Saat sedang melewati perpustakaan, Imam melihat Anisa sedang duduk di sana. Ia pun menghentikan langkahnya sambil menatap gadis itu.
Kala itu Anisa sedang duduk di satu meja yang posisinya menyampingi jendela. Sehingga ia tidak sadar ada yang sedang memperhatikannya. Ia fokus membaca buku seolah tanpa beban.
Imam lega karena Ima tidak seperti yang ia khawatirkan. Padahal sebelumnya Imam khawatir gadis itu akan terpukul karena dirundung.
"Syukurlah. Sepertinya dia tidak selemah yang aku pikirkan," gumam Imam. Kemudian ia pun berlalu.
Siang hari, saat jam istirahat kampus, Anisa sudah selesai kuliah. Berhubung sudah tidak ada jadwal lagi, Anisa pun meninggalkan kampus. Ia naik ojek agar bisa lebih cepat sampai ke tujuan.
Saat sedang di lampu merah, Imam tak sengaja melihat Anisa. Awalnya ia ingin mengabaikan Anisa. Namun sayangnya itu tidak mudah. Ia yang berada di dalam mobil ber-AC itu tak tega melihat Anisa kepanasan di jalan.
"Aku yang di mobil saja masih merasa panas. Apalagi dia yang seperti itu?" gumam Imam. Ingin sekali ia mengajak Anisa pindah ke mobilnya. Namun sayang tujuannya saat ini bukan hendak pulang ke rumah.
Saat lampu berubah menjadi hijau, Imam kembali melajukan kendaraannya. Namun ia heran karena Anisa tidak berbelok ke arah rumahnya.
"Lho, dia mau ke mana?" gumam Imam. Ia bingung karena seharusnya gadis itu langsung pulang. Ia pun ingat siang ini Anisa belum makan.
Ia yang seharusnya pergi ke toko buku pun akhirnya mengurungkan niatnya. Imam penasaran dengan kegiatan gadis itu. Ia khawatir Anisa melakukan hal di luar batas karena membutuhkan uang.
Apalagi ia sempat menolak bantuan Imam mengenai biaya kuliah. Hal itu membuat Sang Dosen semakin resah.
Imam seperti pria yang sedang membuntuti kekasihnya yang hendak selingkuh. Pandangannya tak lepas dari Anisa.
"Ini kan ke arah hotel itu," gumam Imam. Kecurigaannya semakin menjadi karena ojek yang Anisa tumpangi menuju ke sebuah hotel.
"Ya Tuhan, apa yang akan dia lakukan di sana?" gumam Imam. Hatinya semakin was-was ketika melihat Anisa turun dari motor dan menyebrang ke hotel tersebut.
Buru-buru Imam memarkirkan mobilnya di sebuah minimarket. Ia segera mengejar Anisa ke dalam hotel itu.
"Semoga kecurigaanku salah," gumam Imam. Namun hatinya sangat kecewa karena Anisa bertemu dengan seorang lelaki tampan yang penampilannya seperti exsecutive muda.
'Ya Tuhan. Aku tidak menyangka dia akan seperti itu,' batin Imam. Ia pikir Anisa akan check in dengan pria tersebut. Sebab baginya tidak ada alasan lain seorang wanita bertemu dengan pria di hotel jika bukan karena check in.
Imam yang kecewa pun memilih untuk pergi. Ia tidak ingin Anisa malu jika dirinya langsung menegur saat itu juga.
Sementara itu, Anisa pergi ke sebuah ruangan bersama dengan pria tadi.
"Maaf ya saya ngundang kamu ke sini. Sebab kebetulan setengah jam lagi ada meeting penting di sini. Jadi biar gak telat," ucap seorang pria yang sedang bersama Anisa.
"Oh iya, Pak. Justru saya berterima kasih karena Bapak masih mau meluangkan waktu untuk bertemu saya," jawab Anisa.
Ternyata pria itu adalah pengacara yang akan membantu Anisa. Namanya Yusuf, usianya masih terbilang muda untuk ukuran pengacara kompeten seperti dia. Penampilannya sangat menawan, membuat hati wanita bisa berdebar-debar.
Namun hal itu tidak berlaku bagi Anisa. Sampai saat ini hanya Imam yang mampu menggetarkan hatinya. Sehingga meski berhadapan dengan orang seperti Yusuf pun Anisa tidak terpengaruh.
"Dengan senang hati, De. Tapi tolong jangan panggil saya 'Bapak'. Saya kan belum jadi bapak-bapak, hehe," ucap pria itu.
"Hehehe, abisnya aku bingung mau manggil apa. Kan biar gimana pun Bapak lebih tua dari aku," ucap Anisa.
Usia mereka terpaut 7 tahun. Sehingga Anisa merasa Yusuf jauh lebih tua darinya. Padahal untuk seorang pria mapan, usianya masih terbilang muda.
"Panggil Mas aja!" pinta Yusuf.
"Ooh, oke deh, M-mas," ucap Anisa, kikuk.
"Oke, kita langsung aja, ya! Silakan duduk dulu. Nanti saya akan jelaskan masalahnya," ucap Yusuf.
Sebagai anak paling tua, Anisa dianggap perlu mengetahui apa yang akan Yusuf lakukan. Sehingga siang ini pria itu memintanya untuk bertemu.
"Jujur, saya sangat percaya bahawa Pak Yakub tidak mungkin melakukan hal itu. Saya yakin beliau pasti dijebak," ucap Yusuf.
"Iya, Mas. Kalau Mas Yusuf sudah lama jadi penasihat hukum Papah aku, pasti Mas tahu bagaimana track record beliau. Papah gak mungkin berani melakukan hal itu. Aku tahu betul beliau orang yang taat agama dan bersih," ucap Anisa.
"Iya, makanya saya berani maju meski mungkin lawannya bukan orang sembarangan. Tapi saya perlu menjelaskan beberapa hal pada De Anisa.
"Apa itu?" tanya Anisa.
"Begini. Karena kasus yang dihadapi Bapak cukup rumit, mungkin akan butuh waktu yang cukup lama untuk menyelesaikannya. Jadi saya harap Ade lebih bersabar menunggu sampai kasus ini selesai," jelas Yusuf.
Anisa terlihat menghela napas. "Kasihan Papah. Pasti beliau stress menghadapi kasus ini," gumamnya sambil melamun.
"De Anisa jangan khawatir! Bapak bukan orang yang lemah. Kebetulan kemarin saya baru saja menemui beliau dan alhamdulillah beliau terlihat sehat. Ini ada surat yang dititip untuk De Anisa," ucap Yusuf sambil memberikan secarik kertas pada Anisa.
Anisa mengambil kertas tersebut. Kemudian ia membacanya.
"Assalamualaikum, Nak. Apa kabar? Maaf ya jika sekarang kita harus menghadapi situasi seperti ini. Mungkin Allah sayang sama keluarga kita, makanya kita mendapat cobaan. Anggap saja ini latihan supaya metal kalian lebih kuat!"
"Kamu jangan khawatir! Alhamdulillah Papah di sini baik-baik saja. Papah harap kamu selalu tawakal dan bersabar. Ingat selalu pesan Papah! Jangan pernah meninggalkan shalat lima waktu dalam kondisi apa pun, dan ingat bahwa Allah maha melihat! Apa pun yang kamu lakukan."
Anisa tersenyum. Ia hafal betul bahwa itu tulisan papahnya. Ia pun ingat nasihat tersebut selalu diucapkan oleh papahnya tersebut.
"Syukurlah kalau Papah baik-baik saja. Tapi kapan aku bisa bertemu beliau?" tanya Anisa.
"Tidak dalam waktu dekat. Nanti kalau sudah diizinkan, saya pasti akan menghubungi De Anisa," jawab Yusuf.
"Terima kasih ya, Mas. Saya bingung harus minta tolong sama siapa lagi. Kalau bukan Mas yang bantu, mungkin Papah saya gak ada yang bela," ucap Anisa.
"Ini sudah kewajiban saya. Saya jadi kuasa hukum keluarga Pak Yakub sudah lama, jadi ketika menghadapi situasi seperti ini, tentu saya yang harus maju," jelas Yusuf.
Saat itu Yusuf pun memberikan sejumlah uang untuk Anisa. Awalnya Anisa sempat menolak. Namun Yusuf berusaha meyakininya. Akhirnya Anisa pun menerimanya demi adiknya. Dengan uang tersebut, ia bisa memberi jajan dan kebutuhan adiknya.
Setelah berpisah dengan Yusuf, ia pun pulang ke rumah Imam.
Sore hari sepulang dari kampus, Imam langsung pulang ke rumahnya. Seperti sebelumnya, Anisa yang membukakan pintu untuknya.
Ceklek!
"Assalamu'alaikum," ucap Yusuf, dengan wajah datar.
"Waalaikumsalam," sahut Anisa. Ia bingung, kemarin Yusuf begitu ramah padanya. Namun hari ini ia terlihat seperti tidak suka bertemu dengan Anisa.
Bahkan pria itu langsung masuk ke rumah tanpa mengatakan sepatah kata pun.
'Apa aku telah berbuat salah?' batin Anisa.
***
Hola ... Makasih masih setia menunggu, hehe.
Just info, Selma liburan updatenya slow, ya. Kalau gak libur panjang, aku up setiap hari kerja.
See u,
JM.
KAMU SEDANG MEMBACA
Imam untuk Anisa
RomanceCinta sebelah pihak tentu sangat menyakitkan. Apalagi jika orang yang dicintai justru mencintai orang lain. Anisa yang selalu ceria dan sering mendekati dosennya itu terpuruk sejak papahnya dipenjara atas tuduhan korupsi. Ia berubah menjadi pendiam...
