19 - Sembilan belas

16.5K 3.2K 803
                                        

بسم اللّه الرحمن الرحيم

Vote dan komennya, tie!
-Semoga suka dan bermanfaat-

***

vote dan komennya jangan lupaa! ramein yoo!

.

"Saya imam kamu, dan kamu sudah menjadi tanggungjawab saya."

Aila diam. Berpikir berusaha memaknai kalimat yang diucapkan oleh sosok laki-laki di depannya. Ia mengangkat pandangannya menatap kedua mata Kahfi yang juga tengah menatapnya.

Sedangkan Kahfi menarik sudut bibirnya tersenyum tipis. Tapi senyum itu hilang saat mendengar respon Aila.

"Imam? Imam sholat?"

Benar, tapi salah.

Kepala Kahfi mengangguk. "Iya imam sholat. Imam hidup kamu juga."

"Ha?"

Kahfi menghela napas panjang. Ia memijat keningnya. "Suami kamu, Aila."

"Ha?"

"Astagfirullah." Kahfi menegakkan tubuhnya dengan siku menumpu pada brankar. Ia sedikit memajukan wajahnya mendekat pada Aila. Kahfi menatap dalam kedua netra gadis itu. "Kemarin saya sudah menikahi kamu. Jadi sekarang saya suami kamu dan kamu istri saya. Sampai sini paham?"

Mata Aila mengerjap cepat lalu memalingkan pandangannya ke lain arah. Aila berdeham saat tenggorokannya tiba-tiba saja terasa kering.

"Paham? hm?"

Aila melirik Kahfi sekilas yang masih belum mengubah posisinya setelah itu kembali membuang wajah. Tubuh Aila seketika saja tidak bisa digerakkan. Bohong kalau ia bilang masih belum paham. Penjelasan Kahfi tadi cukup jelas.

"Aila? Hei?" Kahfi melambaikan tangannya di depan wajah Aila. "Gak kesurupan, kan?"

Aila menggeleng tanpa mengalihkan pandangannya. "Enggak, cuma syok," balasnya pelan.

Kahfi mengulum bibirnya menahan senyum mendengar pengakuan dari Aila. Laki-laki itu memundurkan wajahnya lalu bersedekap dada dengan tatapan mengarah pada Aila yang masih enggan membalas tatapannya. "Jadi sekarang paham, kan? Kamu tanggungjawab saya, jadi jangan pernah berpikir buat kabur lagi."

Aila melirik Kahfi dengan ekor matanya. Ia berdeham. "I—ini serius?"

Kahfi mengangguk. "Untuk apa saya bohong?"

Aila tertawa kaku. Gadis itu menggeleng. "Boong nih pasti. Ini cuma alesan kan biar gue gak kab—"

Ucapan Aila terputus karena Kahfi yang tiba-tiba memajukan wajah, menarik pelan wajah Aila lalu mendaratkan bibirnya di kening gadis itu. Tubuh Aila membeku, sedangkan sang pelaku kembali duduk tenang di kursi.

"Sekarang percaya?" Kahfi menaikkan kedua alisnya. "Saya gak mungkin ngelakuin hal tadi ke perempuan yang bukan mahram saya," lanjutnya.

Mata Aila kembali mengerjap cepat. Gadis itu melotot lalu menelan salivanya.

"Aila? Ka—"

"GAK! AAAA UMMAA!" Aila langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Gadis itu melipat kedua lututnya. Di dalam selimut, ia menggigiti ujung jarinya dengan jantung yang berdegup kencang.

Sedangkan di luar selimut, Kahfi terkekeh pelan melihat tingkah Aila yang menurutnya menggemaskan.

Tangan Kahfi terulur hendak menarik selimut yang menutupi gadis itu. Tapi Aila sudah menjaga-jaga dengan memegang erat selimut itu agar tidak terbuka.

Love in sincerity (TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang