Selama jam kuliah berlangsung, Imam terus memikirkan Anisa. Ia khawatir gadis itu tidak memiliki tempat tinggal.
'Sepertinya aku harus mencari dia,' batin Imam.
Akhirnya ia memutuskan untuk mencari Anisa. Bagaimana pun Anisa merupakan murid berprestasi. Sehingga sangat disayangkan jika sampai kuliahnya tidak diselesaikan. Ia pun tidak tega jika Anisa yang biasa hidup mewah itu harus kesusahan.
Sore hari, Imam pergi mencari Anisa. Tempat pertama yang ia kunjungi adalah rumah gadis tersebut.
Berbekal alamat yang didapat dari bagian tata usaha kampus, Imam pun berhasil menemukan rumah tersebut.
Melihat kondisi rumah dan beberapa mobil yang disita, Imam merasa miris. "Itu kan mobil Anisa. Berarti dia keluar tanpa membawa apa pun," gumam Imam sambil melamun.
Akhirnya ia turun dari mobilnya, kemudian menghampiri penjaga rumah tersebut, yang merupakan polisi.
"Permisi, Pak. Saya mau tanya, penghuni rumah ini pindah ke mana, ya?" tanya Imam.
"Wah, saya kurang tau, Mas. Tapi mereka sih perginya kemarin sore," jawab penjaga tersebut.
"Oooh begitu, ya?" Imam jadi bingung karena tidak mendapat petunjuk.
"Tapi saya tau rumah ART-nya. Gak jauh dari sini, kok," ucap polisi itu.
Kemarin ia sempat mengobrol dengan ART. Sehingga polisi itu tahu di mana rumahnya.
"Oya? Di mana, Pak?" tanya Imam. Ia berharap mendapatkan informasi dari ART tersebut.
Polisi menjelaskannya. Namun ia tidak tahu alamat detailnya. Akhirnya Imam terpaksa mencari lagi berdasarkan penjelasan polisi tadi.
Setibanya di sebuah kampung, Imam bertanya pada orang sana. Beruntung orang itu mengenali ART Anisa. Sehingga ia bisa menunjukkan rumah Bibi itu.
"Assalamualaikum," ucap Imam saat berada di depan rumah Bibi.
"Waalaikumsalam," sahut Bibi dari dalam. Ia pun langsung menghampiri Imam.
Bibi bingung karena tidak mengenali Imam. "Maaf, Mas cari siapa, ya?" tanya Bibi.
"Apa betul ini rumah Bibi yang pernah bekerja dengan Pak Yakub?" tanya Imam.
Yakub adalah nama papah Anisa.
"Iya betul. Ada apa ya, Mas?" tanya Bibi lagi. Mendengar nama majikannya disebut, Bibi sedikit was-was.
"Begini. Saya Imam, dosennya Anisa," ucap Imam memperkenalkan diri.
"Oooh Pak Imam. Iya Non Anisa sering cerita. Mari masuk!" ajak Bibi.
Akhirnya mereka pun masuk dan duduk di ruang tamu Bibi.
"Maaf ya rumahnya berantakan. Mau minum apa, Pak?" tanya Bibi.
"Gak usah, Bi. Saya datang ke sini karena mau mencari Anisa," jawab Imam.
"Ooh begitu. Sebenarnya sekarang ini saya juga tidak tahu mereka pergi ke mana. Haduh ... kasihan sekali anak-anak itu. Pasti mereka kebingungan," gumam Bibi.
Akhirnya Bibi pun bercerita bahwa selama ini Anisa sering menceritakan tentang Imam padanya. Ia yang sudah tidak memiliki Ibu itu menganggap Bibi seperti ibunya. Sehingga setiap pulang kuliah selalu ada saja yang diceritakan.
"Maaf ya, Pak. Saya bukannya mau membongkar aib Non Nisa. Tapi memang seperti itu anaknya. Harap maklum jika sikapnya mungkin agak keterlaluan. Tapi pada dasarnya beliau anak yang baik," jelas Bibi.
"Iya, saya tidak masalah, Bi," sahut Imam.
Ia tak menyangka perasaan Anisa sampai seperti itu terhadapnya.
"Ya sudah kalau begitu. Tapi ini nomor telepon saya. Kalau Bibi bertemu Anisa, tolong suruh dia hubungi saya, ya! Soalnya sejak tadi siang saya berusaha menghubungi dia tapi tidak dijawab," ucap Imam.
Sebelumnya Imam sudah menjelaskan bahwa ia mencari Anisa karena ingin membantu agar gadis itu tetap bisa kuliah.
"Baik, Pak. Terima kasih atas bantuannya. Nanti akan saya sampaikan pada Non Nisa," jawab Bibi.
Imam pun pamit dan meninggalka rumah itu.
"Kamu pergi ke mana, Nis?" gumam Imam. Ia semakin khawatir karena ternyata Anisa pergi bersama adiknya.
"Rasanya sangat tidak mungkin jika mereka pulang kampung. Kampung saudaranya ada di luar pulau yang cukup jauh. Ongkosnya pasti mahal. Aku yakin dia masih ada di kota ini," gumam Imam sambil mengendarai mobilnya.
Sementara itu, Anisa dan Fatih sudah berada di sebuah kostan kecil yang ia sewa kemarin. Saat ini gadis tersebut sedang sibuk mencari kerja. "Aku harus nyari kerja di mana, ya? Kerjaan yang gak butuh ijazah dan bisa tetap kuliah," gumam Nisa.
"Mbak!" panggil Fatih.
"Iya?" tanya Anisa.
"Begini. Kita kan yakin Papah gak salah. Jadi cepat atau lambat Papah pasti bebas," ucap Fatih.
"Iya, terus kenapa?" tanya Anisa. Ia yakin ada sesuatu yang ingin Fatih sampaikan.
"Begini, Kak. Kakak kan kuliahnya udah mau selesai. Sayang kalau gak dilanjut. Jadi tolong izinkan aku untuk nyari kerja!" pinta Fatih.
"Tih! Kamu itu masih dibawah umur. Tugas kamu cuma belajar. Kan Mbak udah bilang, kuliah masih bisa ditunda. Kalau sekolah gak bisa. Jadi kamu fokus belajar aja, ya!" pinta Anisa.
"Lagian sekolah kamu kan gak perlu bayar, jadi Mbak hanya perlu nyari uang buat makan dan biaya kost, sama buat jajan kamu," lanjutnya.
"Aku gak perlu jajan, Mbak. Pokoknya aku gak mau membebani Mbak," jawab Fatih.
Anisa tersenyum. Ia senang karena adiknya begitu pengertian. Di usianya yang masih belia ini, Fatih sangat perhatian pada kakaknya.
"Ya udah kalau begitu. Mbak coba nyari kerja dulu. Kalau kamu mau bantu, bantu cari kerjaan buat Mbak aja! Apa pun itu yang penting halal," ucap Anisa.
Hari berlalu, Imam pun belum menemukan Anisa. Ia jadi semakin khawatir karena semakin hari pasti sisa uang yang gadis itu miliki semakin berkurang.
Bahkan saat di kampus Imam merasa ada yang beda. Biasanya ada gadis ceria yang selalu menggodanya. Meski sering membuatnya jengkel, nyatanya Anisa cukup mewarnai hari-hari Imam yang sering dirasa penat itu.
"Eh, lo udah ketemu sama Anisa apa belum?" tanya teman Anisa pada Ali.
Imam yang tidak sengaja mendengarnya pun memperlambat langkahnya. Ia berharap bisa mendapatkan informasi dari mereka.
Namun sayang, ternyata mereka pun tidak mengetahui di mana keberadaan Anisa. Akhirnya Imam melanjutkan jalannya lagi.
"Ya udah, hari ini aku terakhir nyari dia. Kalau gak ketemu, semoga dia tetap baik-baik saja. Mungkin Allah punya jalan lain untuknya," gumam Imam.
Ia sudah putus asa karena tidak bisa menemukan Anisa di mana pun. Bahkan hari ini Imam pulang malam karena mencari gadis itu untuk yang terakhir kalinya.
Setibanya di rumah, pria itu tampak tak bersemangat. Meski mengatakan sudah pasrah, nyatanya tak semudah itu. Hati Imam tetap khawatir. "Semoga kamu baik-baik saja, Nis," gumam Imam. Kemudian ia mengetuk pintu rumahnya.
Tuk-tuk-tuk!
Tak lama kemudian pintu tersebut dibuka dari dalam.
Ceklek!
Saat menoleh, Imam sangat terkejut melihat siapa yang membukakan pintu untuknya itu.
"Anisa?" tanyanya, kaget.
KAMU SEDANG MEMBACA
Imam untuk Anisa
RomantikCinta sebelah pihak tentu sangat menyakitkan. Apalagi jika orang yang dicintai justru mencintai orang lain. Anisa yang selalu ceria dan sering mendekati dosennya itu terpuruk sejak papahnya dipenjara atas tuduhan korupsi. Ia berubah menjadi pendiam...
