Selamat membaca...
Sorry kalo ada typo...
--------------------------------------
ITU LAGI
Dengan jas putih di tangan kirinya dan tas berwarna hitam di tangan kanannya, Yuna menuruni tangga dengan langkah yang santai.
Penampilan Yuna pagi hari ini benar-benar terlihat sangat cantik dan juga fresh. Sekali lihat pun orang-orang bisa menebak jika Yuna adalah gadis yang sangat feminim.
Saat melewati ruang keluarga, Yuna bersisihan dengan seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya. Wanita itu adalah istri dari Ayahnya. Wanita tersebut bukanlah selingkuhan Ayahnya dulu, ini wanita yang berbeda.
"Kamu mau berangkat ke rumah sakit, nak?"
Mendengar suara lembut dari wanita paruh baya tersebut membuat Yuna menghentikan langkah dan menatap wanita paruh baya tersebut lembut. "Iya, ma."
Yeah, Mama. Yuna memanggil istri dari Ayahnya itu dengan sebutan mama. Tidak ada alasan yang membuat Yuna harus membenci wanita paruh baya tersebut. Dia wanita yang sangat baik dan terlihat begitu sangat menyayangi dirinya. Jadi, tidak salah jika Yuna bersikap baik dan lembut kepada wanita paruh baya tersebut. Lagi pula dia tidak ada sangkut pautnya dengan permasalahan dirinya dan kedua orang tuanya. Jadi, untuk apa dia membenci wanita paruh baya tersebut? Tidak ada gunanya.
"Mama siapin sarapan buat kamu ya? Kamu tunggu di sini" ucap Susan, mama tiri Yuna.
"Gak usah, ma. Nanti aku sarapan di rumah sakit aja. Lagi pula aku sekarang sudah terlambat" tolak Yuna halus.
"Mama bentar doang kok nyiapinnya" ucap mama Susan lagi.
"Gak usah, ma. Kalau gitu aku pergi dulu. Dah, ma."
Setelahnya Yuna langsung melangkahkan kakinya menuju mobil dan pergi ke rumah sakit.
*****
Baru saja Yuna menginjakkan kakinya di loby rumah sakit, teriakan nyaring dari seseorang yang sepertinya wali dari seorang pasien menyita perhatiannya dan juga beberapa orang di sana.
"LIHAT ANAK SAYA SEKARANG! APA KALIAN BEGITU TEGANYA MEMBIARKAN ANAK SAYA MERINTIH KESAKITAN DENGAN PISAU YANG TERTANCAP DI PERUTNYA HAH! APA ORANG MISKIN SEPERTI KAMI TIDAK PANTAS UNTUK DI OBATI DI SINI? APA SEMUANYA HARUS ADA UANG DULU BARU ANAK SAYA DI BERIKAN TINDAKAN? LALU APA GUNANYA DI DIRIKAN RUMAH SAKIT JIKA SETIAP ORANG YANG DALAM KEADAAN DARURAT TIDAK MEMILIKI UANG TIDAK BISA DI BERIKAN PERAWATAN? APA GUNANYA HAH!"
Yuna yang melihat pemandangan itu pun menjadi sangat geram dan langsung menghampiri beberapa petugas medis di sana.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN DI SANA HAH! CEPAT LAKUKAN TINDAKAN TERHADAP ANAK INI! SAYA YANG AKAN MEMBAYAR SEMUA BIAYANYA! PANGGIL DOKTER SAKTI SEKARANG JUGA!"
"KENAPA KALIAN HANYA DIAM SAJA? CEPAT TURUTI PERKATAAN SAYA SEKARANG!"
Teriakan dari Yuna itu langsung membuat beberapa petugas medis yang berada di sana dengan cepat bertindak.
"Ibu tenang saja, anak ibu sekarang akan di berikan perawatan."
Ucapan dari Yuna itu membuat ibu dari remaja laki-laki yang di tolong olehnya langsung menatap Yuna dengan mata yang berkaca-kaca dan tangan yang bergetar karena kejadian tadi. "Terima kasih. Terima kasih telah menolong anak saya."
"Sama-sama, ibu. Kalau begitu saya permisi."
*****
Sakti memandangi seorang remaja laki-laki yang tengah tertidur di atas brankar rumah sakit dengan tatapan yang sulit.
Sakti bingung, di mana laki-laki remaja ini mendapatkan sebuah tusukan pisau. Untung saja tusukan pisau tersebut tidak mengenai organ vitalnya.
"Bagaimana keadaannya?"
Sakti seketika terlonjak kaget ketika mendengar suara dari belakang tubuhnya.
"Bagaimana keadaannya, dokter Sakti?"
"Dia baik-baik saja, dokter Yuna. Untungnya luka tusukan itu tidak terlalu dalam dan tidak mengenai organ vitalnya."
Jawaban yang berasal dari Sakti itu membuat Yuna menghela nafasnya lega.
"Kamu kenal dengan remaja ini?" tanya Sakti.
"Enggak" jawab Yuna. "Oh iya, apa peraturan di rumah sakit ini berubah?" lanjutnya.
"Maksudnya?" bingung Sakti.
"Bukankah rumah sakit ini memiliki peraturan tentang mendahulukan keselamatan pasien terlebih dahulu di banding permasalahan lain, seperti uang? Dan bukankah rumah sakit ini juga memiliki sebuah yayasan yang akan membantu jika ada pasien atau wali pasien tidak mampu membayar biaya perawatan? Dokter Sakti pasti tau mengenai peraturan itu, apalagi dokter Sakti adalah anak pemilik rumah sakit ini" ucap Yuna sambil menatap lelaki di sampingnya.
"Iya, peraturan itu memang ada di rumah sakit ini. Dan peraturan itu masih berlaku sampai sekarang. Jadi, apa yang jadi permasalahannya?" sahut Sakti masih dengan rasa bingung.
"Remaja laki-laki ini hampir saja tidak mendapatkan perawatan karena walinya tidak mampu membayar biaya perawatannya. Seharusnya ketika remaja ini datang ke rumah sakit dengan kondisi darurat seperti tadi, dia harus langsung di berikan perawatan, terlepas dia belum membayar biaya administrasi atau tidak. Sampai di sini apa dokter Sakti mengerti permasalahannya?" Jelas Yuna.
"Jika dokter Sakti mengerti, saya meminta tolong untuk melakukan pengecekan. Pasti ada yang salah tentang ini semua" lanjutnya.
"Terima kasih dokter Yuna atas pemberitahuan ini. Saya akan melakukan seperti perkataan dokter Yuna" ucap Sakti tersenyum.
"Tapi ngomong-ngomong, bisa gak sih kalau kita gak usah terlaku formal kaya gini?"
Mendengar bisikan Sakti di telinganya langsung membuat Yuna menatap sekeliling mereka. Untungnya semua orang di sana terlihat sangat sibuk, sehingga tidak melihat tindakan yang di lakukan oleh Sakti tadi.
"Huft ..."
"Kenapa?"
"Masih nanya kenapa? Kita ada di rumah sakit Sakti, kalau ada yang lihat kelakuan kamu tadi bisa-bisa muncul gosip tentang kita berdua" pekik Yuna tertahan.
"Aku gak peduli" acuh Sakti.
Yuna yang kesal langsung melangkahkan kakinya. Namun, langkahnya tertahan karena tangannya di pegang oleh lelaki tersebut.
"Gimana soal ucapan ku di rooftop kemaren? Kamu belum menjawabnya."
"Sakti! Jangan ngomongin itu di sini!"
"Berarti di tempat lain boleh kan?" goda Sakti.
Yuna langsung melepaskan tangannya yang pegang oleh Sakti dan kemudian dengan cepat melangkahkan kakinya meninggalkan lelaki itu. Sial, Yuna benar-benar malu.
Sedangkan Sakti yang melihat kepergian Yuna itu hanya bisa tersenyum.
-bersambung-
KAMU SEDANG MEMBACA
MEET AGAIN (END)
ChickLitBertemu dengan mantan pacar sewaktu SMA? Itulah yang di alami oleh Yuna, seorang gadis yang berusia dua puluh sembilan tahun dan berprofesi sebagai dokter anak di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta. Yuna tidak pernah menyangka jika dia kembali...
