"Mulai, deehh. Suudzon sama suami sendiri," ucap Imam, sambil mencubit hidung istrinya tersebut.
Sejak menikah, mereka melalui hari dengan penuh kemesraan. Setiap datang ke kampus, mereka berakting seperti tidak memiliki hubungan. Hingga kini Anisa berhasil menyelesaikan skripsinya.
Hari ini ia berangkat ke kampus untuk bimbingan skripsi dengan dosennya. Anisa berangkat bersama Imam. Sesuai permintaan istrinya, Imam tetap bersikap profesional saat sedang di kampus. Mereka pun tak saling bertegur sapa di sana.
Mahasiswa dan dosen lain pun tak ada yang mengetahui perihal pernikahan mereka. Hanya segelintir orang yang mengetahui hal itu. Yaitu orang-orang terdekat mereka.
Selesai bimbingan skripsi, Anisa berhasil mendapat persetujuan untuk maju sidang skripsi dari pembimbingnya itu. Ia pun mengabari suaminya melalui telepon. Telepon terhubung. "Assalamu'alaikum, Mas," ucap Anisa.
"Waalaikumsalam. Gimana, Sayang, apa kamu bisa maju sidang minggu depan?" tanya Imam penasaran.
"Alhamdulillah, Mas. Aku bisa maju sidang minggu besok. Tapi, penguji sidangnya belum dikasih tahu," ucap Anisa senang.
Meski hatinya sangat senang saat itu, Anisa tetap dibuat cemas oleh pihak kampus. Sebab, ia belum diberi tahu perihal penguji sidangnya nanti.
Biasanya, pihak kampus sengaja merahasiakan penguji yang akan maju saat sidang skripsi mahasiswanya. Sebab, pihak kampus ingin mahasiswanya lebih mempersiapkan diri. Sewaktu-waktu mendapat penguji yang punya gelar killer.
"Ya sudah, jangan terlalu dipikirkan! Yang penting, skripsi kamu sudah selesai. Sekarang, tugas kamu hanya perlu mempersiapkan semuanya dengan baik untuk hasil yang baik," nasihat Imam.
"Hehe kamu emang paling bisa nenangin aku, Mas. Terima kasih, ya. Ya udah, kalau gitu nanti aku kabarin lagi kalau udah beres," ucap Anisa.
"Oke, Sayang. I love you. Semangat, ya! Aku percaya istriku pasti bisa," ucap Imam.Telepon terputus. Sebelumnya, Anisa tak lupa mengucapkan salam untuk mengakhiri panggilan telepon dengan suaminya.
Hari-hari berlalu. Hari ini merupakan sidang skripsi Anisa. Sampai saat itu pun, Anisa masih belum mengetahui siapa penguji sidangnya. "Sayang, Kira-kira siapa ya yang jadi penguji aku?" tanya Anisa pada suaminya yang sedang bercermin.
Imam sudah mengetahui bahwa dirinya lah yang akan menguji istrinya sendiri. Namun, Imam lebih memilih untuk merahasiakan itu. Ia ingin membuat istrinya tetap mempersiapkan semuanya dengan baik.
"Gak usah khawatir, Sayang! Gak penting siapa penguji kamu nantinya. Yang penting, kamu sudah mempersiapkan semuanya dengan baik, Kan?" ucap Imam.
"Iya, sih. Semoga dapet penguji yang baik kayak kamu, deh," gumam Anisa sambil menutup skripsinya yang sejak semalam, ia pelajari. Kemudian ia mendekat ke arah Imam.
Setelah itu langsung memeluknya dari belakang.Tentu saja Imam senang akan sikap istrinya tersebut. Ia mengusap tangan Anisa yang ada di perutnya.
Namun Imam tak mau rugi. Ia balik badan dan membalas pelukan istrinya tersebut."Tumben banget istriku jadi manja?" goda Imam.
"Emang kamu gak suka, ya?" tanya Anisa, sambil mendongak.
"Suka, dong! Apa sih yang gak aku suka dari kamu?" sahut Imam. Ia mencubit gemas hidung istrinya tersebut.
"Hem! Pagi-pagi udah gombal. Ya udah ah, berangkat, yuk!" ajak Anisa. Ia pun melepaskan pelukannya.
"Eits! Tunggu dulu," ucap Imam. Kemudian ia langsung mengecup bibir istrinya.
"Booster untuk istri yang mau sidang," ucap pria itu.
"Makaciii," sahut Anisa, sambil tersenyum senang.Mereka pun berangkat ke kampus pagi itu. Kebetulan, Anisa mendapatkan jadwal sidang jam 08.00 pagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Imam untuk Anisa
RomanceCinta sebelah pihak tentu sangat menyakitkan. Apalagi jika orang yang dicintai justru mencintai orang lain. Anisa yang selalu ceria dan sering mendekati dosennya itu terpuruk sejak papahnya dipenjara atas tuduhan korupsi. Ia berubah menjadi pendiam...
