39 - Tiga puluh sembilan

15K 2.3K 471
                                        

بسم اللّه الرحمن الرحيم

Vote dan komennya, tie!
-Semoga suka dan bermanfaat-

***

Menatap lurus ke depan dengan berbagai pikiran di benaknya. Kahfi menghela napas panjang lalu menyandarkan kepalanya pada sofa. Berita tentang Bram sudah sampai ke telinga Kahfi. Bram berhasil ditangkap dan itu menjadi kelegaan sendiri baginya. Tapi satu yang menjadi pemikiran, kenapa Karel? Kenapa Karel yang membantu? Bukankah laki-laki itu sangat tidak suka dan bahkan menunggu kematian Aila? Kenapa justru membantunya?

Ditambah kini, tidak ada kabar apapun tentang Daffa.

Semuanya rumit.

Helaan napas berat terdengar. Kahfi menegakkan tubuh lalu kepalanya menoleh saat suara pintu kamar mandi terdengar. Aila keluar dengan penampilannya yang lebih fresh. For your information, mereka sudah berada di rumah Aba dan Umma sejak tiga hari yang lalu. Sesuai permintaan Umma. Dan kondisi kaki Kahfi pun semakin hari semakin membaik.

"Serius Kapi mau jalan-jalan?"

Suara Aila terdengar. Ini kesekian kalinya ia bertanya hal serupa. Bukan apa-apa, tadi Kahfi meminta jalan-jalan sore sedangkan kaki laki-laki itu baru sedikit mendingan, Aila hanya takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Terlebih, Kahfi meminta untuk jalan kaki, katanya sekalian menikmati udara sore hari sembari berkeliling komplek.

"Kaki Kapi udah gak sakit?"

Kahfi tersenyum. Ia beranjak berdiri lalu merentangkan kedua tangannya. "Liat, udah sembuh, kan? Justru kalau aku di rumah mulu, rebahan, duduk, ya lama sembuhnya. Harus digerakkin biar cepet sembuh kakinya, Ai. Biar tulang-tulangnya gak kaku juga," jelasnya lembut.

Aila menatap Kahfi beberapa detik kemudian menghela napas pasrah, kepalanya mengangguk. "Oke. Tapi kalau sakit lagi bilang ya."

"Na'am, sayang."

Aila tersenyum manis mendengarnya. Ia berjalan ke depan meja rias lalu mulai bersiap-siap. Kahfi hanya mengamati dari sofa dengan sudut bibir yang terus tertarik ke atas.

"Jangan cantik-cantik."

Pergerakan Aila terhenti sejenak, melirik Kahfi lewat pantulan cermin kemudian terkekeh pelan. "Na'am, sayang," sahutnya mengikuti nada khas Kahfi.

"Gitu ya sekarang mah."

Lagi, Aila terkekeh. Tanpa menimpali lagi, Aila kembali fokus pada kegiatannya. Tidak sampai sepuluh menit, ia selesai. Khimar hitam sudah menutupi kepalanya. "Selesai!"

Kahfi tersenyum. Ia bangkit dari sofa lalu berjalan menghampiri. Kahfi berdiri tepat di belakang Aila. Tatapan mereka bertemu lewat pantulan cermin selama beberapa detik, sebelum Kahfi membalikkan badan Aila hingga menghadap ke arahnya.

"Cantik. Tapi.." Kahfi menggantungkan ucapannya. Tangannya terulur menurunkan khimar hitam Aila yang terlilit. "Tapi lebih cantik, paling cantik, lebih-lebih cantik kalau gini," lanjutnya.

Dengan gerakan lembut juga senyum yang tidak luntur dari bibirnya, Kahfi membenarkan posisi khimar Aila. "Jangan dililit ya, sayang. Aku takut tiba-tiba angin kenceng terus kamu kecekek sama kerudung kamu sendiri."

Love in sincerity (TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang