34 - Tiga puluh empat

14.9K 2.5K 658
                                        

بسم اللّه الرحمن الرحيم

Vote dan komennya, tie!
-Semoga suka dan bermanfaat-

***


Keadaan Kahfi sudah membaik dan kemarin pagi mereka sudah balik ke rumah mereka. Kahfi sakit 3 hari dan selama itu juga ia menitip absen pada Gavin. Hari ini ingin masuk tapi Kahfi tidak bisa meninggalkan Aila yang terlihat berbeda sejak kejadian kemarin. Gadis itu jadi lebih banyak diam dan Kahfi belum menemukan penyebabnya.

Jika ditanya, Aila selalu menjawab dengan gelengan dan senyuman seakan meyakinkan kalau tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi Kahfi tidak percaya itu.

"Ila mau buat sarapan du--"

Belum sempat Aila menyelesaikan ucapannya, Kahfi lebih dulu menarik tangannya hingga Aila menubruk dada bidangnya yang terbalut kaos hitam.

Kahfi melingkarkan tangannya di pinggang Aila, laki-laki itu memeluk erat istrinya.

"Aku tau ada yang kamu sembunyiin dari aku. Ya kan?"

Aila terdiam. Ia berusaha melepaskan diri dari pelukan Kahfi, tapi Kahfi malah mengeratkannya. Kahfi menggeleng. "Aku gak akan lepasin kamu sebelum kamu jelasin semuanya."

"Kapi..."

Kahfi tidak mengindahkan panggilan itu. Ia terus memeluk erat Aila, sangat erat dan tidak akan melepaskannya. Seperti ucapannya tadi. Kahfi hanya ingin Aila jujur, ia tidak mau ada suatu rahasia di dalam hubungan mereka.

"Nanti kamu bisa telat, Kapi."

"Gak masalah. Kamu lebih penting. Kalau disuruh pilih mau dunia atau kamu, aku juga tetep bakal milih kamu," balas Kahfi tanpa ragu.

Aila diam beberapa saat. "Serius? Tapi Ila gak selamanya ada."

"Dunia juga gak selamanya ada. Aku juga gak selamanya ada. Tapi, Ai, rasa sayang dan cinta aku ke kamu gak bakal ada yang bisa ngehancurin, kita gak bakal ada yang bisa misahin, sekalipun kematian. Karena aku selalu berdoa, kelak, kita berdua akan kembali dipertemukan di syurga-Nya dan cinta kita akan abadi di sana."

Hati Aila berdesir hangat mendengar kalimat yang terucap lembut dari bibir tipis Kahfi. Perlahan tapi pasti, Aila menyandarkan kepalanya di dada Kahfi.

"Tapi kalau tempat akhir kita beda gimana? Ila--" Aila tidak sanggup melanjutkan ucapannya.

Kahfi yang paham memejamkan mata dengan terus berdoa semoga hal yang ditakutkan Aila tidak terjadi.

"Aila, kalau syurga itu setangkai bunga mawar aku bakal memetiknya buat kamu walau tangan aku harus tertusuk durinya sekalipun. Kalau syurga itu sebuah serpihan kaca aku bakal ambil buat kamu walau tangan aku harus tergores dan berdarah. Kalau syurga itu sebuah rumah aku bakal ngebangunnya buat kamu walau harus mengeluarkan banyak keringat. Tapi karena syurga adalah tempat yang belum pernah dilihat siapapun, maka aku terus berdoa sama Allah buat menyiapkan syurga itu untuk kamu."

Detak jantung mereka sama-sama berdetak kencang, rasa takut menyerang mereka secara bersamaan. Tangan Aila yang semula menggantung kini bergerak membalas pelukan Kahfi.

Kahfi mencium lembut ubun-ubun Aila. "Allaahumma baarik lii fii ahlii wa baarik li ahlii fiyya. Ya Allah berkahilah istriku untukku dan berkahilan aku untuk istriku," doanya dalam hati.

Suasana hening. Mereka sama-sama menikmati pelukannya. Waktu seakan berhenti, mereka seakan berada di tempat yang sangat menenangkan.

Kahfi menaruh dagunya di atas kepala Aila, aroma sampo lemon langsung menguar ke indra penciumannya. "Ai," panggilnya.

Love in sincerity (TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang