02 - Dream is the Key

75 14 6
                                        

Gelap

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gelap. Ujung sepatu pun tak terlihat. Langkahnya berat. Terseok-seok terhambat sesuatu, pasir atau yang lainnya dia tak tahu. Ke arah mana dia melangkah tak jelas tetapi dia masih tak berhenti. Memaksa mengangkat paha, melangkahkan kaki, berjuang untuk bisa kembali berlari lagi.

Napasnya berat, dadanya sesak. Pada akhirnya tubuhnya terjerembab. Lutut beradu dengan apa yang terasa dan terdengar seperti lumpur. Tangannya basah terendam hingga pergelangan tangan, menahan sepertiga beban tubuhnya sendiri.

"Air?"

Salah satu tangan ditarik dan dikibaskan, tetapi cairan yang melumuri mengalir lambat dan kental. Seperti mencengkeram.

"Aneh, sepertinya ini juga bukan ...."

"Bukan apa?"

Pertanyaan itu seketika menarik kesadarannya ke permukaan.

Ducky membuka mata hanya untuk melihat wajah asing berjarak kurang dari 35 cm dari hidungnya. Butuh sedikit waktu baginya untuk mencerna dan memastikan wajah lelaki asing berambut pirang itu bukanlah ancaman. Untung berhasil mencegah tangan yang tersembunyi di balik bantal untuk menarik pisau.

Dia harus lebih berhati-hati. Kebiasaan lamanya yang sudah dimaklumi para staf klinik, belum tentu dipahami oleh orang lain.

"Seperti katamu, dia agak lambat, Em!"

"Hush! Jangan di depan orangnya."

"Oh, jadi kalau di belakangnya boleh, mengata-ngatai?"

Suara kedua dikenali Ducky sebagai perempuan langsing berdandan kurang bahan yang menggodanya semalam. Lalu lelaki lumayan tampan yang belum kenalan sudah mencemooh orang ini, mungkin calon rekan kerjanya yang lain.

"Hayo! Jangan bengong melulu, cepat bangun dan bersiap-siap. Setelah sarapan, kita langsung berangkat."

Si Lumayan terus saja mengoceh sambil menggedor-gedor tepi ranjang di atas kepalanya. Dari derit dan gerungan malas yang terdengar, sepertinya ada seorang lagi tidur di ranjang atasnya Ducky.

"Oh. Sorry, Ben! Kau boleh tidur lagi. Nanti akan kubangunkan kalau kita akan berangkat."

Jadi orang bernama Ben itu boleh tidur lebih lama, sedangkan dia harus menerima cemoohan dan diburu-buru. Baiklah, resiko orang baru. Terima saja dulu.

"Hei, Lamban ... Basuh mukamu di situ lalu segera susul kami ke ruang makan!"

Wow, baru juga dia menerima keadaan. Kadar tak sopan si Lumayan sudah naik satu derajat.

"Di lantai atas?" tanya Ducky, masih dengan suara mengambang. Belum bisa menghilangkan kantuk.

"Bukan! Mana bisa kita bicara soal kerjaan di tempat umum. Ah, sudahlah ... kau cuci muka dulu lalu ikuti Em. Em, kau tunggui si Lamban selesai baru nyusul, OK?"

"Yaaa," jawab perempuan langsing berpakaian kurang bahan itu, lebih panjang dari yang diperlukan.

Ternyata dia dipanggil Em—mungkin dari Emily atau Emma, batin Ducky sebelum menemukan sebaskom air dan sehelai handuk sangat kecil dan tipis di nakas sebelah ranjangnya.

Ducky's Today MenuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang