33. Terburu-buru

3.9K 226 15
                                        

Anisa tercenung setelah mendengar ucapan Imam barusan. Ia tak menyangka pria itu akan posesif. Padahal hubungan mereka pun baru akan dimulai.

"Maaf, maksudnya bagaimana ya, Pak? Seingat saya, saya tidak pernah dekat dengan pria mana pun," tanya Anisa. Ia tak merasa pernah dekat dengan pria. Sehingga Anisa merasa ucapan Imam barusan sangat aneh.

"Yakin?" tanya Imam sambil melirik sekilas ke arah Anisa.

"I-iyah. Memangnya Bapak pernah lihat saya dekat dengan siapa?" tanyanya.

"Yusuf." Imam langsung to the point.

Anisa ternganga. Ia tak menyangka Imam akan bersikap seperti itu. "Tapi kan aku dan Mas Yusuf gak ada hubungan apa-apa," ucap Anisa.

"Tapi aku cemburu," ucap Imam, jujur.

Anisa merasa seprti naik roller coaster. Ucapan Imam barusan sangat sulit ia percaya. 'Demi apa dia cemburu? Dia mabuk atau gimana, sih?' batinnya.

Menurutnya sangat aneh Imam yang selama ini selalu cuek padanya, tiba-tiba mengatakan bahwa ia cemburu. Padahal Anisa ingat betul bagaimana dulu Imam selalu menghindarinya.

Beberapa saat kemudian mereka sudah pulang dari tempat Yaqub ditahan. Imam telah mengatakan niat mereka untuk menikah dan Yaqub tidak keberatan.

Mereka pun akan melaksanakan pernikahan di tempat penahanan. Sebab, papahnya Anisa itu tidak diizinkan keluar meski hanya untuk menghadiri pernikahan putrinya.

"Nis! Besok pagi tolong siapkan berkas yang dibutuhkan, ya. Supaya aku bisa segera mengurus pendaftaran ke KUA," ucap Imam.

"Iyah," sahut Anisa. Ia terlihat seperti orang ling-lung.

Imam menghela napas. Ia seolah telah melepaskan sebuah beban yang besar.

'Dia beneran serius, kan? Aku takut kalau dia cuma jadikan aku pelampiasan,' batin Anisa.

Ia tidak tahu bahwa sebelum Yasmin pulang pun Imam sudah goyah. Sebenarnya momen Imam memeregoki Yasmin selingkuh merupakan kesempatan baginya. Sebab, semenjak dirinya tergoda oleh Anisa, perasaan terhadap wanita itu sudah mulai berubah.

Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di rumah. "Kita bicara ke Ibu sekarang, ya!" ajak Imam.

"Apa tidak terlalu cepat, Pak?" tanya Anisa. Ia malu untuk mengatakan hal itu pada Lusi.

"Lalu mau kapan lagi? Lebih cepat lebih baik, kan?" tanya Imam.

"I-iya. Tapi bagaimana kalau Ibu tidak setuju? Saya takut hal itu justru akan merusak hubunganku dengan Ibu," ujar Anisa. Ia khawatir Lusi tak setuju dan benci padanya.

"Jangan berpikir negatif! Ibu bukan tipe orang seperti itu. Aku yakin beliau pasti setuju. Ayo masuk!" ajaknya, setelah mereka turun dari mobil.

Dengan langkah yang ragu, Anisa pun masuk ke rumah itu.

"Assalamualaikum!" ucap Imam. Mereka pun disambut oleh Lusi.

"Waalaikumsalam. Kalian kok baru sampai rumah?" tanya Lusi.

"Iya tadi ada perlu, Bu. Ibu lagi sibuk, gak?" Imam balik bertanya.

Anisa langsung menoleh ke arah Imam. Ia merasa pria itu terlalu tergesa-gesa.

"Enggak. Ada apa?" tanya Lusi lagi.

"Ada yang ingin kami bicarakan," ucap Imam. Kemudian ia menggenggam tangan gadis itu.

Deg!

Jantung Anisa bertalun-talun kala tangannya digenggam oleh Imam. Kakinya pun terasa lemas, seperti hendak menghadapi sidang.

Imam untuk AnisaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang