☁️ ☁️ ☁
'Apa-apaan! Setiap hari kerjaannya nyuruh-nyuruh! Bukannya terimakasih udah dibantuin malah gengsi buat terima kasih!.. HUH!' grutu dalam hati gadis bertanduk itu. Berharap isi suara hatinya terdengar. Semakin melunjak laki-laki ini kalau belum dikasih paham.
'Memang sih, aku senang kalau disuruh terus.. jadi berguna. Tapi aku belum pernah mendengar ia memanggil dengan nama ku..' Ayla belum pernah mendengar Arthur memanggil namanya secara sadar.
Saat itu Arthur memang memanggil namanya, namun Ayla masih dalam keadaan belum tidak sadar atau tidak ingat.
Ayla mencari kayu bakar hingga ia sampai ke tengah hutan. Ia bimbang dengan pikirannya. Apa yang ada diisi kepala Arthur. Apa yang ia pikirkan?
Semenjak kejadian dipenginapan, Ayla sangat canggung untuk mengajak Arthur berbicara. Tetapi gadis bertanduk merah ini tidak menyerah dengan hal sepele itu.
"Arthur, I-ini,.. sudah cukup atau belum~?" Arthur melirik dengan tajam, lalu melihat-lihat kayu yang dibawa Ayla.
Jujur saja bikin deg-degan nih orang. STAKKKKK .... Arthur membuang dan mematahkan semua kayu yang Ayla bawa barusan. Ayla terkejut melihat kayu yang bersusah payah ia bawa kembali.
"Apa-apaan? Lu ini nyari kayu gak dilihat dulu? Bisa-bisanya kayu gini lu ambil. Bodoh" ucap hina dengan entengnya Arthur dengan perkataannya yang kasar.
Baginya perkataan itu biasa saja dan tidak bisa membedakan yang mana perkataan halus dan kasar. Apalagi lawan bicaranya adalah perempuan.
Ayla tetap tersenyum namun cahaya berada di matanya kosong. Seperti tidak ada bintang di dalamnya. "Ma-maaf, cuman itu aja yang Ayla dapat.." Tak disangka!
Arthur tidak sengaja membuang kayunya lagi yang hampir mengenai wajah Ayla. Sempat ia sedikit terkejut, tapi menurutnya gadis itu baik-baik saja. Bagian pipi Ayla terlihat ada sedikit goresan.
Gadis itu meraba pipinya sambil menahan air mata. Apa benar-benar ia manusia? Perlakuan kejam ini tidak ada bedanya dengan iblis.
Arthur melirik sedikit ke arah gadis bertanduk merah. Bohong kalau tidak khawatir. Ia mulai muncul perasaan aneh. Rasa sakit dibagian dalam dadanya, ingin menyentuh pipi lembut gadis itu.
Karena tiba-tiba menjadi sesak, ia memalingkan peraaan itu dan menyuruh Ayla kembali mencari kayu.
"Cari lagi kayu yang kuat",
".. Iya."
Gadis itu hanya merenung dan berfikir suatu hari ia ingin sendiri meninggalkan Arthur. Ia merasa dirinya beban, tidak berguna dan sebagai halangan untuk Arthur. Mungkin Arthur bahagia bebas tanpa Ayla?
KAMU SEDANG MEMBACA
Choose! Fairly Together!!
FantasyDua dunia yang berkebalikan dengan dunia asli, Dunia Mati dan Dunia Hidup. Gadis bertanduk merah didorong ke dalam jurang yang akan menuju Dunia Hidup. Sempat berpikir takdirnya sudah usai, namun dugaannya tidaklah benar. Ia diselamatkan oleh manusi...
