21 - Dua puluh satu

17.5K 3K 609
                                        

بسم اللّه الرحمن الرحيم

Vote dan komennya, tie!
-Semoga suka dan bermanfaat-

***

Dengan kaos putih polos dan celana panjangnya Kahfi keluar dari kamar mandi. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk lalu menaruhnya kembali pada gantungan kecil yang terletak di depan kamar mandi.

Kahfi mengedarkan pandangannya dan ia tidak menemukan Aila di sana. Kahfi menggeleng-gelengkan kepala mengingat kejadian tadi.

Saat Kahfi hampir frustasi karena kelemotan Aila, Umma tiba-tiba saja datang menengahi dan akhirnya Umma yang menjelaskan pada Aila dengan bahasanya sendiri. Dari situ baru Aila paham.

Kahfi benar-benar tak habis pikir dengan keunikan Aila yang bertambah. Apa kelemotan nya itu terjadi karena benturan di kepala pasca kecelakaan kemarin?

Bisa jadi. Tidak ada yang tidak mungkin, kan? Kahfi mengangguk menyetujui opininya sendiri.

Ia melangkah keluar kamar bermaksud ke dapur untuk mengambil minum. Tenggorokannya terasa sangat kering.

Dengan menggumamkan sholawat, Kahfi menuruni tangga. Ia menyisir rambut dengan jari-jari tangan.

Saat tiba di pintu dapur, pandangan Kahfi tertuju pada sosok gadis yang tengah duduk di kursi pantry. Gadis itu terlihat tengah fokus memotong-motong sayur. Posisinya membelakangi, jadi sepertinya tidak tau dengan kehadiran dirinya saat ini.

"Umma, ini kayak gini kan potongannya?"

Kahfi mengulurkan niatnya. Ia justru bersandar di dinding dengan tangan bersedekap dada. Matanya memperhatikan kegiatan dua perempuan berbeda generasi yang tengah memasak di sana.

"Iya, terserah kamu. Inget, potongannya jangan terlalu besar, takut keselek pas makan." Umma menjawab tanpa menoleh. Wanita paruh baya itu tengah fokus pada kompor, membelakangi juga, jadi tidak mengetahui kehadirannya.

"Kalau Aila motong yang besar-besar buat Kahfi. Biarin aja dia keselek."

Kahfi menarik sudut bibirnya mendengar gumaman itu.

"Udah selesai nih, Umma."

"Bawa sini."

Aila bangkit lalu berjalan menghampiri Umma dengan membawa hasil potongannya. Dan semua tak lepas dari pandangan Kahfi.

"Yaudah, kamu mandi aja dulu. Ini biar Umma yang lanjut. Jangan lupa ganti perban nya ya."

Aila terlihat mengangguk. Gadis itu berbalik dan saat itu juga pandangan mereka bertemu.

Aila menampakkan wajah terkejut, sedangkan Kahfi menaik turunkan alisnya.

"Kenapa—loh Kahfi?" Umma menghentikan ucapannya pada Aila saat ia juga turut melihat keberadaan Kahfi. "Sejak kapan kamu di situ?"

Kahfi menegakkan tubuhnya lalu melangkah. "Sejak pemotong sayur punya niat buat bikin konsumennya keselek," jawabnya dengan nada menyindir.

Aila memutar bola matanya malas. Matanya mengarah pada Umma yang sepertinya tidak paham dengan yang diucapkan oleh Kahfi. Memang semua ucapan yang keluar dari mulut Kahfi terlalu belibet.

"Umma, Aila ke atas dulu ya."

"Iya, sok."

Aila melanjutkan langkahnya. Saat berpapasan dengan Kahfi, Aila menginjak kaki laki-laki itu membuat sang empu reflek meringis.

Love in sincerity (TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang