41 - Empat puluh satu

15.2K 2.2K 1K
                                        

بسم اللّه الرحمن الرحيم

Vote dan komennya, tie!
-Semoga suka dan bermanfaat-

***

just info, 16+/17+ di cerita ini tuh mksdnya kekerasan si bram ya, BUKAN ADEGAN" YG ITU. jdi jangan harap ada adegan begituan. bnyk bgt yg nnya kmren, aga kesel si, tpi gpp. ini aku kasih tau lagi ogheee. genre cerita aku itu smuanya spiritual, religi, dan ga akan ada adegan" kya gtu. jadi jangan berharap yaaa bestiee, yg mau kya gtu, lapaknya bkan sini. maap" sj. skian trima kapi🙏

.

"Eleuh, eleuh terlihat cerah sekali muka bapak yang satu ini."

Kahfi menoleh lalu tersenyum lebar. Ia menaik turunkan alisnya seraya menyisir rambutnya dengan jari-jari tangan. Hal itu membuat Gavin bergidik ngeri. "Istigfar sih kata gue mah, Fi."

Gavin mengeluarkan sesuatu dari dalam ransel lalu melemparkannya ke arah Kahfi yang langsung ditangkap oleh sahabatnya itu.

"Flashdisk apa nih?" tanya Kahfi seraya menelisik benda kecil itu.

"Dari Pak Bambang. Lo kelamaan datengnya. Beliau ada acara lagi di luar, gak sempet nunggu lo lebih lama lagi. makanya nitipin flashdisknya ke gue. Itu flashdisk isinya revisian tugas lo."

Kepala Kahfi mengangguk. "Oke. Sorry banget gue telat. Aduh, jadi gak enak sama Pak Bambang."

"Halah gaya lo gak enak! Ngapain aja coba di rumah, dibilang suruh dateng lebih awal malah kagak!"

Kahfi menyengir. Ia menaruh flashdisknya di dalam ransel. "Orang yang belum nikah belum boleh tau, masih kecil."

Selesai Kahfi mengucapkan hal itu, satu jitakan mendarat di kepalanya. Tentu Gavin lah pelakunya. "Gue sebar undangan, kaget lo!"

"Hm." Kahfi hanya mengedikan bahunya acuh tak acuh lalu dengan santai ia kembali melangkah menuju kelasnya. "Gue duluan."

Gavin hanya memutar bola mata malas. Tanpa meladeni lagi, ia berbalik berjalan berlawanan arah dengan Kahfi. Tujuannya saat ini adalah perpustakaan fakultas. Gavin ingin mengembalikan beberapa buku yang sempat ia pinjam sebelumnya. Tapi belum niatnya benar-benar terlaksana, langkah Gavin harus terhenti karena seseorang yang memanggil namanya.

Gavin menoleh. "Eh, Zaskia. Ada apa nih?"

Zaskia tersenyum ramah lalu pandangannya beralih pada tempat Kahfi melangkah tadi. "Maaf, Kak, aku cuma mau tanya. Em, Kak Kahfi beneran udah nikah?"

***

Sore hari ini cuaca terlihat cerah, angin berhembus menyapu dedaunan kering yang sudah berjatuhan juga membelai lembut kulit wajah seorang laki-laki yang tengah berjongkok di samping salah satu gundukan tanah. Laki-laki itu tersenyum lalu tangannya bergerak membantu angin menyingkirkan dedaunan yang jatuh tepat di atas gundukan tanah itu.

"Assalamualaikum, Bunda."

Suaranya yang berat terdengar bersamaan dengan elusan tangannya pada batu nisan bertuliskan nama sang Bunda. Laki-laki itu diam sejenak setelahnya menghela napas panjang. Tidak ada sahutan. Kenyataan lagi-lagi menamparnya.

Love in sincerity (TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang