25. Anggap Rumah Sendiri

4.7K 277 7
                                        

Beberapa menit kemudian Anisa keluar dari kamarnya. Tak lupa ia membawa makanan yang tadi ia beli.

Ceklek!

Imam yang sedang menunggu Anisa sambil melamun pun menoleh ke arahnya. "Sudah?" tanya Imam.

"Sudah, Pak," jawab Anisa. Ia masih lemas karena kejadian tadi. Apalagi dirinya belum makan malam.

"Ya sudah, kalau begitu lebih baik kita pulang sekarang!" ajak Imam. Namun ia melihat Anisa memegang satu kantong plastik.

"Itu apa?" tanya Imam.

"Ini ... tadi saya baru beli makan dan belum sempat dimakan," jawab Anisa.

Imam langsung melihat jam tangannya. "Jam segini kamu belum makan malam?" tanyanya. Ia tak habis pikir sudah jam 22.00 Anisa belum makan malam.

"Iya, belum lapar," sahut Anisa. Ia tidak mungkin menjelaskan sesuatu yang bisa membuat Imam salah paham.

"Ya sudah, kalau begitu kita pulang dulu! Nanti kamu bisa makan di rumah," ajak Imam.

Akhirnya mereka pun masuk ke mobil Imam yang ada di depan cafe, kemudian meninggalkan cafe tersebut.

Saat di jalan, Imam sangat ingin menegur Anisa. Namun ia tahu kondisi gadis itu saat ini sedang kurang baik. Sehingga ia sadar tidak tepat jika dirinya menegur Anisa saat itu juga.

"Kalau kamu lelah, tidur aja dulu!" ucap Imam. Ia yakin kejadian tadi cukup menguras tenaga Anisa.

"Enggak kok, Pak," jawab Anisa.

Beberapa kali Imam menoleh ke arah gadis itu. Ia ingin menyampaikan sesuatu. Namun lidahnya terasa begitu kelu. 'Kenapa aku jadi pengecut seperti ini? Mau minta maaf saja sulit sekali,' batin Imam.

Ia ingin meminta maaf mengenai masalah Yasmin. Apalagi saat ini dirinya sudah mengetahui bahwa ternyata Anisa tidak bersalah.

Beberapa hari lalu bahkan Imam sudah datang ke rumah Yasmin. Ia menemui orang tua wanita itu untuk membatalkan pertunangannya.

Awalnya keluarga Yasmin berusaha menolak. Namun Imam sudah tidak dapat menerimanya lagi. Ia bersikukuh untuk membatalkannya.

Bahkan ia telah mengatakan pada Lusi. Tentu saja wanita paruh baya itu setuju dengan niat anaknya tersebut. Sehingga Lusi langsung mendukungnya.

Tadi pun Imam mengatakan hendak menjemput Anisa. Jadi saat ini Lusi sedang menunggunya di rumah.

Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di rumah. Lusi langsung keluar dari pintu rumah itu, untuk menyambut Anisa.

Melihat Lusi, Anisa langsung turun dari mobil dan memeluknya. Ia merasa Lusi sudah seperti sosok ibu baginya.

"Bu! Maafin aku," lirih Anisa. Ia langsung menangis di pelukan Lusi.

"Lho, kenapa minta maaf?" tanya Lusi. Ia belum tahu apa yang telah menimpa gadis itu.

"Huhuhu, tadi ada orang yang hampir menodaiku, Bu. Aku takut," rengeknya. Ia tidak bisa untuk memendam itu sendirian. Dengan bercerita, Anisa merasa bebannya sedikit berkurang.

"Astaghfirullah ... terus kamu gak kenapa-kenapa kan, Nak?" tanya Lusi. Ia langsung melepaskan pelukan Anisa dan mengecek tubuh gadis itu.

Anisa menggelengkan kepala. "Enggak, Bu. Untung Pak Imam datang tepat waktu," ujarnya sambil terisak.

"Syukurlah." Lusi langsung memeluk Anisa lagi. Ia lega karena gadis itu selamat.

"Nis, mulai sekarang jangan pergi dari rumah ini lagi, ya! Ibu kepikiran kamu terus," bisik Lusi sambil mengusap punggung Anisa.

Anisa mengangguk. "InsyaaAllah, Bu," jawabnya.

"Lebih baik kita masuk!" ajak Imam, setelah memarkirkan mobil dan menutup pagar rumahnya.

"Bi! Tolong buatkan minuman hangat, ya!" pinta Lusi pada ART yang baru.

"Ada siapa, Bu?" tanya Anisa.

"Itu yang menggantikan kamu, Nis," jawab Lusi.

Anisa menghentikan langkahnya. "Lalu untuk apa saya datang ke sini? Saya gak mau ganggu pekerjaan orang lain, Bu," ucapnya.

"Nis! Siapa yang bilang kamu mau mengambil pekerjaannya? Kamu itu sudah ibu anggap seperti anak sendiri. Sekarang kan orang tua kamu sedang tidak ada. Jadi untuk sementara, anggap saja ibu ini orang tuamu dan rumah ini rumahmu!" pinta Lusi.

Mata Anisa semakin berkaca-kaca. "Kenapa Ibu baik sekali sama aku?" Ia semakin terharu dibuatnya.

"Karena kamu memang pantas mendapatkannya. Ayo sini duduk!" ajak Lusi. Mereka duduk di ruang tengah.

"Aku mau simpan koper Anisa dulu ya, Bu," ucap Imam.

"Eh! Biar saya aja, Pak!" ucap Anisa. Ia masih tidak enak hati pada Imam.

"Sudahlah! Kamu istirahat saja. Kopernya saya taruh di kamar tamu. Mulai hari ini kamu akan menempati kamar itu," ucap Imam, sambil berlalu.

"Bu ... aku tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan Ibu dan Pak Imam," ucap Anisa.

"Kamu hanya perlu tinggal di sini dan jadi anak yang baik! Anggap ibu orang tuamu ya, Nak!" ucap Lusi.

"Terima kasih, Bu." Anisa kembali memeluk wanita itu.

Lusi sangat bahagia melihat gadis itu kembali. Sebenarnya ia berat untuk melepas Anisa. Namun kemarin Lusi sengaja karena ingin memberi pelajaran bagi anaknya. Lusi ingin Imam sadar betapa penting kehadiran gadis itu di rumahnya.

Lusi sendiri dapat melihat bagaimana perhatian Imam terhadap Anisa belakangan ini. Bahkan anaknya itu terlihat lebih nyaman jika sedang bersama Anisa. Sehingga Lusi sering kali memprovokasinya. Namun sayangnya Imam belum sadar sampai ia menemukan fakta bahwa Yasmin benar-benar selingkuh darinya.

Saat menaruh koper Anisa di kamar itu, Imam tersenyum. Hatinya berdebar-debar karena Anisa yang membawa separuh hatinya itu telah kembali.

Akhir-akhir ini hidupnya terasa hampa. Sehingga ia baru bisa bernapas lega setelah menemukan gadis itu lagi.

Imam memejamkan mata dan mengusap wajahnya kala mengingat kejadian tadi. Tubuh Anisa yang putih dan mulus dapat terlihat dengan jelas meski di dalam kegelapan. Sehingga hal itu cukup mengganggu pikiran lelaki dewasa tersebut.

"Astagaaa ... kenapa aku harus melihat itu?" gumamnya sambil mengusap wajah dengan kasar.

Beberapa saat kemudian, Imam keluar dari kamar itu. "Nis! Lebih baik kamu makan dulu," ucap Imam.

"Kamu belum makan malam?" tanya Lusi, kaget.

"Belum, Bu," sahut Anisa.

"Astaghfirullah. Ibu kira kamu sudah makan. Ya sudah kalau begitu, makan dulu sana!" ucap Lusi.

Anisa mengangguk. Ia pun memang sudah merasa lapar. Akhirnay Anisa pamit dan pergi ke ruang makan.

"Lebih baik Ibu istirahat! Sudah malam," ucap Imam. Ia ingin membahas sesuatu dengan Anisa dan tak ingin Lusi mendengarnya.

"Iya," jawab Lusi. Ia cukup pengertian dan memberikan mereka waktu untuk bicara.

Saat Anisa sedang makan, Imam membiarkannya. Ia tak ingin selera makan Anisa berkurang jika ditemani. Ia tahu gadis itu pasti malu.

Namun, setelah Anisa selesai makan, Imam duduk di sampingnya. Saat itu Anisa baru saja hendak beranjak dari meja makan.

"Duduk dulu, Nis!" ucapnya.

"Ada apa, Pak?" tanya Anisa. Ia salah tingkah karena tidak tahu apa yang akan Imam bahas.

"Maaf sebelumnya. Apa aku boleh tahu bagaimana kronologi kejadian tadi?" tanya Imam, kikuk.

Imam untuk AnisaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang