بسم اللّه الرحمن الرحيم
Vote dan komennya, tie!
-Semoga suka dan bermanfaat-
***
Suasana di meja makan hening. Tidak ada yang membuka suara. Aila menatap Kahfi yang tengah menyuapkan makanan hasil masakannya dengan perasaan harap-harap cemas. Ia melipat tangannya di atas meja menunggu respon yang diberikan oleh suaminya itu.
Kedua alis Aila terangkat saat makanan itu benar-benar masuk dan ditelan oleh Kahfi. Tatapan mereka bertemu.
"Gimana?"
Kahfi menelan makanannya lalu mengangguk. "Enak, enak." Lagi, ia memasukan satu suapan ke mulutnya sembari tersenyum pada Aila.
"Serius enak?"
Kahfi mengangguk. "Iya. Tapi--"
"Tapi?" Aila menatap Kahfi dengan tatapan penasarannya. "Ada komentar lain? Atau ada yang kurang?" lanjutnya bertanya.
Kahfi tersenyum. Ia mengambil sedikit suapan baru lalu menyodorkannya di depan mulut Aila. "Buka mulutnya coba."
Aila menurut. Ia membuka mulutnya hingga suapan itu masuk. Rasa asin langsung menyebar di mulutnya membuat dahi Aila mengernyit. "Asin," responnya.
Kahfi terkekeh pelan. Ia mengacak rambut Aila. "Udah enak, cuma garamnya kebanyakan ya? Atau emang kamu suka asin?" ujarnya dengan nada lembut agar tidak menyinggung.
Aila bergidik lalu menggeleng. "Enggak juga. Ini emang Ila ngasih garem nya kebanyakan deh kayaknya. Maaf."
"Iya, gak papa. Ini udah enak, garamnya aja yang terlalu banyak, di rasa lainnya udah pas kok. Keren kamu bisa masak." Kahfi tersenyum. "Buat kesalahan yang sekarang, jadiin pelajaran buat kedepannya, oke?"
Aila diam sejenak kemudian tersenyum. Gadis itu mengangguk. "Yaudah, ini gak usah dimakan, aku masak ulang."
Aila berniat mengambil mangkuk berisi sayur yang ada di depan Kahfi, tapi laki-laki itu menahannya. Kahfi menggeleng. "Gak usah masak lagi. Gak papa yang ini."
"Tapi kan itu asin, Kapi."
"Bisa diakalin, Ai. Masa dibuang, sayang makanannya, mubazir." Kahfi bangkit seraya membawa semangkuk sayurnya. Ia berjalan ke arah dispenser lalu menambahkan sedikit air pada sayurnya. Setelah dirasa cukup, Kahfi kembali ke meja makan.
Ia menyicipi lagi sayurnya lalu tersenyum. "Nah, udah deh. Cobain nih."
Aila kembali menerima suapan yang disodorkan oleh Kahfi.
"Udah pas kan rasanya?" Aila mengangguk membuat Kahfi kembali tersenyum.
Kahfi meraih sepiring nasi yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Aila kemudian menaruh sayur tadi di atasnya. Setelah itu ia memulai acara makanannya dengan senyum yang masih terpatri di bibir tipisnya.
Dan semua itu tak lepas dari pandangan Aila. Sudut bibir gadis itu tanpa sadar terangkat. Perlakuan Kahfi tadi sungguh membuat hatinya berdesir hangat. Perasaan yang semula samar, kini semakin jelas. Aila tersenyum simpul.
"Ai?"
"Iya?" Lamunan Aila buyar. Ia mengerjapkan matanya dengan raut yang sudah kembali normal.
"Kenapa malah bengong? Sini, buka mulutnya, aku suapin. Aaaaaaa." Kahfi menyodorkan satu suapan ke mulut Aila. Ia memperagakan membuka mulut pada istrinya itu. "Ayo buka mulutnya."
Aila menggeleng. "Ila bisa sendiri."
Kahfi turut menggeleng. "Buka mulutnya, Aila."
"Tapi--" Aila menghela napas pasrah saat melihat tatapan tegas yang diberikan oleh Kahfi. Akhirnya ia menerima suapan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love in sincerity (TERBIT)
Spiritual- PART LENGKAP love in sincerity versi novel bisa dipesan melalui shopee @hestheticofficial "Kebahagiaan", satu kata yang banyak sekali orang mengharapkan kehadirannya. Bahagia itu relatif, siapapun bisa menciptakannya. Termasuk, diri sendiri. Janga...
