Hari-hari si Bebek (nama panggilan sayang) bertahan hidup di luar Liberté. Tinggal di klinik sudah tak mungkin lagi karena dia sudah sembuh dari luka-lukanya. Perut lapar, uang tak ada, sedangkan tagihan pengobatan masih belum sepenuhnya tertutupi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hampir tiga dekade hidup, baru kali ini dia merasakan hal semacam itu.
Sungguh perasaan yang janggal, apabila tidak mengalaminya sendiri.
Dirinya yang dulu akan tertawa bila melihat apa saja yang dilakukan belakangan ini.
Dia akan berusaha melakukan apapun untuk melihat senyuman itu lagi.
Ekspresi wajah yang keras dan pandangan dingin itu seketika melembut, membuat terangnya lentera kalah cerah oleh rasa hangat yang memenuhi dada.
Melihat seulas bibir sang pujaan hati melengkung manis saja, serasa berdiang di dekat api unggun.
Berapa peluru pun akan dia tembakkan, demi untuk bisa kembali ke tempat pujaan hatinya berada dengan selamat.
Walau untuk mendapatkan sekotak peluru saja dia harus menggali dan mencari-cari di tengah panasnya gurun Direland.
Berapa ekor kadal pun akan dia tebas, walau hanya ada pisau saku mungil di tangan.
Untuk itu Ducky perlu mendapatkan kembali senjata terlebih dahulu, tak harus yang secanggih yang pernah kumiliki.
Berapa pasang kaki kodok raksasa dan kepiting gurun pun akan dikumpulkan, banyak yang mau memberi keping-keping perunggu untuk setiap kilogramnya.
Dengan pundi-pundi terisi penuh koin perunggu, dia bisa menebus pisau yang lebih baik dengan bilah yang lebih kuat dan lebih tajam.
Berapa jauh pun jarak gurun Direland yang kering dan ganas akan ditempuh, bukan hanya untuk mendapatkan uang tetapi juga menghindar masalah yang berkejaran.
Identitas lamanya memang menjadi masalah, tetapi apa yang telah dilakukan untuk menyambung hidup juga tak bisa dikatakan lurus dan bajik.
Berapa banyak hal-hal dalam benak dan pikiran yang terus mengejar dan menghantui, selama teringat pada suara merdu bahkan saat memberinya bentakan sekalipun, Ducky tidak keberatan menjalani hidupnya yang sekarang.
Tak apa bila dirinya masih belum bisa bersanding bersama sang pujaan hati, selama masih belum ada lelaki lain yang bisa menggamit lengan langsing dan halusnya.
Dia yang selalu dihardik karena hanya bisa mengekor dan membebek seumur hidupnya, kini tidak keberatan bila harus memaksakan melangkah lebih dulu, menginjak tanah terjamah. Menjelajah ke segala penjuru Direland.
Sungguh suatu perasaan baru yang tak pernah Ducky alami sebelumnya.
Bila seandainya di kedua bola mata indah itu tak terpantul bayangan dirinya sekalipun, mungkin dia akan tetap mencintainya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Catatan Penulis
Halo, semuanya! >w<)/
Setelah mencapai hari kesepuluh, akhirnya muncul juga tema yang paling sering bikin puyeng ini: FICTOGEMINO (inner scream).
Untuk membuat pecutan makin mantap, para admin memutuskan untuk menambah "keseruan" dengan persyaratan, menulis cerita dari hasil interpretasi screenshot emoticon ponsel.
> Lihat recent emoji kalian di keyboard. Interpretasikan tiga emoji paling bawah/paling akhir menjadi 2-5 kata (sebisa mungkin literal). > Buat fictogemino berdasarkan hasil interpretasi tersebut. Sertakan emoji dan interpretasinya di akhir cerita.
Karena itu saya sertakan hasil screenshot ini
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tiga Emoticon yang terakhir, saya interpretasikan sebagai wajah: Bucin - Tidak kelihatan - Senyum. Berdasarkan itu, satu kalimat yang terpikir adah:
Aku akan selalu mencintai walau tidak bisa selalu berada di dekatnya, batin si Bebek sembari mencoba tersenyum, menahan rindu.
Sementara timbul juga kalimat lain:
Walau sudah menunjukkan rasa sayang hingga sedemikian kuatnya, dia masih tak dianggap sebagai love interest di mata sang Pujaan Hati.