38 - Tiga puluh delapan

13.8K 2.4K 619
                                        

بسم اللّه الرحمن الرحيم

Vote dan komennya, tie!
-Semoga suka dan bermanfaat-

***


"Aila bakal ikut ayah, tapi lepasin suami Aila."

Kahfi membulatkan mata mendengar penuturan Aila. Ia memegang tangan Bram berusaha lepas dari kukungan pria itu. Tapi yang terjadi justru ujung pisaunya yang sedikit menggores kulit leher Kahfi membuat laki-laki itu meringis.

"Kapi!" Aila menatap Bram yang terkekeh sinis.

"Lepasin suami Aila, Aila bakal ikut Ayah."

Bram mengangguk-anggukan kepalanya. Ia menyuruh Aila mendekat, tentu gadis itu menurut. Bukan tanpa alasan Aila melakukan ini, jujur ia takut, tapi daripada Kahfi yang kena, lebih baik dirinya saja yang kena. Aila tidak mau Kahfi kenapa-napa.

Tapi ia lupa kalau Kahfi juga tidak ingin Ailanya kenapa-napa.

"Aila.." Tatapan Kahfi dan Aila bertemu, dengan sendu Kahfi menatap netra Aila seolah berkata kalau ia tidak perlu melakukan apapun.

Bram melepaskan Kahfi dengan mendorong tubuh laki-laki itu hingga tersungkur ke lantai, tidak sampai di situ, dengan tidak ada hatinya, Bram menendang kaki Kahfi dan menggoresnya dengan pisau membuat sang empu mengerang kesakitan.

"KAPI!" Aila ingin menghampiri, tapi tangannya lebih dulu dicengkeram kuat oleh Bram, pergerakan gadis itu dibatasi.

"Ai.." Kahfi mencoba untuk bangkit. Dengan darah yang mulai mengalir dari kulit lehernya akibat goresan tadi, juga kakinya yang terasa kebas akibat tendangan Bram dan juga goresan pisau tadi, ia mencoba menjangkau Aila, tapi Bram lebih gesit bergerak menarik gadis itu keluar rumah.

Aila tentu menolak. Ia memberontak hingga langkah Bram berhenti dan pria paruh baya itu melayangkan tamparan pada wajah putrinya.  "Ikut saya!"

Aila memegang pipinya yang kebas lalu menatap Bram dengan matanya yang mulai memerah. "AILA BAKAL IKUT AYAH KALAU AYAH LEPASIN SUAMI AILA TANPA SAKITIN DIA!"

Plak

"Ai!"

Satu tamparan kembali mendarat di pipi mulus Aila. Gadis itu memejamkan mata merasakan perih yang amat sangat terasa. Sebelah tangan Aila yang masih menggantung di sisi tubuhnya mengepal.

"Sudah berani kamu melawan saya? SUDAH BERANI KAMU MEMBENTAK SAYA?! ANAK TIDAK TAU DIRI!" Dalam sekali hentakan, Bram menarik rambut Aila yang tertutup khimar hingga kepala gadis itu mendongak.

Kahfi tentu tidak terima, hatinya benar-benar sesak melihat perlakuan tidak senonoh yang diberikan pada istrinya. Berusaha untuk bangkit seraya mengabaikan rasa sakit dan perih pada kakinya, Kahfi berlari mendorong tubuh Bram dan menarik Aila ke dalam pelukannya.

Bukan hanya itu, Kahfi juga langsung mengeluarkan ponsel yang kebetulan berada di saku celananya.

Menekan angka demi angka lalu mendekatkannya ke telinga. Ia tidak peduli dengan tatapan mematikan yang diberikan oleh Bram.

"Hal--"

Suara Kahfi terputus. Bram bergerak cepat merampas ponsel Kahfi lalu melemparnya ke sembarang arah. Kahfi tidak merespon dengan tetap memeluk tubuh Aila.

Memejamkan mata hingga sebuah suara sirine polisi terdengar membuat sudut bibirnya terangkat.

Beda halnya dengan Bram yang terlihat panik. Bram menatap dua remaja di depannya seraya berdecih. "Kalian berdua anak sialan. Saya bersumpah hidup kalian tidak akan bahagia!"

Love in sincerity (TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang