeliling melihat-lihat indahnya pemandangan kota Mekah sebelum matahari terbenam, tapi sepertinya, semua harus tertunda karena Aila yang tiba-tiba saja drop.

"Makan dulu ya."

Aila bersila di atas kasur. Matanya menatap ke arah Kahfi yang tengah sibuk memindahkan sepiring makanan tadi ke nakas.

"Kapi,"

Kahfi menoleh lalu menaikkan kedua alisnya. "Kenapa, hm? Perlu sesuatu? Atau ngerasain--"

"Kalau mau keliling sama yang lain, keliling aja. Ila di sini gak papa."

Kahfi terdiam beberapa saat setelahnya tersenyum lembut. Kahfi mendudukkan tubuhnya di pinggiran kasur lalu mulai menyuapkan Aila dengan makanan yang diambilnya tadi. "Makan."

"Kapi--"

"Makan dulu, sayang."

Aila menghela napas panjang. Bibirnya yang terlihat pucat dengan perlahan terbuka hingga satu suapan masuk ke dalam mulutnya.

Melihat itu, Kahfi tersenyum. Tangannya terangkat mengusap puncak kepala Aila. "Jalan-jalan bisa kapan aja. Yang terpenting sekarang itu kesehatan kamu."

"Tapi ini di Mekkah loh. Sayang kalau dilewatin gitu aja."

Kahfi mengangguk mengiyakan. "Iya, tapi niat utama aku ke sini kan buat ibadah umrah bukan jalan-jalan."

Saat melihat gelagat Aila yang hendak menyahut lagi, dengan cepat Kahfi menyela. "Udah, stop mikirin macem-macem. Intinya sekarang, kondisi kamu yang penting. Aku ikut jalan-jalan tapi gak ada kamu juga jadi gak seru, Ai."

Aila menaikkan kedua alisnya. Kahfi yang melihat itu turut menaikkan alis. Tak lama, Aila tersenyum lebar. Perempuan itu mengangguk-angguk paham. "Lupa, Kapi kan gak bisa kalau nggak ada Ila."

Kahfi tertawa pelan. "Itu tau. Makanya, tetep sama aku."

"Siap, laksanakan komandan." Aila menelan makanannya. "Eh tapi, kalau semisal Ila gak sama kamu lagi, kamu bakal cari yang lain gak?"

Kahfi tidak langsung menjawab. Laki-laki itu nampak berpikir sejenak. Ia menyuapkan sesendok makanan lagi ke dalam mulut Aila, barulah setelah itu bersuara. "Kayaknya enggak."

Mulut Aila yang terbuka hendak menerima suapan dari Kahfi mendadak kembali terbungkam. Perempuan itu mendengus. "Gak yakin gitu jawabannya."

Kahfi tertawa. Tangannya bergerak menjawil ujung hidung Aila. "Enggak, sayang. Kamu udah lebih dari cukup. Lagian kalau kamu gak sama aku lagi, kamu mau sama siapa? Oh atau jangan-jangan, kamu mau cari yang lain?"

Dengan cepat Aila menggeleng. "Enggak lah. Bodoh banget kalau Ila cari yang lain padahal di sini udah ada yang sempurna."

Aila melirik Kahfi lalu mengedipkan sebelah matanya. "Kiw, cowok."

"Dih genit." Kahfi menahan senyumnya. "Gak ada yang sempurna, Ai. Allah itu bukan kasih jodoh yang sempurna, tapi Allah ngasih jodoh yang bisa menyempurnakan. Kayak aku sama kamu. Aku gak sempurna, tapi Allah kirim kamu buat nyempurnain separuhnya. Begitupun sebaliknya."

Love in sincerity (TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang