بسم اللّه الرحمن الرحيم
Vote dan komennya, tie!
-Semoga suka dan bermanfaat-
***
Hari ini statusnya akan berubah, hari ini tanggungjawabnya akan bertambah, dan hari ini juga kewajibannya akan beralih.
Kahfi tak henti-hentinya mengucapkan kalimat dzikir. Dengan posisinya yang baru saja selesai sholat subuh laki-laki itu terus menyebut asma Allah. Karena Allah, Kahfi pasti bisa melewati semuanya.
Kahfi yakin ini jalan yang sudah ditetapkan oleh Allah untuknya.
***
"Udah ada perkembangan tentang kondisi Aila?"
Daffa menggeleng. Laki-laki itu menghela napas panjang. "Masih sama. Belum ada perkembangan apapun," balasnya.
Diam sejenak, kemudian Daffa kembali mengeluarkan suaranya. "Fi, gue percaya sama lo. Jangan bikin Aila sakit lagi untuk ke depannya. Jaga Aila baik-baik. Dia perempuan langka dan spesial menurut gue. Jangan buat dia nangis. Lo janji sama gue buat terus bahagiain dia."
Kahfi tersenyum simpul mendengar ucapan Daffa. Ia menepuk bahu Daffa lalu mengangguk. "In syaa Allah. Gue gak janji gak bakal buat dia nangis lagi, tapi gue janji bakal buat air mata yang turun itu air mata kebahagiaan."
Daffa tersenyum lega mendengarnya. "Gue pegang kata-kata lo."
.
.
.
Setelah sholat Dhuha, Kahfi kembali ke ruangan Aila. Di sana sudah terdapat beberapa orang yang menunggunya.
"Assalamualaikum." Kahfi melangkah masuk dan itu mengambil atensi mereka.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Menatap sekilas sosok Aila yang masih belum ada perubahan apapun, kemudian Kahfi mendudukkan tubuhnya pada kursi kosong yang sudah disediakan. Kursi yang berhadapan langsung dengan pria paruh baya yang bernotaben sebagai wali hakim.
Kahfi menunduk sekilas mengatur detak jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia gugup.
"Ananda Kahfi, sudah siap?"
Kepala Kahfi kembali terangkat. Ia menatap kedua orangtuanya yang duduk di samping tak jauh darinya juga dua orangtua lain yang bernotaben sebagai paman dan Bibi Aila. Bukan hanya mereka yang ada di sana, dokter dan beberapa suster pun hadir sebagai saksi. Sedangkan saksi lainnya, terlihat berdiri di ruang ruangan dan hanya dibatasi oleh kaca. Kondisi Aila bisa dibilang masih kritis, jadi tidak boleh terlalu banyak orang yang masuk ke ruangannya.
Orang yang menyaksikan pun hanya beberapa saja.
Kahfi menarik napas panjang lalu menghembuskannya diiringi dengan kepala yang mengangguk. "In syaa Allah, siap, Pak."
"Baik. Silakan jabat tangan walinya."
Mengikuti instruksi dari penghulu, Kahfi mulai menjabat tangan wali. Diam beberapa detik kemudian wali hakim itu memulai akadnya.
"Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikahkan dan kawinkan engkau, saudara Kahfi Ghazi Abqary bin Farhan Abqary dengan saudari Aila Shanum Taleetha binti Tiffani Taleetha, dengan seperangkat alat sholat, satu buah Al-Quran dan uang tunai sebesar 80 juta rupiah dibayar tunai."
KAMU SEDANG MEMBACA
Love in sincerity (TERBIT)
Romance- PART LENGKAP love in sincerity versi novel bisa dipesan melalui shopee @hestheticofficial "Kebahagiaan", satu kata yang banyak sekali orang mengharapkan kehadirannya. Bahagia itu relatif, siapapun bisa menciptakannya. Termasuk, diri sendiri. Janga...
