Anisa bingung mengapa Imam berubah. Padahal tadi pagi pria itu masih terlihat ramah padanya.
'Mungkin beliau lelah,' batin Anisa. Ia menutup pintu, kemudian kembali ke dapur.
Seperti sebelumnya, Anisa menyiapkan makanan untuk Imam. Namun kali ini ia tidak berani bertanya apa pun pada dosennya itu.
"Semoga beliau langsung makan, deh. Biar lauknya gak dingin lagi," gumam Anisa, sambil menata makanan di meja makan.
Kala itu Lusi sudah makan, sehingga Anisa hanya menyiapkan makanan untuk dosennya tersebut.
Setelah menyiapkan makanan, gadis itu membereskan dapur. Kemudian ia duduk di sana sambil menunggu Imam makan.
Beberapa kali Anisa menoleh, Imam tak kunjung keluar kamar. "Duh, udah maghrib. Aku shalat dulu, deh," gumam Anisa.
Akhirnya ia pun shalat di kamarnya. Tak lupa ia pun bedzikir dan tadarus, memohon agar papahnya segera dibebaskan. Selesai shalat, Anisa kembali keluar. Ia melihat Imam baru masuk ke kamarnya.
"Apa beliau udah makan?" gumam Anisa. Ia pun mengecek makanan yang tadi ia hidangkan, ternyata tak disentuh sama sekali.
"Oohh, mungkin Pak Imam baru pulang dari masjid. Ya udah aku ganti nasinya pakai yang anget, deh. Siapa tau sebentar lagi beliau mau makan," gumam Anisa.
Setelah mengganti nasi yang ada di meja makan, Anisa kembali menunggu Imam di dapur. Ia stand by karena khawatir Imam membutuhkan sesuatu.
Akan tetapi, sampai nasi itu dingin kembali, Imam masih tak kunjung makan. Bahkan jam sudah menunjukkan pukul 20.00.
"Ya udah, deh. Mungkin beliau udah makan di luar," ucap Anisa. Akhirnya ia membereskan meja makan dan pergi ke kamarnya.
Ia sangat bingung dengan sikap Imam yang berubah-ubah. Awalnya ia senang karena sejak kemarin Imam begitu hangat padanya. Namun kali ini jauh lebih dingin dari sebelumnya.
'Apa aku bikin kesalahan sampai Pak Imam marah begitu, ya?' gumam Anisa dalam hati.
Ia masih penasaran apa sebenarnya yang membuat Imam jadi seperti itu.
Saat sedang berada di kamar, Anisa teringat akan uang yang diberikan oleh Yusuf. Ia pun mengambil dan menghitung uang tersebut.
"Wah, uangnya lumayan banyak. Kenapa Mas Yusuf baik sekali sama aku?" gumam Anisa. Ia terharu karena masih ada orang baik yang mau membantunya.
Saat Anisa sedang serius menghitung uang, Imam tak sengaja melintas di depan kamarnya. Ia hendak pergi ke tempat mencuci pakaian untuk menaruh pakain kotor miliknya.
Awalnya ia melintas begitu saja. Namun saat menyadari sesuatu, Imam kembali mundur untuk memastikan.
Alisnya mengerut karena melihat gadis itu sedang memegang uang dengan jumlah yang cukup banyak. Hal itu pun membuat Imam semakin yakin bahwa tadi Anisa dan pria yang ditemuinya di hotel telah melakukan sesuatu.
Gadis itu tidak sadar ada Imam di belakangnya. Imam pun tak ingin bertanya mengenai uang tersebut. Sebab ia anggap itu merupakan privacy. Namun ia sangat kecewa karena Anisa salah mengambil langkah.
"Ternyata sama saja. Aku pikir dia berbeda," gumam Imam, kesal. Ia melempar pakaiannya ke keranjang pakaian kotor, kemudian berlalu begitu saja.
Padahal seandainya apa yang Imam pikirkan memang benar, hal itu tidak ada hubungannya dengan dia. Namun entah mengapa ia seperti pria yang telah dikhianati oleh kekasihnya.
Keesokan harinya, Imam hendak berangkat ke kampus seperti biasa. Saat keluar kamar ia melihat ibunya sedang makan dengan Anisa.
"Mam, sini sarapan dulu!" ajak Lusi. Ia tidak sadar bahwa anaknya sedang tidak baik-baik saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Imam untuk Anisa
Любовные романыCinta sebelah pihak tentu sangat menyakitkan. Apalagi jika orang yang dicintai justru mencintai orang lain. Anisa yang selalu ceria dan sering mendekati dosennya itu terpuruk sejak papahnya dipenjara atas tuduhan korupsi. Ia berubah menjadi pendiam...
