26. Ada Hubungan Apa

4.5K 256 10
                                        

Anisa pun menjelaskan bagaimana kronologi yang ia alami.

"... dan akhirnya aku lega sekali saat melihat ada Bapak di sana," jelas Anisa.

"Ya Allah. Jadi dia sudah ada di dalam mess itu?" tanya Imam.

Anisa mengangguk.

"Berarti dia melihat waktu kamu buka baju?" tanya Imam lagi. Tangannya mengepal erat. Ia seolah ingin menghajar orang itu lebih keras lagi.

Anisa menunduk. "Sepertinya begitu, Pak. Bahkan dia sempat melemparku ke tempat tidur dan hampir melakukannya," lirih Anisa, jujur.

Tubuh Imam terasa panas. Ia sangat emosi mendengar ada pria yang hampir menodai Anisa. Rasanya ia ingin menghajar habis-habisan pria itu. "Seandainya aku tahu, sudah aku bunuh bajingan itu," gumam Imam, pelan.

"Apa, Pak?" tanya Anisa.

"Bukan apa-apa. Ya sudah yang penting kamu baik-baik saja. Tapi lebih baik kamu resign dari tempat itu!" pinta Imam.

"Lho, kenapa Pak?" tanya Anisa.

"Sekarang kamu pikir. Dari mana dia bisa masuk? Pasti dia memegang kunci mess tersebut. Artinya ada orang dalam yang membantunya untuk masuk," jelas Imam.

Anisa terdiam. Apa yang Imam jelaskan cukup masuk akal.

"Tapi aku tidak enak pada Mas Yusuf. Lagi pula aku masih butuh uang," ujar Anisa.

"Kamu jangan mikirin masalah uang. Biar aku yang kasih. Jadi kamu fokus selesaikan kuliahmu aja!" pinta Imam.

"Terima kasih, Pak. Tapi maaf aku gak mau terlalu banyak berhutang budi pada Bapak. Jadi mohon izinkan saya untuk mencari uang sendiri," ujar Anisa.

"Tapi aku tidak tenang jika kamu kembali ke sana lagi. Bagaimana jika orang itu mengganggu kamu lagi, hem?" tanya Imam.

"Kebetulan aku kerjanya gak di-shift jadi bisa pulang sore. Kalau masih terang insyaaAllah aman," jawab Anisa.

"Kamu ini keras kepala sekali, sih?" tanya Imam.

Anisa hanya tersenyum.

"Satu lagi. Aku mau tanya, kenapa kamu tiba-tiba pergi dari rumah ini?" tanya Imam sambil menatap Anisa.

Ditatap seperti itu oleh Imam, Anisa pun salah tingkah. Sampai saat ini pria itu masih menguasai hatinya. Sehingga jantungnya berdebar-debar kala ditatap seperti itu.

"Gak apa-apa, Pak. Aku cuma pingin cari pengalaman aja," jawab Anisa.

"Apa kamu yakin?" tanya Imam.

Anisa mengangguk.

"Tapi aku rasa ini ada hubungannya dengan Yasmin," ucap Imam.

Deg!

Wajah Anisa merona. Ia yang belum tahu bahwa Imam sudah mengakhiri hubungannya dengan Yasmin pun malu. Ia langsung beranjak untuk menaruh piring.

Imam langsung mencekalnya. Ia menggenggap pergelangan tangan gadis itu. "Aku sudah putus dengan Yasmin," ucapnya. Imam tidak tahu harus bicara apa. Sehingga ia langsung mengatakan seperti itu.

Tubuh Anisa meremang saat mendengar bahwa dosennya itu sudah putus. Ia seolah mendapat harapan baru. Namun Anisa tidak ingin terlalu senang dulu.

"Maaf, itu bukan urusan saya," ucap Anisa. Ia masih ingat betul ucapan Imam yang telah menyakiti hatinya. Anisa berusaha melepaskan tangan Imam dan membawa piringnya ke dapur.

Imam pantang menyerah. Ia masih berhutang permintaan maaf. Ia pun membuntuti Anisa ke dapur.

"Tentu saja itu jadi urusan kamu, Nis. Kan kamu sendiri yang bilang kalau kamu ...." Belum sempat Imam melanjutkan ucapannya, Anisa langsung memotongnya. Ia tidak sanggup mendengar kelanjutan dari ucapan dosennya itu.

"Itu dulu, Pak. Dan sekarang sudah berbeda," jawab Anisa.

Imam kecewa mendengarnya. Namun ia masih berusaha meminta maaf pada Anisa.

"Oke, terserah kamu mau bilang apa. Yang pasti aku cuma mau minta maaf. Mungkin hanya permintaan maaf saja gak akan cukup. Aku memang sangat bodoh, percaya sama dia begitu aja," ujar Imam.

"Bapak gak salah, kok. Sudah merupakan hal yang wajar jika seseorang lebih percaya pada orang yang dicintai. Sedangkan saya ini siapa? Bukan siapa-siapa dan mungkin tidak penting bagi Bapak. Jadi tidak ada alasan untuk Bapak percaya pada saya," jawab Anisa.

Ia mencuci piring kemudian berlalu meninggalkan Imam.

"Nis! Kamu jangan bilang begitu. Aku ...."

Lagi-lagi Anisa memotong ucapan Imam. "Maaf, Pak. Hari ini cukup melelahkan bagi saya. Jadi mohon izinkan saya untuk beristirahat," pinta gadis itu.

Imam sadar bahwa Anisa baru saja melalui kejadian yang berat. "Oh iya, maaf," ucap Imam.

Akhirnya Anisa pun berlalu masuk ke kamarnya.

"Huuh! Memang tidak mudah untuk memperbaiki kesalahan. Terlebih jika telah menyakiti hati seorang wanita. Pasti sulit untuk menyembuhkan lukanya," gumam Imam. Ia pun masuk ke kamarnya.

Keesokan harinya, Yusuf datang ke mess pagi-pagi karena semalam ia tidak bisa menemui Anisa. Ia datang tanpa mengabari lebih dulu. Yusuf membawa bubur ayam untuk sarapan gadis itu.

Tiba di mess, ia bingung karena tempatnya kosong. Beberapa kali Yusuf memanggil Anisa, tetapi ia tidak mendapat jawaban dari gadis itu.

"Apa dia sudah ada di cafe, ya? Tapi kan ini masih sangat pagi," gumam Yusuf. Akhirnya ia mencari Anisa ke cafe.

Setibanya di cafe, Yusuf tidak menemukan Anisa sama sekali. "Anisa sudah ke sini, belum?" tanyanya pada staf yang datang cukup pagi itu.

"Belum, Pak. Dari tadi saya sendiri," jawab staf tersebut.

"Oh iya, terima kasih," sahut Yusuf. Ia kembali ke mobilnya. Kemudian menghubungi Anisa.

Anisa yang sedang menyiapkan makanan di meja makan mendapat telepon dari Yusuf. Meski ia sudah tidak menjadi ART lagi, tetapi Anisa ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat di sana. Sehingga ia membantu ART memasak dan menyiapkannya.

Telepon terhubung.

"Assalamualaikum, Mas," jawab Anisa. Ia masih belum sadar bahwa dirinya belum pamit pada Yusuf.

"Nis! Kamu di mana? Ini aku tadi ke mess kok kamu gak ada?" tanya Yusuf.

"Oh iya. Aduh, maaf banget ya, Mas. Semalam ada sesuatu, jadi aku harus pergi dari sana," jelas Anisa.

Imam yang baru datang ke ruang makan itu langsung melirik ke arah Anisa.

"Ya ampun, aku kira kamu hilang ke mana. Memang ada apa?" tanya Yusuf lagi.

"Hem ... ceritanya nanti aja pas di kantor ya, Mas. Gak enak kalau di telepon," sahut Anisa.

"Ooh oke. Sekarang kamu di mana? Biar aku jemput," ucap Yusuf.

"Aku sekarang ... lagi di rumah Pak Imam," jawab Anisa, ragu.

Yusuf langsung mengerutkan keningnya. "Kok kamu bisa ada di sana lagi?" Ia heran mengapa Anisa bisa kembali ke rumah itu.

"Ceritanya panjang, Mas," sahut Anisa. "Udah dulu, ya. Nanti aku datang ke cafe seperti biasa, kok," sambungnya.

"Oh, ya udah," jawab Yusuf.

Telepon terputus.

"Siapa?" tanya Imam, penasaran. Namun sebenarnya ia sudah dapat menebak siapa yang menghubungi Anisa.

"Mas Yusuf, Pak," jawab Anisa, singkat. Kemudian ia kembali ke dapur untuk mengambil makanan yang lain.

"Ngapain dia pagi-pagi nelepon kamu?" tanya Imam lagi. Ia terlihat sangat posesif.

"Apa Bapak perlu tahu semua urusan pribadiku?" Anisa balik bertanya.

Imam tercekat. Ia kesal karena Anisa malah menjawab seperti itu. "Kamu kok sewot gitu jawabnya? Aku kan cuma nanya. Emang kamu ada hubungan apa sama dia?" Imam masih sangat penasaran.

Imam untuk AnisaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang