32 - Tiga puluh dua

15.6K 2.6K 577
                                        

بسم اللّه الرحمن الرحيم

Vote dan komennya, tie!
-Semoga suka dan bermanfaat-

***

Memijat pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa pening. Kahfi menelungkupkan wajahnya pada meja, ia memejamkan mata berusaha untuk mengurangi pening di kepalanya. Tadi ia tengah merevisi tugas dan di tengah-tengahnya kegiatannya, tiba-tiba saja kepalanya terasa berat, badannya pun terasa tak enak sekarang. Kahfi menghela napas panjang. Sepertinya ia butuh istirahat.

Kahfi mengedarkan pandangannya hingga netranya jatuh pada sosok Gavin yang tengah duduk di depan salah satu stand untuk memesan kopi, katanya. Kahfi bangkit ingin menghampiri, tapi seorang gadis berkhimar syar'i lebih dulu datang dan menyapanya membuat niat Kahfi urung.

"Assalamualaikum, Kak." Kahfi hanya mengangguk.

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ya? Ada apa, Zaskia?"

Alih-alih menjawab, gadis itu malah terdiam membuat Kahfi mengernyitkan dahinya. "Zaskia? Ada yang perlu saya bantu?"

Zaskia tersadar. Gadis itu menunduk lalu setelahnya mengangguk. "Maaf, Kak. Di perumahan aku ada pengajian besok malam, kira-kira kakak bisa jadi pengisi materinya?"

"Kenapa kamu minta saya buat jadi pemateri?" Kahfi balik bertanya.

Zaskia diam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab. "Pengajiannya lumayan dadakan, Kak. Dan kalau undang pemateri lain pasti harus dari jauh-jauh hari."

"Terus kalau sama saya dadakan gak papa?"

Zaskia mengibaskan tangannya. "B-bukan gitu maksudnya. Maksud aku--"

"Iya paham, saya hanya bercanda." Kahfi terkekeh pelan. Tak lama, ia mengangguk. "Insyaallah saya usahakan."

Zaskia tersenyum. "Alhamdulilah. Syukron, Kak."

Kahfi mengangguk. "Oh iya, saya juga mau minta maaf kemarin tidak datang di acara pernikahan kamu dan Qasim. Saya ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan," ujarnya mengungkit.

Zaskia tersenyum tipis lalu mengangguk. "Iya, gak papa, Kak."

"Barakallah buat kamu sama Qasim ya. Semoga samawa."

Zaskia hanya mengangguk pelan. Setelah itu suasana hening sebelum Kahfi kembali bersuara. "Ada lagi yang ingin disampaikan? Saya masih ada urusan."

"Oh, maaf." Zaskia menunduk sopan. "Gak ada lagi, Kak."

"Baik, kalau gitu saya duluan, ya. Nanti saya kabari lagi malam ini atau maksimal besok pagi." Melihat anggukan Zaskia, Kahfi mengambil ranselnya lalu menyampirkannya di bahu. "Saya duluan, assalamualaikum."

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Kahfi berlalu dan Zaskia diam di tempat dengan mata terus mengarah pada punggung Kahfi yang semakin menjauh.

Entah sadar atau tidak, telapak tangan Zaskia mengepal menahan sesuatu di hatinya. Gadis itu mengerjapkan matanya yang seketika terasa memanas, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain lalu setelahnya berbalik dan berlalu dari sana.

Love in sincerity (TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang