Imam terkesiap saat mendengar hal itu. Ia tak suka karena Yusuf mendapatkan kepercayaan penuh dari orang tua Anisa.
"Sudahlah, mau Anisa berangkat sama siapa, gak masalah. Yang penting kan sampai dengan selamat. Sekarang lebih baik kita sarapan dulu! Nak Yusuf, ayo sarapan!" ajak Lusi.
"Oh iya, terima kasih," jawab Yusuf.
Akhirnya mereka sarapan berempat.
Anisa lekas mengambilkan piring untuk Yusuf. Sebab tadi ia hanya menyiapkan tiga piring untuk penghuni rumah itu.
"Maaf ya, Bu. Jadi merepotkan," ucap Yusuf.
"Tidak, kok. Lagi pula ini kan Anisa yang masak," jawab Lusi.
"Oya?" Yusuf tak menyangka Anisa bisa memasak. Ia pun bersemangat ingin segera mencicipi masakan gadis itu.
Imam menghela napas kasar. Ia sebal karena Yusuf terlihat begitu agresif mendekati Anisa.
Lusi melirik ke arah Imam. "Mam, Yasmin gak ke sini?" tanya Lusi.
Imam heran mengapa Lusi malah membahas Yasmin.
"Enggak, Bu. Aku kan mau kerja," jawab Imam.
"Oooh, kirain nanti sepulang kamu kerja, dia mau ke sini."
"Belum tau, Bu," jawab Imam.
"Kalau ketemu sama Yasmin, coba bahas pernikahan kalian! Jangan ditunda lagi," ucap Lusi.
Sepertinya Lusi sengaja membahas hal itu di depan Yusuf dan Anisa.
"Maaf, jadi Pak Imam ini sudah mau menikah?" tanya Yusuf.
"Ya, seharusnya begitu. Mereka sudah bertunangan, tapi belum tau rencana pernikahannya kapan," jawab Lusi.
Yusuf tersenyum lebar. Ia senang saat mendengar Imam akan menikah dengan wanita lain. "Wah, selamat ya, Pak. Semoga rencananya lancar. Kalau begitu, kapan kita nyusul, Nis?" canda Yusuf.
Uhuk! Uhuk!
Anisa langsung tersedak. Ia hanya menganggap Yusuf sebagai pengacara papahnya, tidak lebih. Sehingga Anisa sangat terkejut saat ditanya seperti itu.
"Pelan-pelan dong makannya, Nis!" ucap Yusuf, sambil mengambilkan segelas air untuk Anisa.
Imam kesal melihat sikap Yusuf. 'Berani sekali dia bicara seperti itu di depanku?' batinnya.
"Memangnya kalian punya hubungan?" tanya Lusi.
Yusuf menoleh ke arah Anisa. "Gimana, Nis?" tanyanya.
"Euh! Enggak kok, Bu. Mas Yusuf ini pengacara papah aku," jawab Anisa, gugup.
"Ya kan gak ada salahnya pacaran sama pengacara. Bukan begitu, Nak Yusuf?" tanya Lusi.
"Betul, Bu," jawab Yusuf sambil tersenyum, sumeringah.
Anisa tersenyum kikuk. Sementara Imam, wajahnya merah padam. Ia sangat geram karena ibunya mendukung Yusuf dan Anisa.
"Aku sudah selesai. Kalau begitu aku berangkat duluan, Bu," ucap Imam. Ia sudah tidak sanggup berada di tempat itu lagi.
"Oh iya, hati-hati!" sahut Lusi.
Akhirnya Imam pun meninggalkan mereka. Ia tak ingin mendengar sesuatu yang membuat hatinya lebih panas lagi.
"Kenapa Ibu jadi seperti itu? Apa dia sengaja ingin menjodohkan Anisa dengan pria itu? Bagaimana kalau ternyata dia tidak baik?" Imam menggerutu saat sudah berada di dalam mobilnya.
Beberapa saat kemudian, Anisa dan Yusuf pun meninggalkan rumah itu. Saat sedang berada di mobil, Yusuf meminta maaf pada Anisa. Ia khawatir gadis itu akan menghindarinya karena ucapannya tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Imam untuk Anisa
RomanceCinta sebelah pihak tentu sangat menyakitkan. Apalagi jika orang yang dicintai justru mencintai orang lain. Anisa yang selalu ceria dan sering mendekati dosennya itu terpuruk sejak papahnya dipenjara atas tuduhan korupsi. Ia berubah menjadi pendiam...
