09 - Sembilan

14.4K 2.5K 268
                                        

بسم اللّه الرحمن الرحيم

Vote dan komennya, tie!
-Semoga suka dan bermanfaat-

***


"Ummaa, Kahfi berangkat ya."

Kahfi melangkahkan kakinya ke salah satu sudut ruang keluarga dimana sebuah kandang berisi kucing putih abu terlihat di sana. Kahfi tersenyum lebar. Ia berjongkok lalu tangannya menyempil masuk lewat celah kandang untuk mengelus bulu-bulu halus hewan peliharaannya yang terlihat tengah makan.

"Makan yang banyak ya, biar tambah gembul."

"Kahfi, serius mau kuliah? Tadi malam badan kamu panas loh."

Kahfi memutar kepalanya lalu bangkit. Laki-laki itu menatap ke arah sosok wanita paruh baya yang baru datang dari arah belakang. Kahfi menimpali dengan senyum. "Kahfi udah gak papa, Umma."

"Serius?" Umma menaruh hanger gantungan baju di tempatnya kemudian beralih memegang dahi sang putra. "Masih anget ini."

Dengan gerakan pelan, Kahfi menurunkan tangan sang Umma dari dahinya. "Anget doang. Kalau dingin ya serem, kaya orang mati," kekehnya.

Umma mendengus. "Angetnya kamu beda. Udah, libur dulu aja. Jangan terlalu diforsir. Kemarin hari Ahad juga bukannya istirahat malah ada urusan kajian, kan?"

"Kan amanah, Umma."

"Iya tau. Makanya sekarang istirahat. Kamu belum sempet istirahat dari kemarin-kemarin," balas Umma penuh perhatian.

"Bukannya Umma pernah bilang, istirahat yang bener-bener istirahat buat seorang muslim itu ya di akhirat. Dunia kan emang tempatnya ikhtiar, Umma. Lagian, setiap malam Kahfi udah cukup istirahat, Kok. Tidur Kahfi gak pernah telat, kan?"

Mendengar penuturan Kahfi, umma menghela napas panjang. Wanita itu mengetuk pelan dahi sang putra. "Bisa aja kalau dibilangin."

Kahfi menyengir. "Boleh ya, Umma? Janji deh, kalau udah gak kuat, Kahfi langsung pulang. Hari ini ada presentasi tugas kuliah juga. Sayang kalau dilewatin gitu aja," ucapnya membujuk.

Umma diam menatap Kahfi beberapa saat, sebelum akhirnya mengangguk. "Iya, tapi janji setelah matkul selesai, langsung pulang, istirahat."

Mendengarnya, Kahfi tersenyum lebar. Dengan cepat laki-laki itu mengangguk menyetujui. "Siap, Umma. Kahfi berangkat, ya. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam. Eh, udah sarapan?"

Langkah Kahfi terhenti. Ia menoleh lalu mengangguk. "Udah."

"Udah diminum madunya?"

"Udah, Umma."

"Bagus."

Kahfi terkekeh. "Dadah, Umma. Kahfi berangkat."

Umma menghela napas seraya menggelengkan kepalanya. "Iya, hati-hati. Jangan ngebut-ngebut!"

Kahfi hanya mengacungkan ibu jarinya. Ia berlari kecil keluar rumah. Mengeluarkan kendaraan bermotornya juga membuka pagar rumah.

Tapi saat pagar terbuka, pergerakan Kahfi terhenti begitu melihat sosok gadis yang berdiri di depan pagar dengan bersandar pada dinding tiang pagar. Dahi Kahfi mengernyit saat menyadari siapa sosok itu.

"Zahra?"

Sang pemilik nama menoleh. Dan Kahfi tertegun saat melihat wajah sembab gadis itu. "Ra? Kamu—"

"Bantuin aku, Kak. Aku gak mau dijodohin."

***

Mata kuliah sudah selesai. Kahfi mematikan laptop lalu memasukan ke dalam ranselnya. Setelah itu ia bangkit dan bergegas keluar ruangan.

Love in sincerity (TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang