Hari-hari si Bebek (nama panggilan sayang) bertahan hidup di luar Liberté. Tinggal di klinik sudah tak mungkin lagi karena dia sudah sembuh dari luka-lukanya. Perut lapar, uang tak ada, sedangkan tagihan pengobatan masih belum sepenuhnya tertutupi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sosok yang berdiri di ambang pintu itu ramping dan jangkung, tetapi warna dan ikal rambutnya bagai pinang dibelah dua dengan Alfred. Dengan tunik berpotongan rapi dan kacamata oval bertengger di atas hidung, penampilannya makin mengukuhkan identitas lelaki paruh baya itu sebagai seorang cendikiawan.
"Umm ... Maaf, saya dengar ada lelaki bernama Alfredo di sini?" dia bertanya. Gerak-geriknya sedikit canggung dengan postur yang sedikit membungkuk, mungkin akibat terlalu sering bekerja di belakang meja. "Saya Auguste Gusteau ... ayah kandungnya, kami janji bertemu di sini."
"Orang yang Anda cari masih keluar," jawab Ducky yang masih memegang gagang pintu. "Tapi memintaku untuk mempersilakan Anda duduk menunggu di dalam, selagi dia membeli camilan," dia segera menambahkan, karena lawan bicaranya sudah membalikkan badan. Nyaris meninggalkan ambang pintu.
"Oh ... Umm." Lelaki itu melirik ragu pada kursi-kursi yang tersedia di sekitar meja, kemudian pada Ducky yang masih berdiri dengan gestur mempersilakan masuk. Mungkin matanya sempat berhenti sejenak di holder berisi revolver yang terlihat jelas karena Ducky tidak mengenakan jaketnya.
"Saya Ducky, disewa Alfred untuk mengantarkan dia kemari dan mengawal sampai dengan penjemputnya dari koloni asal tiba." Ducky menjelaskan tanpa perlu ditanya.
"Oh, begitu." Auguste terdengar lega. "Baiklah, permisi ...." gumam lelaki itu, melangkah masuk dengan hati-hati lalu duduk di salah satu kursi yang paling dekat dengan pintu.
Ducky melihat tamu Alfred itu melirik gelisah ketika dirinya akan menutup pintu. Akhirnya dia memutuskan untuk membiarkan pintu terbuka lebar.
"Minum?" tawar Ducky.
"Saya tidak haus," jawab lelaki itu cepat. Nyaris tak menunggu Ducky selesai mengucapkan huruf M.
Kliennya belum kembali, sementara tamu yang ditunggu sudah datang. Ducky mempertimbangkan apakah dia perlu ikut duduk dan menemani ayahnya Alfred bicara atau tetap berdiri di posisi siaga, ketika Auguste mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya.
"Buku cetak?" gumamnya tanpa sadar.
Mata Auguste membulat mendengar gumaman Ducky.
"Kau tahu?" serunya riang. "Aku membawanya sebagai hadiah untuk Alfredo. Buku tentang hewan gurun ini salah satu koleksi yang bisa kubawa dari Liberté. Sebetulnya ada buku lain tentang teknologi abad lalu, sayangnya Penjaga Ketertiban menyitanya di imigrasi. Kuharap, buku itu dikembalikan ke rumah orangtuaku."
Perlu usaha keras bagi Ducky untuk tidak menunjukkan reaksi apapun pada penjelasan Auguste.
"Kudengar Alfredo sekarang berminat pada barang-barang dan artefak abad lalu, sungguh sangat disayangkan."
"Buku tentang hewan gurun lebih bermanfaat secara praktis."
Komentar Ducky itu membuat Auguste terlihat berkurang rasa kecewanya. Berkat itu juga, sikapnya menjadi lebih rileks terhadap Ducky. Dia bahkan memulai obrolan. Memang tidak secerewet putranya, tetapi jauh lebih baik daripada saling diam seperti saat baru pertama tiba.