Hari-hari si Bebek (nama panggilan sayang) bertahan hidup di luar Liberté. Tinggal di klinik sudah tak mungkin lagi karena dia sudah sembuh dari luka-lukanya. Perut lapar, uang tak ada, sedangkan tagihan pengobatan masih belum sepenuhnya tertutupi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dia juga sudah meninggalkan perangkap sederhana di sekitar tempatnya berkemah, setidaknya cukup untuk memberi tahu keberadaan penyusup.
Ronald mengetuk-ngetuk telunjuk pada mejanya, membaca laporan di tablet elektronik.
Sudah sebulan terakhir dia mencari tahu tentang para mercenary yang dianggap kompeten. Dia mengumpulkan data dari rekan-rekan kerja mereka dan pegawai dari berbagai Biro Pekerjaan. Juga klien dan saksi mata. Dari beberapa puluh orang kandidat, tersisa setengah lusin. Ducky salah satunya.
Dibanding 5 orang yang lain, lelaki dengan rambut seperti ijuk berwarna kemerahan itu bukan yang terhebat. Malah track record-nya adalah yang terjelek karena sering kali memutuskan mundur dari misi yang diambil.
Force Majeure, begitu yang disebutkan oleh Ducky bila ditanya alasan membatalkan misi. Alasan yang mengesalkan, karena lelaki itu jadi terbebas dari kewajiban untuk menyelesaikan pekerjaan. Walau itu berarti pihak pemohon juga berhak membatalkan bayaran, bahkan meminta kembali uang muka—tergantung bagaimana isi kontrak kerjanya.
Hal yang bisa membuat klien lain batal menggunakan jasa seorang mercenary itu malah menjadi salah satu nilai lebih bagi Ronald.
Kandidat tertinggi awalnya ada 8 orang. Satu dari mereka tewas di tengah misi. Satu lagi terluka parah, butuh waktu beberapa bulan hingga sembuh. Sedangkan Ducky, dia selalu pulang dengan selamat—cukup sering terluka memang, tetapi hidup dan masih bisa pulih untuk kembali bekerja beberapa hari kemudian.
Ronald tak butuh daredevil yang merangsek maju dengan gegabah karena keserakahan atau sekadar pecandu adrenalin, lalu tewas sia-sia tanpa membawa hasil. Walau uangnya akan kembali, para mercenary macam begitu hanya membuang-buang waktunya. Dia jadi harus menyiapkan akomodasi dan macam-macam untuk kandidat berikutnya lagi.
"Lalu, apa lagi yang kau tunggu, langsung kontak saja orang-orang dari Biro Pekerjaan untuk mencari posisi terakhirnya," komentar sosok langsing dan cantik yang dengan seenaknya menganggap meja kerja Ronald sebagai tempat duduk. "Bukankah bosmu juga ingin masalah akses ke fasilitas masing-masing koloni itu segera selesai?" tambah si Cantik, meniup debu kuku yang baru saja selesai dikikir hingga membentuk ujung bulat yang cocok di jari lentiknya.
Ronald malah mengernyitkan kening dan memijit pelipisnya sendiri. Ada sesuatu dalam data Mercenary Ducky yang membuat kewaspadaannya terusik. Dia kembali membaca riwayat kerja Ducky dari berbagai Biro Pekerjaan.
Dari catatan yang bisa dikatakan belum terlalu lama, pekerjaan yang diambil oleh Ducky cukup beragam. Riwayat yang tercatat resmi baru 2-3 tahun terakhir. Lebih jauh dari itu, sama sekali tidak ditemukan.
Sebetulnya tak memiliki catatan bagi para Pelintas Direland bukan hal yang aneh. Di tengah keganasan Direland, dokumen tentang mereka bisa jadi tak sempat tercatat atau hilang karena berbagai sebab. Membuat banyak mercenary seperti tiba-tiba muncul begitu saja dari Direland dan bergabung dengan salah satu koloni atau Biro Pekerjaan.