39. Impossible Mind

33 15 0
                                        


Arthur merasa sudah lama berada di rumah lamanya, ia akan pulang bersama Ayla. Para pelayan bisa beraktivitas kembali dan diperbolehkan masuk bangunan empat. Sebelum pulang Arthur ingin melihat-lihat bangunan lama yang ia dulu tinggali yaitu bangunan tiga. Setelah memasuki bangunan tiga, banyak sekali yang perlu direnovasi. 


Bangunan tua yang tidak pernah diurus sekaligus pernah ada kekacauan di dalamnya. 'Berantakan banget...' Arthur sedikit bingung melihat mengapa  tidak dirawat. Laki-laki itu menyuruh beberapa pelayan untuk membantu membersihkan semua. Tugas itu dikerjakan sangat cepat oleh mereka.


"Apasih yang dipikirkan mereka. Banyak beling dan batu bata berserakan. Kalau begini mending pelayan yang beresin." ia menggerutu sambil ikut membersihkan. "Sepertinya tuan besar terlalu sibuk mengurusi bangunan ini tuan muda." sahut pelayan yang pernah menjadi pengasuhnya. 


Pekerjaan dan tugas orang tua yang tidak pernah habis sibuknya menjadi teringat masa lalu. Tidak pernah ada waktu untuk mereka bersama ketiga anaknya. Daripada mengingat yang mengecewakan, Arthur lebih baik berjalan-jalan. 


Tentu saja ke ruangan favoritnya adalah kamar kakak adik Ree. Ruangannya terlihat sama, buku, kasur, dinding, kecuali jendela yang dulu sering dibuka sekarang ditutup pakai kayu. 


Selagi melihat buku lamanya, ada sebuah foto jatuh tepat di kakinya. Saat ia memungut foto itu, Arthur melihat dirinya sedang bahagia saat mendapat penghargaan pertamanya. Dadanya terasa sesak melihat foto berisi dirinya bersama keluarganya. Pertama kalinya foto bersama tuan dan nyonya besar. 


Ia menyimpan di saku jas lalu menutup kembali pintu kamar. Tidak lama pelayan menemuinya di ruang tamu untuk mengecek semua yang harus diperbaiki. Pelayan itu melihat ada bekas goresan besar disekitar ruang tamu lalu bertanya untuk memperbaikinya.


 Arthur mengisyaratkan untuk berhenti berbicara dan membiarkan tidak diperbaiki. "Perbaiki aja isi perpustakaan dan rapihkan semua buku sesuai urutannya." tambahnya. Ia benar-benar tidak ingin memperbaiki dinding yang sedikit tergores itu. 


Masih ada banyak kenangan lain, namun Arthur tidak bisa tinggal disini lebih lama. Ia keluar dari bangunan itu dan kembali ke bangunan empat. 


Ayla sudah siap pulang diantar oleh Karo dan Leree sampai gerbang. "Terimakasih untuk semuanya!!!" gadis bertanduk merah itu memeluk mereka berdua dengan erat dan mengundang tawa Arthur karena kedua wajah adiknya tersipu malu. 


"Mukanya tegang amat lu berdua." ejek Arthur ke kedua adiknya.

Adik perempuannya menarik bajunya hingga laki-laki itu terhuyung. "Kakak gak mau peluk kita? Kita kan trio Ree yang belum pernah berpelukan.", "GAK-, gelii" bulu kuduknya merinding seketika.

Choose! Fairly Together!!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang