43. Deep Black

33 16 0
                                        


Setelah sudah melepas peluru ke langit, Arthur langsung bersembunyi dibalik semak-semak sambil mengecek pelacak di handphone-nya. Berhasil terdeteksi dalam handphone-nya dan tidak ada yang menyadarinya. 'Kenapa harus malem-malem begini?' suasananya terlalu hening. Bisa gawat kalau membuat keributan. 


Arthur melepaskan senjata udaranya di tempat yang berbeda agar helikopter Cattergirn segara meninggalkan wilayah Arthur. Ketika pilot lengah, laki-laki itu menembak tepat mengenai tangan seorang pilot. 


DOR!


Disisi lain malam yang biasanya tenang di kota London, terasa berisik karena beberapa pekerja khusus dan pengawal Cattergirn lembur mengerjakan perintah Dallen. Gadis kecil itu merasa bosan jika hanya mengamati tanpa ada penyerangan. 


Sebelum pengiriman peringatan, orang-orang yang berpihak Cattergirn melakukan rapat. Mereka setuju padanya agar diselesaikan lebih cepat, daripada menunggu serangan yang direncanakan tapi belum dilakukan. Namun, salah satu dari mereka berpendapat lain mengenai rencananya. 


Dallen dianggap terlalu ceroboh dan tidak sabar dalam kasus kali ini. Rapat itu dihadiri juga oleh kakaknya yang berpangkat lebih tinggi dibanding adiknya. Ia juga setuju opininya, terlalu gegabah, "Kita tidak akan tau apa yang sudah disiapkan Arthura Ree kalau asal menyerang." voting terbanyak berada di Dallen, sehingga tidak ada yang bisa menyelanya lagi. 


"Gimana pengiriman peringatan dadakannya?" Dallen bertanya pada bawahannya.

"Berhasil, tapi sepertinya lawan membalas balik dengan serangan udara tiba-tiba. Pilot terluka dibagian tangan.", "Apa helikopternya ada yang rusak?"


"Bagian samping dan kaca saja yang kena tembakan." Dallen langsung bernafas lega mendengarnya. "Syukurlah... tetap awasi helikopter itu sampai kembali lalu beri laporan." 

"Siap!"


Setelah mengecek semua bawahan yang ia minta, kakaknya tiba-tiba masuk ke ruang kerja. Ia melihat adiknya bekerja tanpa henti demi melancarkan rencana gegabahnya.


Dallen sampai tidak menyadari kakaknya sudah berdiri sedari tadi di depan pintu. "Kakak kok belum tidur? Udah malam begini harusnya tidur aja." bahkan tidak memerhatikan kalau perkataan barusan seharusnya untuk dirinya. "Kakak cuman mau lihat kerjamu, apa gak boleh?" Dallen mempersilahkan kakaknya duduk di sofa.


Kakaknya memerhatikan kertas bahkan piring dan gelas berantakan di ruang kerja ini. Lantai dan meja penuh tumpukan kertas, bahkan buku juga. Dallen yang tadi sedang fokus mengerjakan pekerjaannya menjadi tidak fokus kalau ada kakaknya. "Anu kak... aku gak bisa fokus kalau kakak disini." sambil menutupi kertas-kertas yang sedang dikerjakan dengan kedua tangan.

Choose! Fairly Together!!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang