27. Persaingan Sengit

4.5K 256 16
                                        

Imam semakin kesal karena Anisa hanya menjawabnya dengan senyuman. Ia heran gadis itu malah semakin berani padanya.

'Apa mereka memang sudah memiliki hubungan khusus? Tapi kenapa bisa semudah itu? Bukankah sebelumnya dia pernah bilang kalau dia cinta sama aku?' batinnya. Hatinya sedang tidak tenang.

"Alhamdulillah, akhirnya kita bisa makan bertiga lagi," ucap Lusi, saat baru tiba di ruang makan.

Mereka sarapan bersama sebelum melakukan aktifitas masing-masing.

"Nanti kamu berangkat bareng aku aja, Nis!" ucap Imam, saat sedang makan.

"Terima kasih, Pak. Saya bisa sendiri," jawab Anisa, berusaha menolak.

"Kalau ada yang satu arah, kenapa juga harus sendiri? Kan jadi hemat ongkos. Lagi pula lumayan kan untuk mengurangi emisi gas," ujar Imam.

Lusi tersenyum mendengar ucapan anaknya. Ia tahu bahwa itu hanya modus Imam.

Tak lama kemudian terdengar seseorang mengucapkan salam. ART pun membukakan pintu untuk orang itu. Kemudian ia melaporkan pada majikannya.

"Permisi, Bu! Ada tamu yang mencari Mbak Anisa," ucapnya.

"Siapa?" tanya Lusi.

"Namanya Mas Yusuf," sahut ART.

"Oalah, ya udah suruh masuk aja!" sahut Lusi, sambil tersenyum.

Imam langsung memicingkan matanya ke arah Lusi. Ia kesal karena sikap Lusi seolah selalu mendukung Yusuf. 'Ibu ini kenapa, sih? Apa kurang peka terhadap perasaanku?' batinnya.

"Assalamualaikum!" sapa Yusuf saat berhadapan dengan mereka semua.

"Waalaikumsalam. Nak Yusuf sudah sarapan apa belum?" tanya Lusi.

"Alhamdulillah sudah, Bu," jawab Yusuf.

"Mau jemput Anisa, ya?" tebak Lusi.

"Iya. Maaf jika mengganggu sarapannya," ujar Yusuf.

'Udah tau ganggu. Masih aja datang,' batin Imam, kesal.

"Enggak, kok. Ya udah silakan duduk!"

"Iya, terima kasih."

Yusuf pun duduk di sebelah Anisa.

Sejak kehadiran Yusuf, Imam jadi tidak berselera makan. Ia kesal karena sudah pasti Anisa akan pergi dengan pria itu.

"Kamu kok ada di sini, Nis?" tanya Yusuf.

"Iya, Mas. Maaf ya aku belum sempat pamit. Semalam ada kejadian, jadi aku gak bisa tinggal di sana lagi," jelas Anisa.

"Lagian gadis kayak kamu masa tinggal di mess seperti itu, sih? Selain gak aman, tempatnya juga kan gak nyaman," sindir Imam.

"Iya. Padahal saya sudah sering mengajak Anisa untuk tinggal di rumah saya. Tapi dia selalu menolak," ujar Yusuf.

"Nis! Kalau memang kamu gak bisa tinggal di mess lagi, lebih baik pindah ke rumahku aja! Dari pada merepotkan orang lain, di sini," ucap Yusuf.

"Anda jangan khawatir! Kami ini bukan orang lain. Kami sudah seperti keluarga bagi Anisa. Iya kan, Nis?" Imam mencari dukungan.

Lusi sengaja tidak berkomentar. Ia ingin tahu sejauh mana anaknya akan mempertahankan Anisa.

"Tapi kalau memang Anisa tetap mau tinggal di sini, tidak masalah. Nanti saya bisa antar jemput setiap hari," ucap Yusuf, tak mau kalah.

"Uhuk! Uhuk!" Imam tersedak. Ia emosi karena Yusuf selalu ada saja akalnya.

"Makanya kalau lagi makan jangan sambil ngomong, Mam!" tegur Lusi.

"Terima kasih tawarannya, Mas. Tapi aku bisa pergi sendiri, kok. Lagian kamu kan pasti sibuk," ucap Anisa.

"Aku bisa meluangkan waktu buat kamu, Nis. Lagi pula antar jemput kan gak begitu lama," jawab Yusuf.

Imam yang sudah kesal itu akhirnya beranjak. Kemudian ia pamit pada ibunya. "Bu! Aku berangkat dulu," ucapnya. Ia bahkan lupa dirinya tadi sempat mengajak Anisa untuk pergi bersama.

Saat masuk ke mobil, Imam bahkan membanting pintunya. Rasanya ia sangat ingin menghajar pria itu. "Mentang-mentang dia kenal dengan orang tua Anisa, jadi bersikap seenaknya," geram Imam. Kemudian ia melajukan mobilnya.

"Aku tidak bisa diam saja. Bisa-bisa nanti dia maju lebih dulu. Kalau begitu aku harus bertindak cepat," ucap pria tersebut.

Sementara itu, Anisa pun pergi bersama Yusuf. Di jalan, ia menceritakan kronologi kejadiannya.

"Astaghfirullah. Kok bisa ada yang masuk? Pintunya kamu kunci, kan?" tanya Yusuf. Ia sangat terkejut mendengarnya.

"Iya, Mas. Kuncinya juga aku bawa, kok. Makanya kaget banget waktu orang itu tiba-tiba meluk aku dari belakang. Mana aku udah buka baju atasan," keluh Anisa.

Yusuf meremas stir mobilnya. Ia sangat geram mendengar cerita Anisa. Rasanya Yusuf ingin segera mencari dan menghajar orang itu.

"Aku akan menyelidikinya. Ini pasti ada hubungannya dengan orang dalam. Gak mungkin orang luar biasa masuk secara diam-diam," ucap Yusuf, kesal.

"Tapi bagaimana caranya, Mas?" tanya Anisa.

"Nanti aku cek kunci cadangan mess itu. Harusnya ada di office. Kalau kuncinya hilang, berarti ini memang ulah orang dalam. Aku bersumpah akan langsung memecat dan melaporakan orang itu ke polisi," geram Yusuf.

"Mas, gak usah repot-repot! Kamu kan banyak kerjaan. Lagi pula sekarang aku alhamdulillah baik-baik aja. Mungkin mereka khilaf," ucap Anisa. Ia tidak ingin jika Yusuf sampai berurusan dengan polisi.

"Khilaf? Nis! Kamu itu hampir diperkosa. Bagaimana kalau mereka berusaha melakukan hal itu lagi. Oke, mungkin kemarin kamu sedang beruntung karena ada yang datang. Bagaimana jika tidak?" tanya Yusuf.

Anisa terdiam. Apa yang Yusuf katakan memang benar. Entah apa jadinya jika kemarin Imam tak muncul.

"Sudahlah! Biar ini jadi urusanku. Kamu fokus kerja aja, ya!" ucap Yusuf. Ia tak ingin Anisa sibuk memikirkannya.

"Iya, terima kasih, Mas. Maaf jadi selalu merepotkan kamu," ucap Anisa.

"Kamu tuh, selalu saja seperti itu!" tegur Yusuf.

Setibanya di cafe, Yusuf langsung mengecek kunci cedangan mess tersebut. Di sana pun sebagian besar staf sudah datang.

Saat memasuki cafe, sikap Yusuf berubah menjadi dingin. Ia mencurigai semua staf yang ada di sana.

"Pagi, Pak!" sapa staf.

Yusuf bahkan enggan untuk menjawabnya. Ia sudah siapa untuk memecat siapa pun yang terlibat.

Para staf pun bingung mengapa sikap Yusuf seperti itu. "Eh! Itu Pak Yusuf kenapa, sih?" tanya salah satu staf.

"Entahlah. Mungkin si Anisa ngadu macem-macem kali. Jadinya marah," ujar Meta. Ia menatap sinis ke arah Anisa.

'Sialan! Jangan harap lain kali kamu bisa bebas gitu aja,' batin Meta.

"Ah! Anisa itu kelihatannya baik, kok. Gak mungkinlah dia ngadu-ngadu," ujar staf tadi.

"Halah! Kamu kan cuma lihat dari luarnya aja. Lagian kamu juga baru kenal sama dia, kan. Jangan cuma lihat dari luarnya. Yang kalem kayak gitu biasanya lebih jahat dari pada orang yang terlihat jahat," ucap Meta, kesal.

Sementara itu, setibanya di ruang kantor, Yusuf langsung membuka laci.

"Gimana, Mas?" tanya Anisa.

"Kuncinya ada. Apa dia sudah mengembalikannya?" tanya Yusuf.

Ia tidak menyentuh kunci itu.

"Lalu Mas mau apa?" tanya Anisa lagi.

"Pertama aku mau cek CCTV. Setelah itu aku mau bawa kunci ini ke polisi. Barang kali bisa telihat sidik jarinya," jawab Yusuf, yakin.

Imam untuk AnisaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang