بسم اللّه الرحمن الرحيم
Vote dan komennya, tie!
-Semoga suka dan bermanfaat-
***
Sebuah mobil terlihat terparkir di depan rumah, tanpa mencaritahu, mereka tentu sudah hapal siapa pemilik mobil itu. Dengan tangan yang saling bergandengan, Kahfi dan Aila mulai melangkah masuk.
"Assalamualaikum."
Seluruh atensi para insan yang tengah berkumpul di ruang keluarga langsung teralihkan. Mereka semua memusatkan perhatian pada Kahfi dan Aila. "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
"Aduh, aduh, ada yang abis pacaran, nih."
Kalimat itu langsung menyambut, membuat Aila terkekeh kaku dengan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Ia hendak menarik tangannya dari genggaman Kahfi, tapi laki-laki itu malah mengeratkannya, bahkan dengan santai Kahfi mendaratkan bibirnya di puncak kepala Aila yang masih terbalut khimar.
"Iya dong," ujarnya menyahuti sang kakak.
"Kapi!"
Kahfi menoleh lalu menunduk sedikit. Ia tersenyum lebar pada Aila yang memasang wajah kesal. "Kenapa, sayang?"
Aila tidak menimpali. Gadis itu hanya menghela napas panjang lalu kembali menarik tangannya. kali ini berhasil, maka dari itu, ia langsung melangkah ke Umma juga Sabrina. Aila menyalami sopan telapa tangan keduanyanya.
"Kak Ina, Aka mana?" tanyanya. Di ruang keluarga memang hanya terlihat Arkan dan Sabrina. Entah kemana bocah laki-laki itu.
"Aka tidur. Dia nungguin kalian padahal. Eh yang ditunggu malah asik pacaran," sahut Sabrina dengan nada menggoda.
"Tau tuh, Kapi nya."
Kahfi mendelik. "Iya, iya, aku salah."
Tawa terdengar dari Sabrina. Perempuan itu menarik tangan adik iparnya hingga duduk tepat di sampingnya. "Sini duduk. Kabar kalian gimana?" tanya Sabrina dengan tatapan mengarah ke Aila lalu beralih ke Kahfi.
"Alhamdulilah baik, kak." Aila menjawab yang diangguki oleh Kahfi. Laki-laki itu ikut duduk tepat di samping Aba.
"Alhamdulilah baik. Semuanya udah mulai membaik," lanjutnya.
Sabrina turut tersenyum, begitupun dengan yang lain. "Alhamdulilah."
"Oh iya, mumpung udah ada semua—em, Ina mau ngasih tau sesuatu." Sabrina melipat bibirnya ke dalam kemudian menaikkan kedua alisnya. Ia menatap satu persatu orang yang ada di sana yang juga memusatkan perhatian padanya.
"Ngasih tau apa, Kak?" Aba bertanya mewakilkan kebingungan semua. Kecuali Arkan yang tersenyum tipis. Pandangannya bertemu beberapa detik dengan sang istri, lalu laki-laki itu memberikan anggukan yang dibalas senyuman juga oleh Sabrina.
"Jadi gini." Sabrina menggantungkan ucapannya. Perempuan itu terlihat merogoh tas mininya, kemudian mengeluarkan sesuatu dari sana dan menaruhnya di atas meja. Sontak benda itu menjadi titik fokus semua yang ada di sana.
Umma yang kebetulan dekat, mengulurkan tangan meraih objek itu. Menelitinya kemudian menatap Sabrina dengan pandangan tidak percaya.
"Umrah?"
Sabrina tersenyum lebar lalu mengangguk. "Alhamdulilah Allah kasih rezeki buat kita pergi umrah."
"Kak?" Kahfi menatap Sabrina sekilas lalu ikut meraih secarik kertas di atas meja. "Ini buat semua?" tanyanya tidak percaya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love in sincerity (TERBIT)
Romans- PART LENGKAP love in sincerity versi novel bisa dipesan melalui shopee @hestheticofficial "Kebahagiaan", satu kata yang banyak sekali orang mengharapkan kehadirannya. Bahagia itu relatif, siapapun bisa menciptakannya. Termasuk, diri sendiri. Janga...
