04. Makan Bersama

5.9K 305 8
                                        

Saat selesai makan, Imam yang tidak ingin merepotkan Anisa itu membereskan piring bekas makan dan membawanya ke dapur. Namun, ia terkejut saat melihat Anisa sedang makan di pojokan dapur.

Anisa yang tidak sadar bahwa Imam sedang melihatnya pun tak menoleh. Ia tetap makan dengan lahap karena lelah setelah menyelesaikan pekerjaan rumah.

Imam langsung mundur perlahan. Ia bersembunyi sambil memperhatikan Anisa yang terlihat seperti orang kelaparan dan lelah itu.

Bagaimana tidak. Ia yang biasa hidup santai dan selalu dilayani, kini harus bekerja keras, membereskan rumah orang lain.

Rumah yang sudah beberapa hari tidak dibereskan karena ART-nya berhenti itu pun cukup berantakan. Sehingga malam hari Anisa baru selesai dan baru sempat makan.

'Ya Tuhan, kasihan sekali dia,' batin Imam. Ia tak tega melihatnya. Seandainya Imam tahu bahwa Anisa belum makan. Sudah pasti ia akan mengajak gadis itu makan bersama. Mana mungkin Imam membiarkan ia makan di pojokan seperti itu.

Akhirnya Imam pun mengurungkan niatnya. Ia membawa kembali piring itu ke meja makan karena takut Anisa malu.

Imam duduk di sana sambil merenung. Ia mengingat bagaiman cerianya Anisa dulu. Tetapi kini berbeda 180 derajat. Ia jauh lebih serius dan pendiam.

'Apa yang bisa aku lakukan untuk membantunya?' batin Imam. Ia sangat gelisah, meski selama ini selalu risih, tetapi sikap Anisa yang suka genit terhadap Imam itu mampu mengalihkan perhatiannya.

Sehingga Anisa cukup berkesan di hati Imam. Meski mungkin kesan awal yang kurang baik.

Setelah mendengar suara Anisa sedang mencuci piring, barulah Imam pergi ke dapur kembali.

"Kamu baru makan?" tanya Imam, pura-pura tidak tahu.

"Iya, Pak. Baru lapar," sahut Anisa. Ia tidak ingin dikasihani.

"Lain kali, jangan sampai telat makan! Dan kamu boleh makan di meja makan!" nasihat Imam, sambil menaruh piring di samping sink (tempat cuci piring).

"Maaf, Pak. Saya tidak berani. Itu tidak sopan," jawab Anisa.

Imam mengembuskan napas.

"Nis! Saya pikir ada yang beda dari kamu. Apa kamu gak bisa bersikap biasa saja?" tanya Imam. Ia sudah tidak tahan melihat sikap Anisa seperti itu.

"Sesuatu tidak selamanya bisa sama, Pak. Pasti akan ada perubahan. Lagi pula saya kan kerja di sini. Apalagi Bapak dosen, jadi saya harus menghormati Bapak," jawab Anisa. Ia yang hanya mencuci dua piring pun sudah selesai.

Anisa mengelap tangannya, kemudian pamit pada Imam.

"Kalau begitu saya permisi dulu ya, Pak. Mau mengerjakan skripsi," ucap Anisa. Kemudian ia berlalu tanpa menunggu jawaban Imam.

Hati Imam merasa perih. Ia yakin Anisa sudah lelah setelah bekerja sampai malam. Kini gadis itu masih harus mengerjakan skripsi.

'Semoga kamu sehat selalu, Nis!' batin Imam. Ia pun pergi ke kamarnya.

Setelah Imam pergi, Anisa kembali ke dapur. Ia mengecek meja makan dan membereskannya. Semua lauk yang tersisa ia pindahkan dari meja makan. Supaya besok pagi meja itu sudah rapi.

Ternyata Imam yang belum menutup rapat pintu kamarnya pun melihat apa yang Anisa lakukan. Ia semakin kasihan pada gadis itu karena wajahnya terlihat begitu lelah. Apalagi Anisa yang biasa tinggal di tempat ber-AC sesekali mengelap keringat karena merasa gerah.

Keesokan harinya, saat Imam hendak berangkat ke kampus, ia sarapan lebih dulu. Pagi itu sudah tersedia nasi goreng dan minuman di meja makan.

Imam langsung melihat jam. 'Sepagi ini dia sudah masak. Apa dia sempat istirahat?' batinnya.

Ia yakin semalam Anisa pasti bergadang karena mengerjakan skripsi. Sehingga Imam khawatir gadis itu kurang istirahat.

"Pagi, Bu!" sapa Imam saat melihat ibunya datang ke ruang makan.

"Pagi ... wah, ternyata Anisa pintar juga, ya? Padahal katanya dia belum pernah bekerja seperti ini, lho," puji Lusi.

Saat mereka duduk di meja makan, Anisa datang membawakan buah potong untuk mereka.

"Kamu sudah sarapan, Nis?" tanya Lusi.

"Sudah, Bu," jawab Anisa, berbohong. Mana sempat sarapan, sejak bangun ia sibuk menyiapkan makanan untuk mereka.

"Kamu jangan bohong! Kapan kamu sarapan kalau jam segini semuanya sudah beres? Lebih baik kamu duduk di sini dan kita sarapan bersama!" tegur Imam.

"Maaf, Pak. Saya di dapur saja," jawab Anisa.

"Nis! Benar apa kata Imam. Anggap saja kami keluargamu! Ayo sini duduk! Kita makan sama-sama," ajak Lusi. Ia pun tidak tega jika Anisa makan di dapur sendirian.

"Gak apa-apa, Bu. Saya bisa sambil mengerjakan yang lain," jawab Anisa. Ia berusaha menolak lagi. Rasanya tidak akan nyaman jika dirinya harus makan bersama mereka.

"Nis. Anggap ini permintaan saya. Kebetulan saya tidak punya anak perempuan, kami juga cuma berdua. Jadi saya mau setiap makan, kamu gabung dengan kami agar suasananya lebih ramai. Ayo duduk!" ucap Lusi, tegas.

Ia sengaja seperti itu agar Anisa tidak menolak lagi.

"Baik, Bu," sahutnya. Jika sudah seperti itu Anisa pun tak berani menolak.

Akhirnya ia terpaksa duduk di sebelah Lusi. Sedangkan Imam duduk di hadapan Lusi.

"Kapan kamu ke kampus, Nis?" tanya Lusi. Ia ingin mencairkan suasana.

"Jika diizinkan, insyaaAllah hari ini saya mau ke kampus, Bu. Kebetulan kemarin saya tidak masuk, jadi ingin mengejar kelas yang ketinggalan," jawab Anisa.

Tadi ia sengaja bangun lebih awal agar bisa menyelesaikan pekerjaannya pagi-pagi. Sebab hari ini Anisa ada rencana untuk pergi ke kampus.

"Kalau begitu bareng sama Imam aja! Kan lumayan jadi hemat ongkos," usul Lusi.

Anisa langsung menoleh. "Saya naik ojek aja, Bu," jawab Anisa.

Ia bingung jika pergi bersama Imam dan temannya melihat, apa kata mereka nanti.

"Di sini jarang ada ojek. Lebih baik kamu berangkat sama saya! Nanti pulangnya baru naik ojek," ucap Imam.

"Nah, betul itu. Udah kamu bareng Imam aja!" timpal Lusi.

"Tapi pekerjaan saya belum beres, Bu. Pak Imam kan harus berangkat pagi," sahut Anisa.

"Kerjaan kan bisa dikerjakan nanti. Lagian rumahnya masih rapih, kok. Udah, kamu jangan ngeyel! Setelah sarapan, kalian berangkat ke kampus bersama," ujar Lusi.

'Duh, gimana ini? Aku gak akan nyaman kalau satu mobil sama beliau,' batin Anisa.

Sebenarnya sampai saat ini ia masih malu jika mengingat bagaimana sikapnya pada Imam dulu. Sehingga Anisa selalu berusaha menghindari pria itu.

Selesai sarapan, Imam meminta Anisa untuk berganti pakaian. "Lebih baik kamu ganti pakaian sekarang! Udah mandi, kan?" tanya Imam.

"Sudah, Pak," sahut Anisa.

"Ya sudah, saya tunggu di mobil," ucap Imam, sambil beranjak. Kemudian ia berpamitan pada ibunya.

"Terima kasih ya, kamu sudah menerima dia dengan baik," ucap Lusi. Awalnya ia khawatir Imam tidak suka ada pembantu yang tidak kompeten seperti Anisa.

"Bagaimana pun dia mahasiswiku, Bu. Jadi aku sudah menganggapnya seperti adik sendiri," jawab Imam.

"Ya sudah, kasihan dia orang tuanya gak ada. Jangan digalakin ya, Mam!" pinta Lusi. Ia tahu bagaimana anaknya. Sehingga Lusi berpesan seperti itu.

"Udah, Ibu tenang aja. Aku pergi dulu, ya. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Imam pergi ke mobilnya untuk memanaskan mesin mobil itu. Sambil menunggu Anisa, ia duduk di kursi kemudi.

Sementara itu, Anisa yang sudah siap pun terlihat ragu-ragu. "Mau taruh di mana mukaku kalau harus berhadapan sama dia terus?" gumam Anisa yang sedang berdiri di taman. Tadi ia keluar dari samping. Sebab kamarnya memiliki akses ke pintu samping rumah itu.

"Anisa, kok kamu malah diam di sini?" tanya Lusi. Imam pun langsung menoleh ke sumber suara.

Imam untuk AnisaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang