Yasmin tidak terima ditegur seperti itu oleh Imam. "Kamu kok malah belain dia, sih?" tanyanya, kesal.
"Udahlah, Yas! Aku males debat," ucap Imam, kemudian ia berlalu.
Anisa dapat mendengar perdebatan mereka. Namun ia tidak berani untuk ikut campur.
"Sepertinya hubungan mereka sudah sangat dekat. Iyalah, mereka kan tunangan. Artinya sebentar lagi mereka bakalan nikah," gumam Anisa sambil menahan rasa sakit di hatinya.
"Ya Tuhan, Nis! Kamu bodoh banget. Bisa-bisanya suka sama tunangan orang? Kenapa gak cari tahu dulu, sih?" keluh Anisa.
Saat sedang melamun, Anisa mendapat panggilan telepon. Ia yang sedang tidak bekerja pun langsung menjawabnya.
Telepon terhubung.
"Assalamualaikum, Mas Yusuf!" ucap Anisa.
"Waalaikumsalam. Apa kabar, Nis?" tanya Yusuf.
"Alhamdulillah kabar baik, Mas. Ada apa?"
"Ini, kebetulan hari ini saya mau menemui Pak Yakub. Apa kamu mau ikut?" tanya Yusuf.
Mendengar nama papahnya disebut, Anisa pun sangat senang. "Emangnya boleh, Mas?" tanyanya.
"Boleh! Kamu kan keluarganya. Kalau mau biar nanti saya jemput," sahut Yusuf.
Ia sangat peduli pada Anisa. Apalagi Yusuf sangat mengenal betul siapa Yakub. Ia tahu bahwa Yakub dan keluarganya merupakan orang baik.
"Kalau begitu nanti aku tunggu di perempatan dekat tempat aku kerja aja ya, Mas. Nanti aku kirim alamatnya," ucap Anisa.
"Oke!"
Telepon terputus.
Anisa pun menemui Lusi untuk meminta izin.
"Permisi, Bu!" ucap Anisa saat berhadapan dengan Lusi.
"Eh, Anisa. Ada apa?" tanya Lusi. Ia yakin ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh gadis itu.
"Maaf mengganggu. Ini, kalau boleh saya mau minta izin pergi ke luar sebentar," ucap Anisa.
"Oh iya silakan! Lagi pula pekerjaan kamu kan sudah beres," sahut Lusi. Ia tidak ingin terlalu ikut campur untuk masalah urusan pribadi Anisa. Sehingga Lusi tidak menanyakan ke mana gadis itu akan pergi.
"Terima kasih, Bu. InsyaaAllah sebelum sore aku udah pulang," jawab Anisa.
"Iya, hati-hati di jalan!"
Anisa pun bersiap untuk pergi.
Mendengar Anisa hendak pergi, Imam merasa penasaran. "Mau ke mana dia, Bu?" tanyanya. Saat itu kebetulan ia hendak mengambil minum di dapur.
"Entahlah. Ibu gak nanya," jawab Lusi, santai.
"Pantesan aja tadi kamu ribet. Ternyata dia kerjanya gak bener. Lagian ngapain kamu kepo sih, Mas? Bukan urusan kamu juga kan dia mau pergi ke mana," ucap Yasmin. Ia kesal karena Imam ingin tahu masalah Anisa.
Lusi melirik sekilas ke arah Yasmin. Ia semakin tidak respek pada wanita itu.
"Sudahlah, Mam! Lebih baik urus tunanganmu. Jangan urus wanita lain!" sindir Lusi.
Imam pun jadi kesal karena Yasmin merusak suasana hatinya. Ia paling tidak suka jika ada orang yang jahat pada orang lain.
Padahal gadis itu adalah pilihannya sendiri. Lusi pun sejak awal biasa saja pada Yasmin. Selama sikap wanita itu baik, Lusi tidak keberatan. Namun saat ini wanita paruh baya itu baru mengetahui sifat asli Yasmin.
Tak lama kemudian Anisa pamit pada Lusi kembali. Ia tak pamit pada Imam karena baginya bosnya adalah Lusi.
"Bu, saya permisi dulu," ucap Anisa.
"Iya, hati-hati ya, Nak!" sahut Lusi.
"Terima kasih, Bu. Asssalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Anisa pun meninggalkan rumah itu.
Saat Anisa sudah pergi, Imam terlihat salah tingkah. Entah mengapa ia sangat penasaran gadis itu hendak pergi ke mana.
"Kamu kenapa, sih? Kayaknya gak nyaman banget. Emang gak seneng ya aku udah pulang?" tanya Yasmin, kesal.
"Ya senenglah. Itu cuma perasaan kamu aja, kali. Aku biasa aja, kok," jawab Imam. Ia tidak ingin menunjukkan kegelisahannya di depan Yasmin.
Bagaimana pun hubungan Imam dan Yasmin sudah erat. Apalagi mereka sudah bertunangan. Sehingga meski dirinya peduli pada Anisa, Imam tetap menjaga hati Yasmin yang memang ia cintai itu.
"Gimana kalau kita ngedate aja? Kan udah lama kita gak jalan bareng. Yuk!" ajak Yasmin.
"Mau ke mana?" tanya Imam.
"Ke mana, kek. Nonton atau apa gitu." Yasmin begitu bersemangat. Jika tidak ada Anisa, ia bersikap baik seperti biasanya lagi.
"Ya udah, aku ganti baju dulu, ya," ucap Imam. Ia pun beranjak untuk berganti pakaian.
Setelah itu mereka pamit pada Lusi dan meninggalkan rumah tersebut.
"Ya ampun, udah berapa lama aku gak datang ke sini, ya? Kayaknya udah banyak banget perubahan," ucap Yasmin saat sedang berada di jalan.
"Dua tahun, kan," sahut Imam.
"Iya juga. Pantesan aku kangen banget sama kamu." Yasmin langsung bergelayut manja pada lengan Imam yang sedang menyetir itu.
"Kamu masih mau kembali ke LN?" tanya Imam.
Sebenarnya ia tidak suka tunangannya itu pergi lama ke luar negeri. Namun Yasmin sangat gigih dengan kariernya. Sehingga ia berusaha meyakinkan Imam agar mengizinkannya pergi.
Hal itu pula yang membuat mereka saat ini sudah bertunangan. Dulu, ketika Yasmin hendak pergi ke luar negeri untuk mengejar karier-nya sebagai model, Imam sempat menolak.
Namun karena Yasmin memohon, ia pun tak tega. Akhirnya Imam mengizinkan Yasmin pergi dengan syarat mereka harus bertunangan lebih dulu. Sebab pria itu khawatir jika kekasihnya pergi begitu saja, mungkin Yasmin akan diambil pria lain.
Ia tidak sadar bahwa meski bertunangan pun peluang Yasmin selingkuh cukup besar. Namun ia selalu berpikir positif dan percaya pada wanita yang ia cintai tersebut.
"Sementara sih enggak. Tapi gak tahu nanti gimana, hehe," jawab Yasmin.
Imam menoleh ke arah Yasmin. "Kalau kamu ke luar negeri lagi, terus kapan kita nikahnya?" tanyanya.
"Sayang ... aku lho baru pulang. Udah bahas yang serius aja! Nanti dulu ya bahasnya," ucap Yasmin, manja.
Meski sempat mengatakan bahwa Imam adalah calon suaminya, tetapi Yasmin belum ingin menikah. Sebab jika dirinya menikah, kemungkinan kariernya sebagai model akan redup. Pergerakannya pun akan terbatas.
Imam langsung diam. Ia kecewa karena Yasmin selalu seperti itu. Dulu pun sebenarnya Imam sudah pernah melamarnya. Namun Yasmin selalu beralasan. Sehingga saat ini mereka hanya bertunangan.
Saat sedang kesal pada tunangannya itu, Imam melihat Anisa di depan sana. 'Dia sedang apa di situ?' batin Imam. Gadis itu terlihat seperti sedang menunggu seseorang.
Tak lama kemudian sebuah mobil mewah menepi ke arahnya. Anisa pun langsung naik ke mobil tersebut.
'Apa dia masih seperti itu?' batin Imam.
"Eh! Itu bukannya pembantu kamu, ya?" tanya Yasmin.
"Bukan urusan aku!" jawab Imam, kesal.
Yasmin bingung dengan jawaban Imam. Namun ia senang karena Imam tidak peduli pada Anisa. Ia tak tahu bahwa kekasihnya itu sedang kecewa pada gadis tersebut.
'Kenapa kamu selalu menolak bantuanku dan malah melakukan hal kotor seperti itu?' gumam Imam dalam hati. Ia masih berpikir bahwa Anisa menjual dirinya. Apalagi mobil yang menjemputnya itu adalah mobil mewah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Imam untuk Anisa
RomanceCinta sebelah pihak tentu sangat menyakitkan. Apalagi jika orang yang dicintai justru mencintai orang lain. Anisa yang selalu ceria dan sering mendekati dosennya itu terpuruk sejak papahnya dipenjara atas tuduhan korupsi. Ia berubah menjadi pendiam...
