11 - Stars can't Guide You

31 5 1
                                        


Hari keempat sejak meninggalkan oasis

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hari keempat sejak meninggalkan oasis. Perkiraan jarak dari koloni terdekat dari peta tua yang ditemukan di reruntuhan berhantu, mengatakan bahwa Ducky akan tiba kira-kira dua hari perjalanan ke arah Utara lagi. Untungnya sepanjang jalan cukup banyak ditemukan tanaman kaktus raksasa dan bebatuan untuk berlindung.

Menurut peta tua yang sama, dulu area situ adalah daerah pegunungan yang cukup subur. Gempa dan perubahan iklim membuat lapisan suburnya habis, tetapi masih tersisa jalur air walau tak deras di bawah tanah. Untuk sementara Ducky tidak akan kekurangan air dan makanan, tetapi jarak yang meleset dari perkiraan membuat persediaan bahan bakar ATV menipis lebih cepat.

"Angin gurun cukup kencang, ke arah Utara ... Apa kalau kupasangi layar, ATV-nya bakal bisa berjalan tanpa harus menggunakan bahan bakar, ya?"

Terbiasa melakukan perjalanan seorang diri membuat Ducky sesekali mengucapkan pikirannya. Sekadar supaya dia tak lupa cara menggerakkan lidah dan bibir untuk berbicara.

Dia sedang menaksir ukuran terpal yang biasa digunakan sebagai alas tidur atau tenda dan rangkanya, ketika gemuruh kencang terdengar mendekat. Pikirannya membeku seketika. Tak bisa memutuskan untuk berlindung ke kolong ATV atau naik ke atasnya.

Di tengah kebingungan, derap sepatu hewan datang dari arah lain lalu menerjang ke arah datangnya suara gemuruh tersebut. Lalu pemandangan menakjubkan dari seseorang bermantel gurun yang melompat turun dari kuda sambil menerjang ke arah kadal pasir raksasa terpampang di hadapan Ducky.

Dia sempat hanya bisa terpana melihat lelaki besar di hadapannya memukuli kepala serta bergulat dahsyat dengan kadal pasir raksasa itu. Hingga si lelaki besar berseru, "Bantu aku! Tebas ekornya!"

Dengan apa, pisaunya hanya berbilah 15 centimeter, mana mungkin bisa menebas ekor yang lebih tebal dari pahanya. Saat sedang bergerak meliuk-liuk liar begitu, pula.

Pergulatan mereka sudah membuat terpal dan rangkanya terlempar entah ke mana, dan kini mulai mendekati mesin ATV. Ducky belum bisa kehilangan benda itu. Walau enggan, dia pun meraih revolver dari kantongnya, melepas pengaman, membidik, lalu menekan picu dua kali.

Dua letusan menggema. Disertai suara raungan amarah kadal raksasa. Namun pergerakan mereka masih belum terlihat berhenti, jadi Ducky mengambil sedikit resiko, membidik kepala kadal tersebut. Satu letusan membahana. Kali ini si kadal berhenti, tak bergerak lagi.

"Aligator gurun," geram lelaki besar yang sedang menepis debu dan pasir dari mantelnya.

"Itu namamu?"

"Hewan ini!" gerutunya mengoreksi. "Bukan sekadar kadal, tapi mutasi dari aligator yang hidup di gurun," jelas lelaki besar itu lagi. Suaranya terdengar berat dan dalam sangat sesuai dengan alis tebal yang bertengger di atas mata sayu yang menyembul di celah kain sorban yang dia kenakan.

"Ah, ya ... rasanya aku pernah tahu tanaman obat yang bentuknya seperti moncong hewan ini." Ducky lupa nama tanaman yang pernah disebutkan oleh salah satu perawat di klinik Dokter Auer itu.

Ducky's Today MenuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang