بسم اللّه الرحمن الرحيم
Vote dan komennya, tie!
-Semoga suka dan bermanfaat-
***
"Ayah..."
Pandangan Bram berpindah pada Kahfi. Mengingat sebentar, setelahnya terkekeh sinis. "Jadi ini laki-laki yang sudah memperbudak kamu?"
Dahi Kahfi mengernyit. Tentu ia tak paham dengan apa yang diucapkan oleh ayahnya Aila. Kahfi menegakkan tubuhnya lalu berdiri menghadap Bram. "Maksud bapak? Maaf sebelumnya, saya temannya Aila."
"Teman dengan keuntungan?"
"Ayah!" Aila berteriak berusaha menghentikan sang Ayah. Ia tak ingin Ayahnya berkata macam-macam pada Kahfi. Kahfi tidak tau apapun, laki-laki itu tidak boleh masuk ke dalam masalahnya.
"Kamu bayar berapa anak saya sampai anak saya berani untuk melawan saya?"
Kahfi menukik kedua alisnya. "Maaf saya tidak paham dengan-"
"Halah. Pers*tan!" Bram maju lalu menarik tangan Aila kasar. Kahfi yang melihat itu sontak membulatkan matanya. Ia ingin mendekat, namun Bram lebih dulu memberinya peringatan.
"Menjauh dari anak saya. Jangan pernah menemuinya lagi."
Kahfi mengabaikan. Fokusnya kini pada Aila yang terlihat meringis kesakitan. Air mata gadis itu juga kembali keluar membuat sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, kini terasa jelas. "Aila.."
Pandangan Kahfi kembali mengarah pada Bram. "Tidak bisakah anda bersikap lembut kepada putri anda?"
Bahasanya berubah. Sungguh, ia sangat tidak suka melihat seorang laki-laki yang berbuat kasar pada perempuan.
"Kamu tidak perlu ikut campur. Ini putri saya. Terserah saya dong mau memperlakukannya seperti apa?"
"Tapi putri anda bukan hewan!" Kedua alis Kahfi menukik tajam. Ia tak terima dengan kalimat itu. "Putri anda juga berhak mendapatkan keadilan!"
Bram tertawa sinis. "Tau apa kamu tentang keadilan? Bocah seperti kamu, tidak pantas berbicara tentang keadilan."
"Tapi setidaknya saya tau bagaimana menghormati seorang wanita." Dengan tegas Kahfi membalas. Ia diam sejenak, kemudian kembali berucap.
"Jika anda tidak bisa membahagiakan putri anda, maka berilah pada saya. Izinkan saya untuk menikahinya dan membuat hidupnya bahagia."
Bukan hanya Bram, bahkan Aila pun terkejut mendengar ucapan Kahfi barusan. Gadis itu menatap ke arah Kahfi dengan mata sembabnya. "Kahfi.."
Saat tatapan mereka bertemu, Aila menggeleng seakan mengisyaratkan agar ia tidak perlu melakukan hal itu.
Tapi Kahfi tetaplah Kahfi. Sosok keras kepala yang tidak pernah bercanda dengan apa yang ia ucapkan. Ia mengabaikan Aila dan kembali menatap ayah dari gadis itu.
"Membuat putri saya bahagia? Punya apa kamu sampai bisa berbicara seperti itu? Bocah ingusan sepertimu, saya yakin masih meminta pada orangtua. Apa jaminannya kalau kamu bisa membahagiakan putri saya?!"
Dengan tenang, Kahfi menjawab. "Bahagia bukan selalu tentang harta. Atas izin Allah, saya akan membahagiakan putri anda dunia akhirat. Akan saya tuntun dia sampai sama-sama bahagia di surga-Nya."
Bram terkekeh sinis. "Pers*tan dengan akhirat!"
Kahfi sontak beristigfar mendengar umpatan pria paruh baya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love in sincerity (TERBIT)
Romansa- PART LENGKAP love in sincerity versi novel bisa dipesan melalui shopee @hestheticofficial "Kebahagiaan", satu kata yang banyak sekali orang mengharapkan kehadirannya. Bahagia itu relatif, siapapun bisa menciptakannya. Termasuk, diri sendiri. Janga...
