بسم اللّه الرحمن الرحيم
Vote dan komennya, tie!
-Semoga suka dan bermanfaat-
***
"Vin, kalau gue jual motor gue, kira-kira dapet berapa, ya?"
"Hah?!" Gavin reflek menegakkan badannya. Ia menatap tak percaya ke arah Kahfi yang justru terlihat santai setelah mengucapkan hal yang membuatnya kaget tadi. "Ngapain lo jual motor, anjir?!"
Alih-alih menjawab, Kahfi malah kembali bertanya. "Jadi? Kira-kira dapet berapa, Vin? Lo pernah jual motor yang sama jenisnya kayak gue, kan?"
"Bentar. Lo butuh duit sampai jual motor?" Melihat anggukan Kahfi, Gavin menepuk bahu sahabatnya itu. "Kalau emang butuh duit, bilang ke gue. Gak perlu jual motor lo itu. Simpen, simpen, gue bantu sini."
Kahfi mengangguk santai. Ia menyandarkan punggungnya. "Dua ratus juta? Ada?"
Untuk yang kedua kalinya Gavin terkejut mendengar ucapan Kahfi. Ia sampai tersedak air liurnya sendiri. Gavin meminum air yang ada di depannya lalu menatap Kahfi tak percaya.
"Dua ratus juta?! Buset. Lo punya utang ke bank atau gimana?!"
Kahfi mendengus. Tidak ada untungnya meminta bantuan pada Gavin. Tanpa menjawab, Ia beranjak dari sana. "Dahlah, capek gue ngomong sama lo. Banyak iklannya!"
"Woi! Buat apa uang sebanyak itu?!"
Dengan terus melangkah, Kahfi menjawab, "Buat modal nikah!"
Mendengarnya, Gavin tertawa. "Halu! Kesian yang abis ditinggal kawin!"
Kahfi hanya memutar bola matanya malas. Tanpa meladeni lagi, ia terus melangkah. Tujuannya kali ini adalah Arkan, kakak iparnya yang juga menjabat sebagai dosen di kampusnya, hanya saja berbeda fakultas. Kahfi akan meminta saran pada kakak iparnya itu.
"Kahfi!"
Tapi langkahnya terhenti saat seseorang memanggil namanya.
Kahfi memutar kepala. Terlihat sosok gadis dengan rambut panjangnya yang tergerai berlari kecil menghampiri. "Stop." Kahfi menghentikan langkah gadis itu. "Jangan maju lagi," lanjutnya.
"Loh, kenapa?"
"Jangan terlalu dekat, Aila." Kahfi memalingkan wajahnya ke arah lain. "Ada apa?"
Aila meringis, ia mengusap tengkuk lehernya canggung. "Gue-mau bahas tentang kemarin. Lo serius?"
Kahfi yang memang langsung paham, mengangguk. "Kenapa?"
"Kenapa gimana? Harusnya gue yang tanya itu ke lo. Kenapa lo bisa keluarin kalimat itu? Kalau emang lo cuma kasihan sama gue, mending batalin semuanya. Lupain semua kejadiannya. Gue-"
"Saya tidak akan pernah menarik kembali ucapan saya."
Aila terdiam. Ia menatap lurus ke arah Kahfi yang masih enggan membalas tatapannya. Aila menghela napas panjang. "Apa alasan lo?"
"Kamu akan tau sendiri nanti."
Aila kembali terdiam. Gadis itu menunduk menatap ujung sepatunya. Hingga tak lama, terdengar helaan napas. Dan itu dari Kahfi.
"Tidak usah terlalu dipikirkan. Apa yang saya ucapkan kemarin, udah jadi tanggungjawab saya. Sekarang, apa ayah kamu menepati janjinya?"
Aila mengangkat kepalanya lalu mengangguk. "Ayah pergi dari tadi malam dan sampai sekarang belum pulang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Love in sincerity (TERBIT)
Romance- PART LENGKAP love in sincerity versi novel bisa dipesan melalui shopee @hestheticofficial "Kebahagiaan", satu kata yang banyak sekali orang mengharapkan kehadirannya. Bahagia itu relatif, siapapun bisa menciptakannya. Termasuk, diri sendiri. Janga...
