36. Debutante [2]

47 16 0
                                        


Matahari sudah tepat berada di atas. Waktunya Kiran berpamitan dengan mereka dan menunggu malam. Tetapi Arthur meminta Zeera untuk tetap berada di rumahnya. Ia sempat khawatir, namun perasaannya sedang campur aduk ketika bersamanya sekarang. 


Lagi-lagi bawahan gadis itu menatap Arthur. Tentu laki-laki itupun tidak ingin kalah membalasnya. Kiran langsung menarik tangan Zeera dan membawa pergi. "Le-lebih baik dia ikut pulang, bisa-bisa kalian melanjutkan kontes tatap mata sampai dunia hancur." ide buruk menyuruh Zeera menetap akan semakin parah. 


Ayla dari tadi mendengar Arthur mengeluh, langsung menghampiri dan bertanya. "Apa karena kedatangan mereka Arthur jadi kesal begini?" laki-laki itu menggeleng. Lalu apa yang dipusingkan? "Mungkin karena mata orang tadi merah sepertinya? Benarkan tuan Ree?" ucapan Hyuji benar. 


Gadis bertanduk merah tidak mengerti hubungan warna mata bisa membuat kepala berdenyut sakit. "Mata merah keturunan wilayah terlarang. Orang itu... pasti dibesarkan disana." Ayla hanya mengerti di dunia mati punya mata merah adalah ras iblis.


Hyuji mencari di internet lalu menemukan artikel mengenai insiden di wilayah terlarang. "Insidennya Red of Night. Ledakan secara tiba-tiba dan asap berbahaya muncul menyebar, sebagian besar DNA mereka berubah dan bagi yang mempunyai tubuh lemah akan mati. Efek sampingnya membuat mata menjadi berwarna merah dan setiap ada yang menatapnya akan terasa perih."


Arthur tidak mempermasalah latar belakangnya. Namun, tatapannya secara tidak langsung membuat efek samping pada orang yang ditatapnya. "Ugh..." denyut nadinya ikut terasa sakit. 


Bocah kadarluasa ini tidak yakin denyut nadi itu efek samping juga. "Kenapa urat² muncul gitu warna merah? Bukannya udah nepatin janji bantu?" ini karena perjanjian gelap. "Mungkin karena gw ngeluh terus kayaknya." Ini baru ngeluh, apalagi nolak. 


Laki-laki itu harus berhati-hati lagi dalam membalas apa yang diminta. Cara meringankan sakit itu dengan mengkompres tangannya dengan es batu. Rasanya seperti terkena air panas dan juga sesak. 'Perjanjian gila...' mengkompres seharian hingga malam pun tiba.


Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Choose! Fairly Together!!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang