Third World [3]

30 20 0
                                        



Setelah beberapa pesta kecil yang Reina Florencia adakan, mereka didatangi kabar yang buruk dua harinya setelahnya. Reina berkata kalau ada perang di dunia mati bagian para makhluk ras selain iblis disana. Keadaannya sedang kacau balau karena monster-monster berkeliaran. Ini juga ulah para pemburu karena merusak habitat. 


Reina tentu bisa mengalahkannya sendiri, namun Ayla ingin sekali ikut membantunya. "Ayla janji gak akan bikin beban! Jadi... bawa Ayla ke perang, Reina-sensei!!" ucap dengan wajah memelas. 


Wanita berambut putih itu melirik sedikit ke arah Natsumi. Ia ragu akan hal menyetujuinya, namun Natsumi hanya mengangguk untuk menuruti Ayla ikut. Kalau pilihannya begitu, Ayla dipercayakan untuk terjun perang bersamanya.


Natsumi membuka pintu portal menuju dunia mati. Ketika mereka sudah sampai, suasana sangat buruk. Rumah-rumah hancur, darah mengalir, kebakaran dimana-mana... Ayla sedih karena dunia mati hancur. "Karena ini tempatnya luas, kita berpencar." mereka mengangguk mengerti.


"GROAAAARRRR!!!"


Jumlah monster melebihi jumlah penduduk sekitar. Walaupun mereka tidak sekuat yang dibayangkan tapi, jumlahnya sangat banyak. Arthur melihat titik kelemahannya. Ia langsung berlari menaiki monster itu lalu mengeluarkan belatinya. SRAK!...


"Woi! Incar bagian atas belakang punggungnya!!" teriak Arthur.

"Hmm!! (Ya)",


Rasanya terasa sia-sia jika Arthur menyerang terus-menerus. 'Jumlahnya banyak banget. Untung aja gampang dibunuh' sembari melihat di atas tersisa monster yang harus dibunuh.


Ayla mencakar semua tubuh monster dengan cakarannya yang tajam. Mereka bertarung sangat lama hingga hampir malam tiada henti. Tentu sangat lelah karena tidak ada habis nya jumlah monster itu. 


'Brengs*k! Kapan selesainya?' mereka sudah kewalahan menghadapi situasi ini. Natsumi dengan bawahannya dan Reina belum juga selesai bagian mereka. 


Reina terlihat tidak membutuhkan bantuan. Sangat disayangkan ia tidak bisa membantu bagian selatan karena jumlah di wilayah yang ia pilih masih terlihat banyak. Tubuh laki-laki itu penuh darah monster, gadis itupun sama. 


Lelahnya diganti menjadi tangisan. "Gi-gimana ini Arthur...?! Mereka gak ada habis-habisnyaa!" mata gadis bertanduk merah bergelinang air mata. "Eh? EH?! Jangan nangis!" Arthur berusaha menenangkan, namun malah makin menjadi-jadi.


PYONG!


Choose! Fairly Together!!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang