45. Kamar Bersama

6.3K 220 6
                                        

"Sebenarnya apa, Mas?" tanya Anisa. Ia sangat cemas karena khawatir apa yang ia pikirkan ternyata benar.

"Sebanrnya ini pengalaman pertama aku, Sayang," ucap Imam, sambil menatap istrinya.

"Masaaa?" tanya Anisa. Ia terlihat senang mendengarnya. Namun Anisa tak ingin mempercayainya begitu saja.

"Iya. Sayang. Kamu gak percaya? Aku gak mungkin berani ngelakuin itu sebelum nikah," sahut Imam, yakin.

"Abis tadi Mas kayak orang udah pengalaman. Kan aku jadi mikir kalau kamu emang udah sering ngelakuin itu," ucap Anisa, manja.

"Enggaklah. Kayak gitu kan gak perlu pengalaman. Cuma butuh naluri. Yang penting sama-sama enak, hehe," jawab Imam. Namun ia bangga karena dengan begitu artinya Anisa puas dengan apa yang ia berikan.

"Syukurlah kalau begitu. Aku cemburu misalnya Mas udah pernah ngelakuin sama orang lain," sahut Anisa, malu-malu.

"Tenang aja! Cuma kamu kok yang pernah ngerasain goyangan aku. Pokoknya tubuhku spesial untuk istri tercinta," bisik Imam, nakal.

"Ya udah, gak usah dibahas lagi! Aku malu," ujar gadis itu. Wajahnya merona setelah mendengar bisikan dari suaminya.

"Malu kenapa, Sayang? Tadi kamu gak malu, deh. Malah asik banget."

"Iihh, itu kan beda momennya. Oh iya, rencananya besok kita mau ke mana?" tanya Anisa.

"Aku sih gak ada rencana. Emang kamu kuat jalan-jalan? Katanya lemaass?" ledek Imam, sambil mencubit hidung istrinya.

"Ya iya. Cuma masa mau di kamar terus?"

"Emang kenapa? Namanya lagi bulan madu, wajar dong di lamar terus? Jalan-jalannya nanti aja pas lagi gak bulan madu, hehe," ucap Imam. Ia tak ingin membuang waktu dengan jalan-jalan.

"Duh, bisa jamuran nanti kalau di kamar terus?"

"Enggaklah. Kan disiram terus. Jadi jamurnya gak akan datang," jawab Imam.

"Hiihh!" Anisa sebal karena pria yang dulunya dingin itu kini jadi lebih cerewet dan sering menggodanya.

Setelah puas berbincang, mereka pun melakukan shalat isya lebih dulu. Tentu saja Imam yang mempimpin shalatnya.

Tak lama kemudian pelayan datang membawa makanan untuk mereka berdua. Imam pun mengambil makanan tersebut, kemudian membawnaya ke dekat Anisa.

"Sini aku suapin," ucap pria itu.

"Makasih ya, Mas," ucap Anisa. Ia tak menolak karena masih merasa lemas.

"Makan yang banyak ya, Sayang! Biar kuat," ucap Imam, dengan tatapan nakal.

"Kuat apa?" tanya Anisa, sambil mengerutkan kaningnya. Namun ia mencurigai sesuatu.

"Ya kuat apa aja. Apalagi sekarang kan kita butuh tenaga ekstra," jawab Imam, genit.

"Iihh, Mass. Dibilang jangan dibahas, juga!" keluh Anisa.

"Oh iya, aku lupa. Kamu kan gak suka teori, ya? Sukanya langsung praktek," canda Imam.

"Hehehe, bisa aja!" Anisa malu-malu.

Hari-hari berikutnya dilalui dengan begitu romantis oleh pasangan yang baru saja resmi menjadi suami istri itu. Awalnya mereka pulang ke rumah Yaqub. Namun beberapa hari kemudian Imam pamit untuk mengajak Anisa tinggal di rumahnya.

Sadar Anisa sudah menjadi hak Imam, Yaqub pun mengizinkan. Lagi pula ia tak tega membiarkan Lusi tinggal sendirian di sana. Setidaknya di rumah Yaqub masih ada Fatih yang bisa menemaninya.

Saat ini Imam dan Anisa baru saja tiba di rumah Lusi. Mereka membawa beberapa koper besar milik wanita itu. Sebab dulu Anisa memang tak membawa semua pakaiannya.

"Assalamualaikum," ucap Imam saat memasuki rumah Lusi.

"Waalaikumsalam. Akhirnya kalian pulang ke sini. Ibu kesepian, lho," ucap Lusi. Ia sangat senang anak menantunya itu bisa pulang ke rumah tersebut.

"Maaf ya, Bu. Kemarin aku gak tega kalau langsung ninggalin Papah gitu aja. Apalagi kan aku udah lama gak ketemu Papah," ucap Anisa.

"Iya, gak apa-apa, Sayang. Yang penting kan sekarang kalian udah di sini. Gimana kabar papah kamu, sehat?" tanya Lusi.

"Alhamdulillah sehat. Ada salam dari Papah."

"Waalaikumsalam ...."

"Bu! Kami ke kamar dulu, ya. Mau beresin pakaian Anisa," ucap Imam.

"Oh, iya. Nanti kita makan siang bareng, ya! Ibu udah masak spesial buat kalian."

"Iya, Bu. Terima kasih. Aku pamit dulu, ya." Anisa pun menyusul Imam ke kamarnya.

"Welcome di kamar kita," ucap Imam saat Anisa memasuki kamar itu. Imam pun segera menutup pintu, kemudian memeluk Anisa dari belakang.

"Dulu kamu sering bolak balik kamar ini cuma buat beresinnya. Sekarang kamu jadi penghuni tetap kamar ini," bisik pria itu.

Anisa tersenyum. Ia tak menyangka bahwa kamar yang selalu ia repikan itu justru akan menjadi kamarnya.

"Kamu tau, gak? Waktu mau nikah, aku sampe gak bisa tidur. Rasanya pingin nyelinap masuk ke kamar kamu. Tapi sayangnya dulu kamu malah nyuekin aku," curhat Imam.

Anisa menoleh ke arah suaminya. "Dulu kan aku sebel sama kamu. Lagian aku juga takut kamu nyuri start," ucap Anisa. Ia ingat Imam pernah berani mencumbunya. Sehingga Anisa khawatir jika dirinya membiarkan Imam, mungkin pria itu bisa khilaf.

"Ya enggaklah. Aku masih bisa ngontrol, kok. Kalau cuma kiss kan masih batas wajar, meski sebenarnya gak boleh, hehe. Tapi kalau sekarang jangan ditanya, ya. Aku agak sulit untuk ngontrol," jelas Imam.

Anisa memicingkan matanya. "Nakal!" ucapnya.

"Biarin. Nakal sama istri sendiri mah halal. Dari pada nakal sama cewek lain," jawab Imam, yakin.

"Iihhh, awas aja kalau berani! Mas harus tau kalau aku itu posesif. Jadi jangan pernah coba main hati! Kalau sampe berani lirik cewek lain, aku juga bakalan lirik cowok lain!" ancam Anisa.

"Lho, kok gitu ngancemnya?" tanya Imam. Ia tak terima Anisa mengatakan dirinya akan melirik cowok lain.

"Kenapa? Gak usah takut kalau gak merasa punya niat jelek. Aku kan begitu kalau Mas nakal," sahut Anisa, yakin.

"Tapi aku gak suka dengernya. Awas aja kalau kamu berani macam-macam. Nanti cowoknya aku bunuh!" sahut Imam, serius.

"Jangan ngomong gitu, ah. Serem," ucap Anisa. Ia pikir Imam hanya bercanda.

"Aku serius, Sayang. Aku gak akan biarin siapa pun ganggu istriku. Sampai ada yang berani. Aku gak akan segan untuk bunuh orang itu," jawab Imam.

"Istighfar, Mas! Meski aku gak niat macem-macem, tapi gak enak dengernya. Aku takut ada setan lewat," ucap Anisa.

"Aku cinta kamu, Nis. Jangan pernah tinggalin aku, ya?" pinta Imam.

Mendapat begitu banyak cinta dari Anisa, Imam jadi mencintainya jauh lebih dalam. Bahkan ia tak rela kehilangan gadis itu. Baginya, wanita yang mencintainya sepenuh hati seperti Anisa itu sangatlah langka. Sehingga ia tak akan pernah melepaskannya.

Anisa mengangguk. "Mas juga!" ucapnya.

"Iya, Sayang. Hanya maut yang akan memisahkan kita. Oh iya, besok kamu ke kampus, kan?" tanya Imam.

"Iya. Tapi Mas gak lupa permintaan aku, kan? Sementara jangan sampai ada yang tahu pernikahan kita dulu!" pinta Anisa.

"Kamu minta hal itu bukan karena malu jadi istri aku, kan?" tanya Imam.

Imam untuk AnisaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang