16. Fly Away

48 22 3
                                        




Mata gadis itu berbinar ketika melihat Karo datang menyelamatkannya. Apa tuhan mendengar permohonannya? Leree sungguh senang masih bisa melihat abangnya. Ia berpikir ini terakhir kalinya bisa melihat dunia dan keluarga. 


Karo nampak terlihat khawatir pada adiknya. Ia segera membawa Leree masuk ke dalam mobil, sedangkan dirinya mengurus makhluk itu. "ABANG?!" teriak Leree dalam mobil.


Ia menyuruh supir pribadinya mengunci dari dalam dan segera membawa adiknya. "Leree! Pergi ke rumah sakit duluan, biar abang yang urus orang gila ini" ucap Karo sambil meracik darah dan bahan lainnya.


Dibalik ketakutan Leree akan kematiannya, ia juga khawatir pada abangnya. Ia sungguh takut kalau Karo akan kalah melawannya. "T-ti.. Engga!! Leree takut! ABANG!"


Greppp..


Ia memaksa pak supir untuk segera membukakan pintunya. Berlari dan memeluk erat di belakangnya. Baju laki-laki itu menjadi kotor karena darah yang ada di tangan adiknya. Ia sungguh tidak tega melihatnya. 


Leree menarik kencang bajunya agar laki-laki itu tidak pergi. Tangis isak Leree makin menjadi-jadi. Badannya gemetaran, tubuh yang dipenuhi darah sekitar lengan dan kaki. Wajah yang sudah agak pucat.. Leree mendapatkan traumanya. "Udah aman. Maaf abang telat.. lain kali-",


"Jangan pergi!" Leree memeluk Karo dengan erat. Ia kira akan mati mengenaskan dengan 002. Setelah kejadian itu... Leree memutuskan untuk school private dan menutup semua akun sosmednya. 


Ia benar-benar mendapatkan trauma hebat dalam bersosialisasi dengan siapapun karena kejadian sahabatnya. 


Tidak hanya itu, kejadian ini bahkan tidak ada yang merasa kasihan padanya. Dibalik semua keangkuhan perbuatan Leree sampai tidak ada yang melawannya, ternyata mereka menunggu hari dimana keangkuhan itu runtuh. 


Kini ia hanya ingin mendekati Karo saja, tidak butuh teman ataupun lainnya. Traumanya itu membuat sifat Leree berubah drastis. 


Ia semakin manja pada abangnya. Tidak hanya itu, ia juga menyadari bahwa selama ini hanya merepotan Karo. Leree berusaha memberi perhatian supaya karo juga memerhatikannya kembali tanpa rasa tertekan.


Kesehariannya pun berubah. Leree kali ini ingin menjadi adik yang baik dan nurut pada abangnya. "Abang, sini Leree bantu! Leree bisa kok.."


"Tidak perlu." ucap Karo dengan cepat. Laki-laki itu sibuk mondar-mandir di berbagai ruangan. Tidak ada waktu untuknya menyahut ucapan adiknya. 


Jawaban dingin dari Karo membuat Leree semakin diam untuk meresponnya. Karo sedang sibuk mengurusi tugas yang diberikan ayahnya. 


Tidak mungkin ia meminta bantuan pada Leree yang tidak mengerti. Tugasnya sungguh berat dan melelahkan, sehingga Karo enggan sekali jika ada yang mengajak bicaranya. Ia akan menjadi dingin jika sudah merasa sangat lelah. 

Choose! Fairly Together!!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang