بسم اللّه الرحمن الرحيم
Vote dan komennya, tie!
-Semoga suka dan bermanfaat-
***
Mematikan mesin motor, lalu Kahfi menjatuhkan wajahnya pada stang motor. Mereka sudah sampai di depan rumah. Mulut Kahfi terus menggumamkan kalimat istigfar guna meredakan amarah yang masih ada di hatinya karena insiden tadi.
Di belakang, Aila hanya diam. Gadis itu mengusap kasar air mata yang hampir menetes. Kalimat yang dilontarkan oleh wanita lansia tadi sungguh menusuk hatinya. Ia menunduk seraya memilin jari-jari tangannya, hingga Kahfi terlihat turun lebih dulu dan mengulurkan tangan padanya.
Aila turun dibantu Kahfi dan saat kakinya menapak tanah, Kahfi langsung membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.
Aila sempat membeku, tapi ia merilekskan lagi tubuhnya. "K-kapi?"
Kahfi menyembunyikan wajahnya pada leher Aila yang tertutup khimar pashmina. Tangan kanan Kahfi mengelus lembut kepala istrinya itu. "It's okay. Jangan dengerin mereka. You're special for me."
Sudut bibir Aila terangkat mendengar kalimat yang keluar dari bibir Kahfi. Ia mengangguk. "Ila gak mikirin kok."
"Bohong." Kahfi menimpali. "Inget? Jangan menutupi apapun dari aku, termasuk soal perasaan kamu. Keluarin semua emosi kamu kalau lagi sama aku, jangan bohong dengan berdalih gak papa."
Kahfi melepas pelukannya. Ia menarik lembut tangan Aila masuk ke dalam rumah. Aila hanya diam mengikuti.
"Ayo, sekarang udah di dalem. Keluarin semua emosi kamu." Kahfi menghentikan langkahnya di ruang tengah. Ia berbalik dan menatap Aila yang menunduk.
"Ai, hei." Kahfi membungkuk, ia mengangkat dagu Aila dengan tangannya hingga kepala gadis itu terangkat. Kahfi tersenyum seraya menatap dalam kedua netra Aila yang mulai berkaca.
"Wanna cry? Aku tau hati kamu sakit, jangan ditahan, ya? Jadi tambah sesek nantinya. Di depan aku, jangan sok kuat."
Setelah kalimat yang terucap lembut dari bibir Kahfi itu keluar, tangis Aila langsung pecah. Gadis itu berjongkok lalu menutup wajahnya dengan telapak tangan. Ia terisak di sana.
Kahfi memejamkan mata sejenak sebelum ia turut menurunkan tubuhnya. Kahfi menarik lembut tubuh Aila ke dalam pelukannya.
"Ila bukan pembunuh..."
Kahfi mengangguk dengan semakin mengeratkan pelukannya. "Iya. Perempuan itu bohong."
"Ila anak sialan?"
Kahfi menggeleng. "Bukan. You're special girl. You're special, you're special, you're special."
Tangis Aila semakin kencang. Gadis itu mencengkram jaket yang digunakan oleh suaminya. Aila menelusupkan wajahnya pada dada Kahfi yang terbalut kaos. "Ila anak ha--ram?"
Kahfi menggeleng kuat. Cairan bening yang tadi terbendung di kelopak matanya, kini mengalir tanpa izin. Kahfi terlalu lemah sekarang dengan apapun yang berkaitan dengan Aila. Hatinya ikut sakit. Kahfi mendekatkan mulutnya ke telinga Aila. "Gak ada anak haram. Semua bayi yang lahir dalam keadaan suci. Gak ada, Ai," bisiknya.
Kahfi mengecup pelipis Aila lalu mengelus lembut kepala bagian belakang Aila membiarkan gadis itu puas mengeluarkan semua rasa sesaknya.
Kahfi kembali mendekatkan mulutnya ke telinga Aila. Laki-laki itu kembali membisikkan sebuah kalimat yang membuat Aila langsung membalas pelukannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love in sincerity (TERBIT)
Romance- PART LENGKAP love in sincerity versi novel bisa dipesan melalui shopee @hestheticofficial "Kebahagiaan", satu kata yang banyak sekali orang mengharapkan kehadirannya. Bahagia itu relatif, siapapun bisa menciptakannya. Termasuk, diri sendiri. Janga...
